Puasa Ramadan sering menjadi tantangan sendiri bagi orang dengan gangguan lambung. Gastritis, atau peradangan pada mukosa lambung, dapat menimbulkan gejala seperti nyeri ulu hati, mual, perut kembung, hingga sensasi terbakar di dada.
Gastritis bisa bersifat akut maupun kronis, dengan penyebab yang beragam, mulai dari infeksi Helicobacter pylori, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), konsumsi alkohol, hingga stres berat.
Selama puasa, lambung memang tidak menerima asupan makanan selama belasan jam. Namun, penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadan pada sebagian besar individu dengan gangguan lambung yang stabil tidak selalu memperburuk kondisi, asalkan pola makan saat sahur dan berbuka dijaga dengan baik dan terapi medis tetap dijalankan.
Kuncinya ada pada perencanaan. Pasien gastritis perlu memahami jenis makanan yang aman, waktu makan yang tepat, serta kapan harus menghentikan puasa demi kesehatan. Berikut ini panduannya.
