ilustrasi beristirahat di rumah saat sedang sakit (freepik.com/gpointstudio)
Studi ini juga menyoroti faktor struktural dan budaya yang memengaruhi keputusan seorang pekerja untuk tetap bekerja saat sakit.
Di Korea Selatan, misalnya, tidak semua pekerja memiliki sistem cuti sakit berbayar yang kuat. Selain itu, norma budaya kerja juga sering mendorong karyawan untuk tetap hadir meskipun sedang sakit.
Para peneliti menekankan bahwa presenteeism merupakan faktor yang relatif dapat dimodifikasi melalui kebijakan perusahaan. Beberapa pendekatan yang dapat membantu mengurangi fenomena ini antara lain:
Kebijakan cuti sakit yang memadai.
Manajemen beban kerja yang lebih realistis.
Budaya kerja yang tidak menghukum karyawan karena mengambil waktu untuk pulih.
Pendekatan semacam ini tidak hanya melindungi kesehatan pekerja, tetapi juga dapat membantu menjaga produktivitas jangka panjang.
Memaksakan diri tetap bekerja saat sakit sering dianggap sebagai bentuk loyalitas terhadap pekerjaan. Padahal, ini bisa menjadi tanda awal penurunan kesehatan dan bahkan meningkatkan risiko absen karena sakit di masa depan.
Memperhatikan kesehatan karyawan seharusnya menjadi bagian penting dari strategi perusahaan Memberi ruang bagi pekerja untuk beristirahat ketika sakit bukan cuma soal empati, tetapi juga langkah preventif untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan karyawan dalam jangka panjang.
Referensi
Yoonjung Ji, Wonhee Baek, and Ari Min, “Can Presenteeism Predict Future Absenteeism? Evidence From the Korean Health Panel Study,” BMC Public Health, March 9, 2026, https://doi.org/10.1186/s12889-026-26944-x.
"Study links working while sick to higher risk of future absence." CIDRAP. Diakses Maret 2026.