Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Tidur Larut Seminggu sebelum Puasa Bikin Badan Lemas?
ilustrasi tidur (pexels.com/cottonbro studio)

  • Tidur larut sebelum puasa memengaruhi cadangan energi tubuh

  • Kurang tidur mengganggu kerja hormon yang mengatur stamina

  • Tidur larut membuat tubuh sulit beradaptasi dengan jadwal sahur

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tips persiapan puasa sering kali hanya fokus pada menu sahur dan buka, padahal kondisi tubuh sebelum hari pertama puasa juga sangat dipengaruhi oleh kebiasaan tidur. Banyak orang sengaja tidur larut seminggu sebelum puasa dengan alasan ingin membiasakan diri, tanpa benar-benar memahami dampaknya bagi kesehatan.

Padahal, tubuh bekerja dengan sistem biologis yang tidak bisa dipaksa berubah secara mendadak, lho. Tidur yang tidak teratur menjelang puasa berpotensi membuat badan terasa lebih lemas saat hari-hari awal berpuasa. Lantas, kenapa tidur larut seminggu sebelum puasa bikin badan lemas? Berikut penjelasannya.

1. Tidur larut sebelum puasa memengaruhi cadangan energi tubuh

ilustrasi tidur (pexels.com/Julian Jagtenberg)

Tidur larut dalam beberapa hari berturut-turut membuat waktu istirahat tubuh terpotong. Sehingga proses pemulihan energi tidak berjalan secara maksimal. Saat tidur, tubuh melakukan perbaikan sel dan mengisi ulang energi yang digunakan sepanjang hari.

Jika waktu tidur kurang, proses ini menjadi tidak optimal dan cadangan energi berkurang secara perlahan. Akibatnya, ketika puasa dimulai dan asupan energi dibatasi oleh waktu makan, tubuh sudah berada dalam kondisi “kurang modal”. Rasa lemas yang muncul bukan semata-mata karena tidak makan seharian, tetapi karena tubuh memulai puasa dengan kondisi yang sudah kelelahan.

2. Kurang tidur mengganggu kerja hormon yang mengatur stamina

ilustrasi kurang tidur (pexels.com/cottonbro studio)

Tidur berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon yang berkaitan dengan energi dan rasa segar. Saat waktu tidur terganggu, produksi hormon yang membantu tubuh tetap bertenaga juga ikut terpengaruh. Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi akan muncul saat tubuh dituntut beradaptasi dengan puasa.

Dalam kondisi puasa, tubuh mengandalkan sistem internal untuk menjaga stamina tetap stabil. Jika hormon-hormon tersebut sudah terganggu akibat tidur larut sebelumnya, tubuh lebih cepat merasa lemah dan sulit fokus. Hal ini sering disalahartikan sebagai efek puasa, padahal akarnya sudah muncul sejak sebelum puasa dimulai.

3. Tidur larut membuat tubuh sulit beradaptasi dengan jadwal sahur

ilustrasi tidur (pexels.com/Miriam Alonso)

Salah satu tantangan awal puasa adalah menyesuaikan waktu bangun untuk sahur. Jika seminggu sebelumnya terbiasa tidur sangat larut, tubuh akan kesulitan untuk bangun dalam kondisi segar saat sahur. Waktu tidur yang terpotong antara malam dan sahur membuat kualitas istirahat semakin menurun.

Kondisi ini menyebabkan tubuh berubah, siang hari akan penuh dengan rasa kantuk dan lemas. Padahal, sahur seharusnya menjadi momen tubuh mendapatkan energi awal untuk berpuasa. Tips persiapan puasa yang realistis justru menyarankan penyesuaian jam tidur secara bertahap agar tubuh tidak kaget saat harus bangun lebih pagi.

4. Kurang tidur memengaruhi daya tahan tubuh saat puasa

ilustrasi insomnia (pexels.com/cottonbro studio)

Tidur yang cukup berperan besar dalam menjaga agar sistem imun tetap bekerja dengan baik. Ketika waktu tidur berkurang, daya tahan tubuh ikut menurun dan tubuh lebih mudah merasa tidak enak badan. Saat puasa, kondisi ini bisa terasa lebih jelas karena tubuh juga menyesuaikan diri dengan perubahan waktu makan.

Badan yang terasa lemas, pusing ringan, atau tidak segar sering kali berkaitan dengan kondisi tubuh yang belum pulih sepenuhnya. Ini bukan soal kuat atau tidak kuat berpuasa, melainkan kesiapan fisik yang kurang optimal. Oleh karena itu, tidur cukup menjadi bagian penting dari persiapan puasa yang sering diabaikan.

5. Tidur teratur membantu puasa terasa lebih ringan

ilustrasi tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Membiasakan tidur lebih teratur sebelum puasa membantu tubuh memasuki bulan puasa dalam kondisi yang lebih siap. Waktu istirahat yang cukup membuat tubuh memiliki cadangan energi dan daya tahan yang lebih baik. Adaptasi terhadap sahur dan puasa pun terasa lebih ringan.

Alih-alih sengaja tidur larut, penyesuaian jam tidur secara perlahan justru lebih masuk akal untuk kesehatan. Dengan tubuh yang cukup istirahat, rasa lemas di awal puasa bisa diminimalkan. Tips persiapan puasa yang sederhana ini sering terlupakan, padahal dampaknya cukup besar bagi kenyamanan berpuasa.

Tidur larut seminggu sebelum puasa bikin badan lemas, walau memang tidak selalu langsung terasa dampaknya. Rasa lemas sering kali berakar dari kondisi tubuh yang sudah kurang istirahat sejak awal. Jika persiapan puasa tidak hanya soal makanan, tetapi juga soal tidur, apakah kebiasaan tidur saat ini sudah cukup mendukung tubuh untuk menjalani puasa dengan lebih nyaman?

Referensi:

"Recommended time, duration and type of exercise during fasting month" UNESA. Diakses pada Februari 2026

"The Effect of Fasting on Sleeping: Tips on Sleeping Well for a Better Ramadan" Almadina. Diakses pada Februari 2026

"5 Important Things to Do to Keep Your Body Fit During Fasting" EMC. Diakses pada Februari 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team