Acara "Bulan Kesadaran Hipertensi Paru 2025", di Jakarta, pada Kamis (27/11/2025) (IDN Times/Misrohatun)
YHPI menjadi rumah bagi para pasien hipertensi paru untuk saling menguatkan, mendapatkan informasi, serta dukungan. Pasalnya, banyak pasien tidak menyadari dirinya mengalami kondisi tersebut karena gejala yang samar dan sering kali disalahartikan.
“Banyak pasien setelah bertahun-tahun merasa tidak baik-baik saja, akhirnya baru mengetahui dirinya mengalami hipertensi paru. Mereka datang dalam keadaan lelah, bingung, dan sering kali salah diagnosis. Di YHPI, kami berupaya memastikan tak ada lagi pasien yang merasa sendirian. Di sini, para pasien menemukan rumah, tempat untuk berbagi, saling menguatkan, dan menumbuhkan keyakinan bahwa hidup tetap dapat diperjuangkan,” imbuh Ketua YHPI Arni Rismayanti.
Yusnita Dewi, seorang pasien hipertensi paru menceritakan bahwa dirinya sejak kecil sudah memiliki masalah pada paru-paru, kemudian sempat menjalani histerektomi, hingga akhirnya terkena COVID-19.
"Setelah itu, saya mulai merasa mudah lelah, mengalami pembengkakan, dan akhirnya didiagnosis gagal jantung dengan hipertensi paru primer. Saat dokter mengatakan saya harus menjalani terapi seumur hidup, rasanya dunia runtuh, seolah semua harapan saya hilang. Apalagi, tidak semua obat yang saya butuhkan tersedia di Indonesia. Sempat merasa putus asa, namun dukungan dari suami, keluarga, dan komunitas menjadi sumber energi utama yang membuat saya bertahan," Yusnita mengatakan.
Dia berharap para pasien hipertensi paru dapat memperoleh akses pengobatan yang lebih baik, serta mendapat dukungan moral dan sosial dari berbagai pihak agar tidak merasa berjuang sendiri, sehingga bisa memiliki satu napas lagi untuk melanjutkan hidup.