Jemaah haji meminum air zamzam yang diambil di Masjid Nabawi. (IDN Times/Sunariyah)
Menghindari minum bukan solusi. Yang lebih efektif adalah mengatur pola hidrasi.
Minum dalam jumlah kecil tetapi sering lebih disarankan daripada minum banyak sekaligus. Para ahli merekomendasikan menjaga asupan cairan secara konsisten, terutama saat berada di lingkungan panas, seperti saat berhaji.
Selain itu, perhatikan warna urine sebagai indikator sederhana. Urine yang jernih atau kuning muda menandakan hidrasi yang cukup.
Gunakan juga strategi praktis seperti memilih waktu minum sebelum dan sesudah aktivitas padat, serta memanfaatkan fasilitas toilet yang tersedia secara terencana.
Menahan haus mungkin terlihat sebagai solusi praktis di tengah keterbatasan fasilitas, tetapi dampaknya terhadap tubuh bisa jauh lebih serius dari yang dibayangkan. Dehidrasi bukan hanya soal rasa haus, melainkan gangguan sistemik yang dapat memengaruhi berbagai organ.
Dalam ibadah yang menuntut fisik seperti haji, menjaga hidrasi adalah bagian dari menjaga kesehatan dan keselamatan diri. Tubuh yang terhidrasi dengan baik akan lebih siap menjalankan setiap rangkaian ibadah dengan optimal.
Referensi
World Health Organization. “Hydration and Health.” Diakses Mei 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. “Heat Stress.” Diakses Mei 2026.
Carlos a. Roncal Jimenez et al., “Fructokinase Activity Mediates Dehydration-induced Renal Injury.” Kidney International 86, no. 2 (December 11, 2013): 294–302, https://doi.org/10.1038/ki.2013.492.
Armstrong, Lawrence E., et al. "Mild dehydration affects mood in healthy young women." The Journal of nutrition, 142(2), 382–388. https://doi.org/10.3945/jn.111.142000
American Heart Association. “Dehydration and Heart Health.” Diakses Mei 2026.