Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Sekawan Limo 2 Angkat Isu Etnis Tionghoa, Ingatkan Tragedi Mei 1998
Filmmaker dan cast setelah acara konferensi pers "Sekawan Limo 2" di XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu (20/5/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih mengangkat isu etnis Tionghoa dan menjadikan tragedi Mei 1998 sebagai pengingat agar sejarah kelam tidak dilupakan serta menolak pemutihan sejarah.

  • Indra Pramujito dan Ferry Salim menekankan pentingnya generasi muda memahami masa lalu untuk menghargai perbedaan, sembuh dari trauma, dan memperkuat rasa cinta terhadap Indonesia.

  • Sutradara Bayu Skak menjelaskan riset film dilakukan mendalam, menegaskan bahwa membicarakan sejarah penting agar trauma antargenerasi berhenti dan semangat persatuan tetap terjaga.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) kembali membawa kisah lima sahabat dengan teror dan isu yang lebih dalam. Berlatar 3 tahun setelah film pertama, reuni hangat mereka berubah jadi mencekam setelah keluarga Andrew terancam menjadi tumbal pesugihan.

Di balik elemen horor dan komedi yang tetap kental, film garapan Bayu Skak ini juga menyinggung isu rasial yang sensitif, khususnya pengalaman etnis Tionghoa di Indonesia. Dalam konferensi pers setelah pemutaran film di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026), para cast dan filmmaker membagikan pandangan mereka soal pesan yang ingin disampaikan film ini.

1. Indra Pramujito jelaskan alasan Sekawan Limo 2 angkat isu etnis Tionghoa

Indra Pramujito setelah acara konferensi pers "Sekawan Limo 2" di XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu (20/5/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Konferensi pers film ini terasa berbeda karena para cast hadir mengenakan cheongsam dan changshan, pakaian khas etnis Tionghoa. Dalam kesempatan itu, Indra Pramujito yang berperan sebagai Andrew menjelaskan makna di balik visual para pemain di atas panggung.

"Temen-temen di sini, selamat sore. Anda semuanya bisa menyaksikan kalau di panggung ini adalah bentuk atau seharusnya orang Indonesia itu. Bisa dilihat, Bayu yang orang Jawa, Firza yang orang Jawa, menggunakan baju cheongsam yang merupakan baju khas etnis Tionghoa," ucapnya.

Setelahnya, Indra menyoroti tragedi Mei 1998 yang dialami etnis Tionghoa di Indonesia. Menurutnya, sekuel Sekawan Limo (2024) ini tidak hadir untuk membuka luka lama, melainkan mengajak penonton untuk tidak melupakan sejarah yang pernah terjadi.

"28 tahun yang lalu, di bulan Mei, ada sebuah tragedi yang sangat berat sekali yang dilalui oleh etnis Tionghoa di Indonesia. 28 tahun kemudian, di bulan yang sama, film Sekawan Limo rilis dengan mengangkat satu tema, yaitu etnis Tionghoa," jelas Indra secara gamblang.

Ia kemudian menegaskan bahwa sejarah tidak boleh dihapus begitu saja dari ingatan publik.

"Film ini mengajarkan kita untuk jangan pernah melupakan sejarah. Jangan pernah ada pemutihan sejarah. Kita harus belajar dari sejarah. Jangan ada etnis, suku, atau ras lagi yang dikambinghitamkan nantinya. Jangan ada kekerasan, jangan ada pemerkosaan. Dan juga, dari saya pribadi mungkin negara harus minta maaf atas kejadian yang pernah terjadi dan juga mengakui kesalahan yang sudah pernah terjadi," kata Indra.

Tak hanya itu, Indra juga menyampaikan pesan kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk berani keluar dari trauma masa lalu dan tetap mencintai negeri ini.

"Untuk etnis Tionghoa yang ada di Indonesia pun, saya akan memberikan input yaitu kita juga harus berani untuk sembuh dari warisan trauma itu dan kita jangan eksklusif dalam bergaul. Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia," kata aktor kelahiran Surabaya 38 tahun silam ini.

