Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi: 39 Persen Sampel Udara RS Mengandung Jejak COVID-19
ilustrasi SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19 (flickr.com/NIAID)
  • Studi di Sydney menemukan 39 persen sampel udara rumah sakit mengandung RNA SARS-CoV-2, meski ventilasi sudah memenuhi standar pergantian udara yang baik.
  • IGD tercatat paling berisiko dengan 80 persen sampel positif berasal dari area tersebut, terutama ruang tunggu dan area perawatan akut.
  • Peneliti menegaskan ventilasi saja tidak cukup; perlindungan berlapis seperti filtrasi HEPA dan alat pelindung pernapasan tetap diperlukan saat penularan komunitas meningkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Intinya sih...

  • RNA SARS-CoV-2 ditemukan pada 39 persen sampel udara rumah sakit saat lonjakan kasus komunitas.

  • Deteksi lebih sering terjadi di IGD, termasuk ruang tunggu publik.

  • Ventilasi baik saja tidak cukup; filtrasi HEPA dan proteksi respirator tetap krusial.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rumah sakit sering dianggap sebagai ruang paling terkontrol dalam hal kebersihan dan ventilasi. Namun, studi terbaru dalam jurnal Respiratory Medicine menunjukkan kenyataan yang lebih rumit.

Tim peneliti dari Kirby Institute melakukan pengambilan sampel udara dan permukaan di instalasi gawat darurat (IGD) dan ICU sebuah rumah sakit metropolitan besar di Sydney, Australia, selama dua gelombang COVID-19 (November 2023–Juli 2024). Hasilnya: 39 persen (20 dari 51) sampel aerosol positif mengandung RNA (asam ribonukleat, molekul genetik yang mirip dengan DNA) SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.

Temuan ini muncul meskipun sistem ventilasi rumah sakit memenuhi standar pergantian udara yang baik. Artinya, sirkulasi udara saja belum tentu cukup saat aktivitas penularan di komunitas sedang meningkat.

1. IGD lebih berisiko dibanding ICU

Menariknya, deteksi RNA virus jauh lebih sering terjadi di IGD dibanding ICU. Dari seluruh sampel positif, 80 persen berasal dari IGD dan hanya 20 persen dari ICU.

Titik-titik dengan temuan tertinggi di IGD meliputi:

  • Area perawatan akut (9 dari 13 sampel positif).

  • Ruang tunggu publik (6 dari 12).

  • Area lorong (1 dari 1).

Di ICU, RNA terdeteksi di ruang istirahat staf, di dalam ruang tekanan negatif pasien COVID-19, serta tepat di luar ruangan tersebut.

Para peneliti menilai IGD memiliki risiko lebih tinggi karena sifatnya yang terbuka, lalu lintas pasien yang padat, serta adanya pasien dengan status infeksi yang belum terkonfirmasi. Ruang tunggu menjadi perhatian khusus karena pasien dan keluarga bisa berkumpul selama berjam-jam, dalam kondisi sirkulasi virus komunitas yang tinggi.

Temuan lain yang penting: empat sampel aerosol positif di IGD terdeteksi pada 1–7 November 2023—hingga satu minggu sebelum rumah sakit secara resmi menyatakan adanya wabah multi ruang. Ini menunjukkan bahwa pengujian aerosol berpotensi menjadi alat deteksi dini sebelum lonjakan kasus teridentifikasi secara klinis.

Namun perlu ditekankan, keberadaan RNA virus di udara tidak otomatis berarti virus tersebut infeksius. Meski demikian, temuan ini menunjukkan adanya paparan lingkungan yang nyata.

2. Ventilasi saja tidak cukup

ilustrasi suasana rumah sakit (pexels.com/Vidal Balielo Jr.)

Penelitian ini menyoroti bahwa selama gelombang epidemi komunitas meningkat, pergantian udara yang memadai belum tentu cukup untuk melindungi pasien dan tenaga kesehatan dari transmisi nosokomial (infeksi yang didapat di fasilitas kesehatan).

Kontaminasi permukaan relatif jarang ditemukan (2 dari 28 sampel, atau 7 persen), keduanya berasal dari kamar pasien ICU yang terinfeksi. Ini menguatkan bukti bahwa penularan aerosol memainkan peran penting dalam konteks ini.

Para peneliti merekomendasikan penggunaan filtrasi HEPA, penyediaan alat pelindung pernapasan bagi staf, serta pemanfaatan pembersih udara portabel, terutama di area dengan lalu lintas tinggi seperti IGD.

Dalam praktiknya, temuan ini menjadi pengingat bahwa perlindungan berlapis tetap diperlukan. Ventilasi baik adalah fondasi, tetapi bukan satu-satunya perlindungan. Saat virus beredar luas di komunitas, ruang publik—termasuk ruang tunggu rumah sakit—menjadi titik krusial dalam strategi pencegahan.

Bagi tenaga kesehatan, ini soal keselamatan kerja. Bagi pasien dan keluarga, ini soal kesadaran bahwa pengendalian infeksi adalah tanggung jawab bersama, terutama ketika angka kasus sedang naik.

Editorial Team