Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Dendi Reynando Produseri Pelangi di Mars, Kurangnya Film Anak
Dendi Reynando, produser film Pelangi di Mars dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/2/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

  • Dendi Reynando memproduseri film Pelangi di Mars karena menyoroti minimnya film lokal ramah anak dan keluarga di bioskop Indonesia

  • Sutradara Upie Guava juga melihat rendahnya literasi anak serta kekeliruan pandangan tentang kedewasaan, mendorongnya menghadirkan kisah inspiratif lewat film ini.

  • Proses produksi berlangsung lima tahun, termasuk tiga tahun riset sampai pembangunan teknologi CGI dan animasi serta melibatkan sekitar 300 animator untuk menyelesaikan film tersebut.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sutradara Upie Guava bersama Dendi Reynando yang duduk di bangku produser telah menggarap film Indonesia terbaru berjudul Pelangi di Mars. Film ini dijadwalkan akan tayang pada momen Lebaran 2026 mendatang.

Dendi sendiri memiliki alasan hingga akhirnya tergerak untuk memproduseri Pelangi di Mars. Rupanya, alasan itu datang karena ia melihat kurangnya film anak produksi lokal yang tayang di bioskop Indonesia. Proses penggarapan film ini pun berjalan panjang hingga memakan waktu sampai 5 tahun, lho.

1. Kurangnya film anak lokal di bioskop Indonesia jadi perhatian Dendi Reynando

Dendi Reynando, produser film Pelangi di Mars, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/2/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Di hadapan awak media, Dendi mengakui proses produksi film ini berangkat dari kegelisahannya yang memandang Indonesia memiliki kekurangan film lokal ramah anak dan keluarga. Dari situlah, ia berinisiatif membuat Pelangi di Mars, meski saat itu belum memiliki teknologi canggih.

"Film ini kita sudah inisiasi dari 2020. Kita berangkat dari kegelisahan secara personal bahwa kids and family movie itu under supply di Indonesia. Setiap kita ajak anak-anak ke bioskop, pilihannya gak selalu ada. Kalau pun ada biasanya Hollywood, (film) Indonesia itu mungkin jarang," ungkapnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

2. Upie Guava juga memandang kurangnya literasi untuk anak Indonesia

Sutradara Upie Guava bersama produser Dendi Reynando dan Wamenekraf Irene Umar dalam konferensi pers balon raksasa Pelangi di Mars yang digelar di Jakarta, Kamis (19/2/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Keresahan yang sama turut dirasakan Upie Guava. Sebagai orangtua dan sudah lama berkecimpung di industri hiburan, Upie merasa bahwa saat ini literasi untuk anak sangat minim. Selain itu, muncul kekhawatiran dari Upie terhadap kebanyakan anak zaman sekarang yang keliru dengan konsep menjadi dewasa.

Berangkat dari fenomena itulah akhirnya Upie terdorong untuk menghadirkan film live-action dan animasi Pelangi di Mars. Terlebih lagi, ia juga memiliki keinginan untuk menghidupkan kembali kisah kepahlawanan yang dapat memberikan inspirasi bagi anak Indonesia saat ini.

"Mungkin pendapat saya sangat subjektif, ya. Saya punya anak, dan melihat sepertinya Indonesia kurang banget literasi yang memantik seorang anak tuh pengin berguna, pengin bermanfaat. Buat mereka (anak-anak) menjadi dewasa itu artinya duit banyak, gak banyak kerja. Mereka gak paham konsep menjadi dewasa itu soal mengabdi, fungsi, bermanfaat. Nah, itu yang saya pribadi sebagai orangtua, sangat saya khawatirkan," terang Upie.

3. Proses pengerjaan Pelangi di Mars berlangsung panjang sampai lima tahun

Potret peresmian balon raksasa Pelangi Di Mars di Jakarta, Kamis (19/2/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Upie dan Dendi membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar lima tahun untuk bisa menggarap film Pelangi di Mars. Upie bercerita, pihaknya membangun studio dan teknologi canggih terlebih dahulu sebelum akhirnya mulai membuat film.

"Bisa dibilang ini film dibuat cukup lama, 5 tahun. Tiga tahunnya kita habiskan untuk membuat pabriknya karena kami merasa teknologi CGI, animation, dan lain-lain, ya kami bikin dulu. Tiga tahun kami R&D, kami melakukan banyak hal yang mungkin tidak semua orang mau melakukannya, dan dua tahun terakhir kita buat film ini," beber sutradara kelahiran 1976 ini.

Upie tak menampik mengerjakan proyek ini memiliki banyak kesulitan yang dihadapi. Walau begitu, Upie dan Dendi tetap menjalani setiap proses yang berjalan. Terlebih lagi, mereka juga dibantu sekitar 300 animator dari berbagai animation house saat mengerjakan project film Pelangi di Mars.

Persiapan film Pelangi di Mars sekarang sudah hampir rampung dan siap mewarnai bioskop Indonesia saat Lebaran 2026. Bagi kamu yang ingin melihat film Pelangi di Mars, harap bersabar dulu sampai tayang resmi.

Editorial Team