Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Film Superhero Sulit Tembus Oscar, Tidak Sesuai Selera?

Superman
David Corenswet sebagai Superman (dok. Warner Bros. Pictures/Superman)
Intinya sih...
  • AMPAS memiliki pandangan negatif terhadap film superhero
  • Aksi bombastis belum cukup untuk memikat para anggota AMPAS
  • AMPAS lebih suka film yang konfliknya dekat dengan kehidupan sehari-hari
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Academy Awards atau Oscar merupakan ajang penghargaan perfilman paling prestisius yang digelar oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS). Pada edisi ke-98, pengumuman nominasi Oscar berlangsung pada Kamis (22/1/2026) malam WIB. Sejumlah film unggulan langsung mencuri perhatian, mulai dari Sinners (2025) yang memborong 16 nominasi hingga F1 (2025) yang tampil mengejutkan dengan menembus kategori Film Terbaik (Best Picture).

Sepanjang sejarahnya, Oscar dikenal terbuka terhadap beragam genre, mulai dari drama hingga horor. Namun, di balik keterbukaan tersebut, film superhero kerap dipandang sebelah mata oleh AMPAS. Meski populer dan meraup keuntungan besar, ia tetap kesulitan menembus kategori-kategori bergengsi Oscar.

Kondisi ini kembali terlihat di Oscar 2026. Sejumlah film superhero berkualitas, sebut saja Thunderbolts* (2025), Superman (2025), dan The Fantastic Four: First Steps (2025), harus absen dari daftar nominasi. Fakta tersebut memunculkan pertanyaan besar: mengapa film superhero sulit mendapatkan pengakuan di panggung Oscar?

1. AMPAS memiliki pandangan negatif terhadap film superhero

Logan
Hugh Jackman sebagai Logan alias Wolverine (dok. 20th Century Fox/Logan)

Kendala utama film superhero untuk bersaing di Oscar berakar pada persepsi awal para pemilih yang tergabung dalam AMPAS. Mereka memandang film superhero sebagai tontonan yang sarat aksi murahan dan mengandalkan formula berulang. Stigma ini memicu genre bias, di mana film superhero dianggap tidak setara dengan film drama yang sering menjadi favorit Oscar.

Akibatnya, film superhero kerap kesulitan masuk ke kategori utama seperti Best Picture dan Sutradara Terbaik (Best Director). Ia dinilai sebagai produk komersial semata, bukan karya artistik yang layak bersaing di Oscar. Bahkan Logan (2017) yang menuai pujian kritikus berkat pendekatan naratifnya yang lebih dewasa hanya mampu meraih nominasi Skenario Adaptasi Terbaik (Best Adapted Screenplay) di Oscar 2018.

2. Aksi bombastis belum cukup untuk memikat para anggota AMPAS

Avengers: Infinity War
cuplikan trailer Avengers ketiga (dok. Marvel Studios/Avengers: Infinity War)

Mayoritas film superhero identik dengan aksi dan visual Computer-Generated Imagery (CGI) yang menakjubkan. Pendekatan ini efektif menghadirkan hiburan bagi fans melalui pertarungan spektakuler sekaligus elemen nostalgia. Namun, daya tarik semacam ini kurang sesuai dengan preferensi anggota AMPAS sebagai pemilih Oscar.

Alhasil, film superhero lebih sering bersaing di kategori teknis, seperti Visual Efek Terbaik (Best Visual Effects), Suara Terbaik (Best Sound), dan Editan Suara Terbaik (Best Sound Editing). Beberapa film Marvel Cinematic Universe (MCU), termasuk Iron Man (2008), Doctor Strange (2016), dan Avengers: Infinity War (2018), pernah masuk nominasi Best Visual Effects. Meski unggul dalam efek visual, mereka tetap kalah bersaing dengan film-film drama yang sering menjadi unggulan Oscar.

