Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi: Tetap Kerja saat Sakit Bisa Bikin Lebih Sering Absen
ilustrasi memaksakan diri bekerja saat sedang sakit (freepik.com/prostooleh)
  • Fenomena presenteeism (tetap bekerja saat sakit) ternyata lebih sering terjadi dibanding absen karena sakit.

  • Studi longitudinal menemukan pekerja yang tetap bekerja saat sakit memiliki risiko sekitar 30 persen lebih tinggi mengalami absen karena sakit di hari-hari mendatang.

  • Presenteeism dapat menjadi sinyal awal penurunan kesehatan atau kapasitas kerja, sehingga penting bagi perusahaan untuk memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Datang ke kantor meskipun sedang tidak enak badan sering dianggap sebagai tanda dedikasi atau tanggung jawab. Banyak pekerja merasa tetap bekerja adalah pilihan terbaik agar pekerjaan tidak tertunda, tidak membebani rekan kerja, atau menuruti tuntutan atasan.

Namun, kebiasaan ini justru bisa berdampak sebaliknya dalam jangka panjang. Alih-alih menjaga produktivitas, bekerja saat sakit dapat menjadi tanda bahwa kondisi kesehatan seseorang sedang menurun dan berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang lebih besar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pekerja yang tetap bekerja ketika sakit justru memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami absen karena penyakit di masa depan. Temuan ini membuka diskusi penting tentang budaya kerja dan bagaimana kesehatan karyawan seharusnya diprioritaskan.

1. Presenteeism lebih umum daripada absen karena sakit

Fenomena pekerja memaksakan diri untuk tetap bekerja meskipun kondisi kesehatannya sebenarnya tidak memungkinkan untuk bekerja secara optimal dikenal sebagai presenteeism.

Sebuah studi longitudinal yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health menganalisis data dari 4.180 pekerja bergaji di Korea Selatan yang diikuti selama periode 2019 hingga 2022 melalui Korean Health Panel Study. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara bekerja saat sakit dan risiko absen karena sakit di masa depan.

Hasilnya menunjukkan bahwa presenteeism terjadi lebih sering dibandingkan dengan absensi karena sakit. Dalam periode penelitian, sekitar 12,7 persen hingga 25 persen pekerja melaporkan tetap bekerja saat sakit, sementara 8,6 persen hingga 12,3 persen melaporkan absen karena sakit.

Angka ini menggambarkan bahwa banyak pekerja memilih tetap masuk kerja meskipun mereka sebetulnya sangat butuh istirahat tanpa gangguan.

2. Kerja saat sakit berkaitan dengan risiko absen di hari-hari mendatang

ilustrasi memaksakan diri bekerja di kantor saat sedang sakit (pexels.com/Resume Genius)

Penelitian baru ini juga menemukan hubungan penting antara presenteeism dan absensi di masa depan.

Pekerja yang sebelumnya melaporkan tetap bekerja saat sakit memiliki sekitar 30 persen risiko lebih tinggi mengalami absensi karena sakit di hari-hari mendatang dibandingkan dengan pekerja yang tidak melakukan presenteeism.

Temuan ini menunjukkan bahwa bekerja saat sakit bukan sekadar keputusan sesaat, tetapi bisa menjadi indikator awal adanya masalah kesehatan yang lebih serius.

Menariknya, penelitian juga menemukan bahwa riwayat absen karena sakit merupakan prediktor yang bahkan lebih kuat. Pekerja yang sebelumnya pernah mengambil cuti sakit memiliki kemungkinan sekitar 3,5 kali lebih besar untuk kembali absen pada periode berikutnya.

3. Presenteeism bisa menandakan kesehatan menurun

Untuk memahami hubungan antara dua perilaku tersebut, para peneliti menggunakan model analisis dua arah. Tujuannya adalah melihat apakah bekerja saat sakit menyebabkan absensi di masa depan, atau sebaliknya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa presenteeism memprediksi absensi di masa depan, tetapi absensi tidak memprediksi seseorang akan bekerja saat sakit di kemudian hari.

Hal ini mengindikasikan bahwa presenteeism mungkin berfungsi sebagai sinyal awal penurunan kesehatan atau kapasitas kerja. Ketika seseorang memaksakan diri bekerja saat sakit, kondisi kesehatan mereka mungkin belum pulih sepenuhnya atau bahkan sedang memburuk.

Dalam skala yang lebih luas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh perusahaan. Peneliti mencatat bahwa peningkatan risiko absensi sebesar 30 persen pada populasi pekerja yang besar dapat menyebabkan kerugian produktivitas, peningkatan biaya kesehatan, serta tantangan keberlanjutan tenaga kerja.

4. Budaya kerja dan kebijakan perusahaan berperan penting

ilustrasi beristirahat di rumah saat sedang sakit (freepik.com/gpointstudio)

Studi ini juga menyoroti faktor struktural dan budaya yang memengaruhi keputusan seorang pekerja untuk tetap bekerja saat sakit.

Di Korea Selatan, misalnya, tidak semua pekerja memiliki sistem cuti sakit berbayar yang kuat. Selain itu, norma budaya kerja juga sering mendorong karyawan untuk tetap hadir meskipun sedang sakit.

Para peneliti menekankan bahwa presenteeism merupakan faktor yang relatif dapat dimodifikasi melalui kebijakan perusahaan. Beberapa pendekatan yang dapat membantu mengurangi fenomena ini antara lain:

  • Kebijakan cuti sakit yang memadai.

  • Manajemen beban kerja yang lebih realistis.

  • Budaya kerja yang tidak menghukum karyawan karena mengambil waktu untuk pulih.

Pendekatan semacam ini tidak hanya melindungi kesehatan pekerja, tetapi juga dapat membantu menjaga produktivitas jangka panjang.

Memaksakan diri tetap bekerja saat sakit sering dianggap sebagai bentuk loyalitas terhadap pekerjaan. Padahal, ini bisa menjadi tanda awal penurunan kesehatan dan bahkan meningkatkan risiko absen karena sakit di masa depan.

Memperhatikan kesehatan karyawan seharusnya menjadi bagian penting dari strategi perusahaan Memberi ruang bagi pekerja untuk beristirahat ketika sakit bukan cuma soal empati, tetapi juga langkah preventif untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan karyawan dalam jangka panjang.

Referensi

Yoonjung Ji, Wonhee Baek, and Ari Min, “Can Presenteeism Predict Future Absenteeism? Evidence From the Korean Health Panel Study,” BMC Public Health, March 9, 2026, https://doi.org/10.1186/s12889-026-26944-x.

"Study links working while sick to higher risk of future absence." CIDRAP. Diakses Maret 2026.

Editorial Team