Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Risiko Kanker Kolorektal akibat Alkohol Meningkat Seiring Waktu
ilustrasi segelas alkohol (pexels.com/MART PRODUCTION )

Intinya sih...

  • Konsumsi alkohol jangka panjang meningkatkan risiko kanker kolorektal, terutama kanker rektum, menurut temuan studi.

  • Studi ini melibatkan lebih dari 88 ribu orang dewasa di Amerika Serikat tanpa kanker saat awal penelitian.

  • Temuan studi: risiko meningkat seiring akumulasi konsumsi alkohol seumur hidup, tetapi menurun setelah berhenti minum.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Hubungan antara alkohol dan kanker kolorektal sebenarnya bukan hal. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya seberapa sering seseorang minum, melainkan berapa lama dan seberapa banyak alkohol dikonsumsi sepanjang hidup, yang berperan besar dalam membentuk risiko kanker.

Dipublikasikan pada 26 Januari dalam jurnal CANCER, para peneliti menganalisis data dari Prostate, Lung, Colorectal, and Ovarian (PLCO) Cancer Screening Trial milik National Cancer Institute (NCI). Seluruh partisipan—sebanyak 88.092 orang dewasa di Amerika Serikat (AS)—tidak memiliki kanker saat penelitian dimulai.

Selama masa pemantauan hingga 20 tahun, tercatat 1.679 kasus kanker kolorektal. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten, bahwa makin berat konsumsi alkohol seumur hidup, makin tinggi risikonya.

Orang yang dikategorikan sebagai peminum berat, yaitu yakni mereka yang rata-rata mengonsumsi 14 gelas alkohol atau lebih per minggu sepanjang hidupnya, memiliki risiko 25 persen lebih tinggi terkena kanker kolorektal dibanding mereka yang hampir tidak minum alkohol. Risiko ini melonjak tajam pada kanker rektum, dengan peningkatan hingga 95 persen.

Pola minum juga berperan. Mereka yang merupakan peminum berat sejak usia dewasa muda hingga tua memiliki risiko kanker kolorektal 91 persen lebih tinggi dibanding orang yang konsisten minum dalam jumlah ringan.

Risikonya bisa diturunkan dengan berhenti minum alkohol

ilustrasi menolak minuman beralkohol (freepik.com/freepik)

Kabar baiknya, studi ini menemukan bahwa mantan peminum alkohol tidak menunjukkan peningkatan risiko kanker kolorektal dibanding peminum ringan.

Bahkan, kelompok mantan peminum memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami adenoma kolorektal, yaitu tumor jinak di usus besar yang berpotensi berkembang menjadi kanker. Temuan ini mengisyaratkan bahwa berhenti minum alkohol bisa membantu menurunkan risiko, meski peneliti mengingatkan bahwa data pada kelompok ini masih terbatas.

Dari sisi biologis, ilmuwan menduga risiko kanker meningkat karena zat karsinogen yang terbentuk saat tubuh memetabolisme alkohol, atau akibat perubahan mikrobiota usus yang dipicu oleh alkohol. Meski begitu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan mekanisme pastinya.

Salah satu penulis senior studi ini, Erikka Loftfield, PhD, MPH, dari NCI, menyebut temuan ini sebagai sinyal positif. Ia menjelaskan bahwa riset ini termasuk yang pertama menelusuri dampak konsumsi alkohol sepanjang hidup terhadap adenoma dan kanker kolorektal.

“Walau data pada mantan peminum masih terbatas, tetapi kami melihat indikasi bahwa risikonya bisa kembali mendekati mereka yang minum dalam jumlah ringan,” ujarnya, dilansir SciTechDaily.

Kesimpulannya, risiko akibat alkohol memang tidak muncul dalam semalam, tetapi keputusan untuk berhenti bisa memberi tubuh kesempatan untuk memperbaiki dirinya.

Referensi

"Alcohol’s Hidden Cancer Risk Builds Over Time." SciTechDaily. Diakses Januari 2026.

Editorial Team