Di masa awal pandemi, banyak perempuan menunda atau menolak vaksin COVID-19 karena kekhawatiran akan kesuburan. Narasi ini menyebar cepat di media sosial, meski tidak pernah didukung bukti ilmiah yang kuat. Isu reproduksi memang sensitif karena menyentuh harapan, rencana hidup, dan kekhawatiran mendasar.
Sebuah studi besar dari Swedia, yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Medicine, mencoba menjawab kekhawatiran tersebut dengan data dunia nyata. Peneliti menganalisis rekam medis hampir 60.000 perempuan usia 18–45 tahun, memanfaatkan sistem kesehatan nasional Swedia yang mendokumentasikan vaksinasi, kehamilan, persalinan, dan keguguran secara rinci.
Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam angka kelahiran maupun keguguran antara perempuan yang menerima vaksin COVID-19 dan yang tidak. Temuan ini menambah bukti kuat bahwa vaksin tidak mengganggu maupun merusak kesuburan perempuan.
