Ada beberapa penyebab sesak napas saat lari:
EIB adalah penyempitan saluran napas yang terjadi selama atau setelah aktivitas fisik. Kondisi ini bisa terjadi pada orang dengan atau tanpa riwayat asma. Gejalanya meliputi sesak, batuk, dada terasa berat, dan bunyi mengi (wheezing).
Mekanismenya berkaitan dengan penguapan cairan di saluran napas saat bernapas cepat, terutama saat udara dingin dan kering. Hal ini memicu respons inflamasi dan penyempitan bronkus. Studi menunjukkan EIB cukup umum pada atlet, bahkan pada mereka yang tidak memiliki diagnosis asma sebelumnya.
Gejala biasanya muncul beberapa menit setelah mulai berlari atau segera setelah selesai. Penggunaan inhaler bronkodilator sebelum olahraga sering direkomendasikan pada individu dengan diagnosis EIB. Jika gejala berulang, evaluasi fungsi paru seperti spirometri diperlukan untuk konfirmasi diagnosis.
Sesak napas juga bisa berasal dari respons psikologis. Serangan panik ditandai oleh rasa takut intens yang muncul tiba-tiba, disertai gejala fisik seperti jantung berdebar, napas cepat (hiperventilasi), pusing, dan rasa tercekik. Hiperventilasi dapat menurunkan kadar karbon dioksida darah, memicu sensasi sesak dan kesemutan.
Dalam konteks lari, peningkatan denyut jantung dan napas cepat bisa ditafsirkan keliru sebagai ancaman, terutama pada individu dengan gangguan kecemasan. Respons “fight or flight” memperburuk sensasi tersebut.
Berbeda dengan EIB, serangan panik jarang disertai mengi atau batuk. Gejala sering membaik dengan teknik pernapasan lambat dan terkontrol. Namun, diagnosis tetap harus menyingkirkan penyebab organik terlebih dahulu.
Sesak napas saat aktivitas fisik juga dapat menjadi gejala penyakit jantung. Penyakit arteri koroner dapat menyebabkan sesak, nyeri dada (angina), atau rasa seperti ditekan saat berolahraga.
Pada sebagian orang, terutama usia di atas 40 tahun atau dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi, sesak bisa menjadi satu-satunya gejala iskemia jantung. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa aktivitas fisik berat dapat memicu kejadian jantung akut pada individu berisiko, meski secara umum olahraga justru melindungi jantung.
Tanda bahaya meliputi nyeri dada menjalar ke lengan atau rahang, pusing hebat, keringat dingin, atau pingsan. Situasi ini memerlukan evaluasi medis segera.
Infeksi saluran napas atas maupun bawah dapat membuat kapasitas paru menurun sementara. Infeksi virus dapat meningkatkan respons inflamasi dan mempersempit saluran napas.
Anemia juga bisa menyebabkan sesak saat aktivitas. Kekurangan hemoglobin menurunkan kemampuan darah mengangkut oksigen. Anemia ditandai kelelahan, pucat, dan intoleransi terhadap aktivitas fisik.
Selain itu, kondisi seperti disfungsi pita suara (paradoxical vocal fold motion) dapat meniru asma, dengan sensasi sesak dan suara napas abnormal. Diagnosis memerlukan evaluasi spesialis karena penanganannya berbeda dari asma.