Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Aktor yang Sampai Menggugat Filmnya Sendiri, Kenapa Bisa?
film Olympus Has Fallen (dok. FilmDistrict/Olympus Has Fallen)
  • Beberapa aktor ternama seperti Bruce Willis, Sylvester Stallone, dan Scarlett Johansson pernah menggugat film mereka sendiri karena masalah cedera, kontrak, hingga pembagian keuntungan yang dianggap tidak adil.
  • Gerard Butler dan Tom Hanks juga terlibat sengketa hukum terkait pendapatan film sukses mereka, menunjukkan bahwa konflik finansial bisa muncul bahkan setelah proyek meraih keuntungan besar.
  • Kasus Blake Lively di It Ends With Us menyoroti isu perlakuan tidak menyenangkan di lokasi syuting, memperlihatkan bahwa perselisihan di industri film tak hanya soal uang tapi juga etika kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di balik gemerlap dunia Hollywood, ternyata tidak semua proyek film berjalan mulus seperti yang terlihat di layar. Kadang, konflik justru muncul setelah syuting selesai bahkan sampai ke meja hijau. Mulai dari masalah kontrak, pembagian keuntungan, sampai kondisi kerja yang ekstrem, semua bisa jadi pemicu perselisihan antara aktor dan studio.

Yang lebih mengejutkan, beberapa aktor besar bahkan sampai menggugat film yang mereka bintangi sendiri. Ini bukan sekadar drama biasa, tapi bukti bahwa industri film juga penuh intrik dan ketidakadilan. Nah, berikut ini enam aktor yang pernah mengambil langkah ekstrem tersebut!

1. Bruce Willis – Tears of the Sun (2003)

Bruce Willis di film Tears of the Sun (dok. Columbia Pictures/Tears of the Sun)

Sebagai salah satu ikon film aksi sejak Die Hard (1988), Bruce Willis sudah terbiasa dengan adegan berbahaya. Namun saat membintangi Tears of the Sun, ia menghadapi tantangan fisik yang jauh lebih berat dari biasanya. Film perang ini menuntut para aktor menjalani latihan militer intens dan melakukan banyak adegan tanpa bantuan stuntman.

Akibatnya, Willis mengalami beberapa cedera serius selama produksi. Ia merasa kondisi kerja tersebut terlalu berisiko dan akhirnya menggugat karena dampak fisik yang ia alami. Ironisnya, film ini justru jadi salah satu karya terbaiknya sebelum kariernya mulai menurun akibat masalah kesehatan.

2. Sylvester Stallone – Demolition Man (1993)

Sylvester Stallone di film Demolition Man (dok. Warner Bros/Demolition Man)

Nama Sylvester Stallone identik dengan karakter legendaris seperti Rocky dan Rambo. Namun, di balik kesuksesan Demolition Man, ternyata ada konflik soal uang yang cukup besar. Film ini memang sempat dianggap aneh, tapi lama-lama justru jadi cult classic yang disukai banyak orang.

Bertahun-tahun setelah rilis, Stallone menggugat studio karena merasa tidak mendapatkan bagian keuntungan yang sesuai dengan kontraknya. Ia mengklaim ada pendapatan tambahan dari film tersebut yang tidak dibagikan kepadanya. Kasus ini menunjukkan bahwa masalah finansial bisa muncul bahkan setelah film sukses besar.

3. Scarlett Johansson – Black Widow (2021)

Scarlett Johansson di film Black Widow (dok. Marvel/Black Widow)

Scarlett Johansson sudah lama menjadi bagian penting dari Marvel Cinematic Universe sebagai Natasha Romanoff. Ketika akhirnya mendapat film solo Black Widow, ekspektasi tentu sangat tinggi. Namun, pandemi mengubah strategi rilis film ini secara drastis.

Disney merilis film ini secara bersamaan di bioskop dan platform streaming yang berdampak pada pendapatan box office. Johansson merasa keputusan ini melanggar kontraknya yang berbasis keuntungan dari penayangan di bioskop. Ia pun menggugat Disney dan kasus ini sempat jadi sorotan besar soal masa depan distribusi film di era streaming.

4. Gerard Butler – Olympus Has Fallen (2013)

Gerard Butler di film Olympus Has Fallen (dok. FilmDistrict/Olympus Has Fallen)

Film Olympus Has Fallen sukses membuka jalan bagi franchise aksi baru dengan Gerard Butler sebagai bintang utama. Ceritanya tentang serangan teroris ke Gedung Putih, cukup menarik perhatian penonton dan menghasilkan keuntungan besar.

Namun di balik kesuksesan itu, Butler merasa tidak menerima bagian keuntungan yang seharusnya ia dapatkan. Ia mengklaim kehilangan lebih dari 10 juta dolar dan akhirnya menggugat pihak produksi. Konflik ini bahkan sempat menghambat kelanjutan franchise tersebut, meskipun film ketiganya tetap sempat dirilis.

5. Blake Lively – It Ends With Us (2024)

Blake Lively di film It Ends With Us (dok. Sony Pictures/It Ends With Us)

Adaptasi novel populer ini sebenarnya sukses secara komersial, tapi justru penuh drama di balik layar. Blake Lively dan sutradara sekaligus lawan mainnya, Justin Baldoni, terlibat konflik serius setelah proses produksi selesai.

Lively menggugat karena merasa mengalami perlakuan tidak menyenangkan di lokasi syuting, termasuk tuduhan kampanye negatif terhadap dirinya. Di sisi lain, Baldoni juga melayangkan gugatan balik. Perseteruan ini membuat filmnya semakin kontroversial, apalagi karena tema ceritanya yang sensitif tentang kekerasan dalam rumah tangga.

6. Tom Hanks – My Big Fat Greek Wedding (2002)

Nia Vardalos dan John Corbett dalam film My Big Fat Greek Wedding 3. (dok. Universal Pictures/My Big Fat Greek Wedding 3)

Meski tidak tampil sebagai aktor, Tom Hanks berperan penting sebagai produser film ini bersama istrinya. My Big Fat Greek Wedding awalnya dianggap film kecil, tapi justru meledak di pasaran dan jadi salah satu komedi romantis paling sukses sepanjang masa.

Kesuksesan itu ternyata memicu masalah pembagian keuntungan. Hanks dan tim kreatif lainnya menggugat karena merasa tidak mendapatkan bagian yang adil dari pendapatan film. Kasus ini menunjukkan bahwa bahkan proyek kecil yang sukses besar pun bisa berujung konflik hukum.

Dari kasus-kasus di atas, terlihat bahwa dunia perfilman tidak selalu berjalan mulus, bahkan bagi aktor papan atas sekalipun. Menurut kamu, dari semua kasus ini, mana yang paling mengejutkan dan bikin kamu berpikir ulang soal industri film?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team