Setiap 15 Februari, Indonesia terus diingatkan untuk menjadikan kanker anak sebagai prioritas karena masih bisa sembuh jika terdeteksi dan ditangani dini. Meski begitu, Dr. Teny mengatakan bahwa Indonesia memang masih kewalahan dengan kanker anak. Pertama, masih sedikit dokter konsultan kanker anak.
Berbagi data, Dr. Teny memetakan hanya ada 106 (62 konsultan dan 44 non konsultan) tenaga yang tersebar di 25 provinsi. Sayangnya, kebanyakan masih berfokus di daerah Indonesia bagian barat, tidak merata ke bagian tengah dan timur.
"Pemerintah harus membantu dengan beasiswa untuk para calon dokter, tetapi distribusinya masih tidak sesuai harapan karena memang akhirnya fasilitas untuk diagnosis dan terapi juga belum memadai," ujar Dr. Teny.
Lalu, pusat transplantasi juga menjadi halangan. Salah satu potensi perawatan untuk leukemia adalah cangkok sumsum tulang belakang. Namun, Dr. Teny mengatakan bahwa selain menunggu pasien sembuh (yang terhalang oleh minimnya pengobatan di Indonesia), masih belum ada pusat transplantasi.
"Selama obatnya belum tersedia, sulit juga," ucap Dr. Teny.
ilustrasi pasien kanker anak (freepik.com/freepik)
Dalam webinar ini, Dr. Teny memaparkan data yang ditemukan oleh IDAI yang melibatkan 12 rumah sakit besar di Indonesia dan SRIKANDI. Akan tetapi, Dr. Teny mengatakan bahwa rumah sakit Indonesia lainnya belum secara rutin terdata.
"Misalnya, ada sekitar 10 juta [pasien kanker anak di Indonesia], yang terdeteksi kanker belum ada data yang valid."
Lalu, fasilitas diagnosis dan obat-obatan yang rutin dipakai untuk pasien kanker anak di luar negeri ternyata belum masuk ke Indonesia atau tidak di-cover oleh asuransi kesehatan karena berbagai pertimbangan. Oleh sebab itu, Dr. Teny berharap Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kemenkes bisa mengadakannya.
"WHO mengatakan bahwa anak-anak harus mendapatkan pengobatan. Bisa dideteksi dini, kesempatan sembuh harusnya lebih besar, dan obatnya tidak mahal seperti pengobatan dewasa," Dr. Teny menekankan.