3. AMPAS lebih suka film yang konfliknya dekat dengan kehidupan sehari-hari

Black Panther
Chadwick Boseman sebagai T'Challa alias Black Panther (dok. Marvel Studios/Black Panther)

Oscar sering disebut sebagai penghargaan perfilman paling ketat di dunia. Untuk bisa masuk daftar nominasi, sebuah film harus melalui proses pemungutan suara (voting) yang panjang dan rumit, mulai dari premilinary voting hingga final voting. Seluruh tahapan ini dilakukan secara tertutup oleh anggota AMPAS yang memenuhi syarat.

Di sisi lain, film superhero dinilai kurang sejalan dengan minat mayoritas anggota AMPAS. Mereka cenderung mengapresiasi film dengan pendekatan realis, drama yang kuat, serta konflik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, film superhero yang berakar pada dunia komik dipandang kurang serius sehingga genre ini acap kali diperlakukan sebelah mata.

4. Film superhero lebih dikenal sebagai penghasil uang ketimbang penghargaan

Avengers: Endgame
Robert Downey Jr. sebagai Tony Stark alias Iron Man (dok. Marvel Studios/Avengers: Endgame)

Film superhero telah lama menjadi mesin uang Hollywood dengan pendapatan yang bisa menembus miliar dolar Amerika Serikat. Avengers: Endgame (2019), misalnya, masih berdiri kokoh sebagai film superhero terlaris sepanjang masa dengan raihan sekitar 2,8 miliar dolar Amerika Serikat (Rp46 triliun). Angka tersebut bahkan nyaris setara dengan Titanic (1997) dan Avatar (2009) yang masing-masing meraup sekitar 2,3 miliar dolar (Rp38 triliun) dan 2,9 miliar dolar Amerika Serikat (Rp48 triliun).

Ironisnya, AMPAS tetap enggan melirik Avengers: Endgame. Buktinya, film ini hanya memperoleh nominasi Best Visual Effects, sementara Titanic dan Avatar masing-masing menyabet sebelas dan tiga nominasi Oscar. Perlakuan tersebut seolah menunjukkan bahwa para pemilih Oscar memisahkan kesuksesan box office dari penilaian terhadap aspek artistik suatu film.

5. Film superhero yang pernah menang Oscar masih bisa dihitung dengan jari

Joker
Heath Ledger menjadi pemenang Best Supporting Actor lewat perannya sebagai Joker. (dok. Warner Bros. Pictures/The Dark Knight)

Dalam hampir lima tahun terakhir, belum ada film superhero yang mampu memenangkan satu pun kategori di ajang Oscar. Namun, jika ditilik belakang, genre ini sebenarnya sempat mencatat prestasi, terutama di kategori teknis. Di antaranya Spider-Man 2 (2004) yang berhasil memenangkan Best Visual Effects dan Black Panther (2018) meraih penghargaan Desain Kostum Terbaik (Best Costume Design), Skor Musik Orisinal Terbaik (Best Original Score), serta Desain Produksi Terbaik (Best Production Design).

Sejumlah film superhero bahkan pernah mencapai nominasi non-teknis, seperti Black Panther yang menjadi film superhero pertama yang masuk kategori Best Picture. Adapun, The Dark Knight (2008) mencetak rekor kemenangan Aktor Pendukung Terbaik (Best Supporting Actor) untuk mendiang Heath Ledger atas perannya sebagai Joker. Di ranah animasi, Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) tampil dominan dengan menyabet Film Animasi Terbaik (Best Animated Feature Film).

Sulitnya film superhero menembus Oscar bukan semata soal kualitas, melainkan karena benturan antara selera AMPAS dengan karakteristik genre tersebut. Meski begitu, keberhasilan Black Panther, The Dark Knight, dan Spider-Man: Into the Spider-Verse membuktikan bahwa tembok ini bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diterobos. Jika tren ini dilanjutkan, bukan tak mungkin kita akan kembali menyaksikan film superhero hadir di panggung Oscar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Hype

See More

8 Meme Kartun tentang Internet Lemot, Kesalnya Berasa!

01 Feb 2026, 18:04 WIBHype