2. Ferry Salim sebut isu dalam Sekawan Limo 2 penting diketahui generasi muda

Ferry Salim acara konferensi pers "Sekawan Limo 2" di XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu (20/5/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Aktor senior Ferry Salim juga ikut memberikan pandangannya terkait isu yang dibawa film ini. Menurutnya, setiap negara pasti memiliki sejarah kelam yang perlu dipelajari generasi berikutnya agar tidak terulang kembali. Ia menilai, keberanian film ini justru penting untuk membuka ruang diskusi yang sehat bagi anak muda.

"Saya kira kalau masa lalu itu, kemudian ada yang diungkit kembali dalam film itu bukan berarti untuk seperti yang Indra katakan tadi bukan berarti untuk membuka luka lama, tapi justru untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda, generasi yang sekarang. Bahwa untuk menjadi sebuah negara yang maju dan bersatu bukan hanya kita harus sama tapi kita harus menghargai perbedaan yang ada," ujarnya.

Setelah lama malang-melintang di dunia perfilman Tanah Air, Ferry memuji keberanian naskah film. Sang penulis, Nona Ica, mampu membungkus isu sensitif lewat pendekatan horor dan komedi sehingga terasa lebih dekat dengan khalayak luas.

"Kalau saya boleh katakan pasti film ini punya satu keberanian dan juga tentu punya perbedaan juga yang berbeda dari film-film yang lain. Dan tentunya juga dari judulnya kan Sekawan Limo, ya, jadi mudah-mudahan kita selalu sekawan, sebangsa, dan setanah air. Dan 'Limo'-nya limo juta penontonnya," imbuh Ferry.

3. Bayu Skak mengajak untuk menghentikan pola trauma antargenerasi

Bayu Skak setelah acara konferensi pers "Sekawan Limo 2" di XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu (20/5/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Indra juga mengungkapkan bahwa ada beberapa adegan singkat dalam film yang memiliki makna emosional baginya sebagai etnis Tionghoa. Ia menegaskan lagi, film ini bukan dibuat untuk mengorek luka lama, melainkan mengingatkan publik agar sejarah tidak dihapus begitu saja.

"Bayu juga mengambil satu adegan yang mungkin berhubungan sekali dengan kejadian pada saat itu. Ini bukan mengorek luka, sekali lagi ini bukan mengorek luka. Bukan mengorek luka, tapi ini kembali untuk mengingatkan kita bahwa jangan ada pemutihan sejarah," ucapnya.

Sebagai sutradara, Bayu Skak juga menjelaskan, riset film dilakukan dari banyak artikel dan jurnal yang membahas tragedi tersebut. Menurutnya, menolak membicarakan sejarah justru membuat masyarakat tidak belajar dari masa lalu.

"Karena kalau misalnya kita hanya bilang kayak, 'Oh enggak ada apa-apa,' itu kan sangatlah gampang. Kita nggak belajar apa-apa dari kerusuhan itu," tambah Bayu seusai acara konferensi pers.

Ia kemudian menyoroti bagaimana rasa sakit bisa terus berulang jika dibalas dengan rasa sakit yang sama. Itulah cikal bakal trauma antargenerasi.

"Oleh karena itu kita harus belajar bahwa 'piluh' dibalas dengan 'piluh' akan melahirkan 'piluh' lagi. Seperti tadi contohnya ada karakter bapaknya (Andrew), dia kan itu 'piluh' kan, dia membalasnya dengan 'piluh.' Jadi jangan sampai teman-teman kita melakukan hal seperti itu Kita harus bersatu padu," tegasnya.

Menutup pernyataannya, Bayu kembali menegaskan bahwa keberagaman adalah inti atau pesan utama film ini.

"Itu juga pesan tersendiri juga untuk Sekawan Limo 2: Gunung Klawih tentang persatuan kita. Berbagai macam etnis ada di Indonesia ini. Entah itu keturunan India, keturunan Arab, keturunan Tionghoa, saya orang Jawa, orang Batak. Kita bersatu, kita adalah Republik Indonesia," tutupnya.

Editorial Team