press conference film Suamiku Lukaku di XXI Epicentrum, Kamis (21/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Dalam proses penggarapan film, tim produksi juga melakukan riset ke sejumlah daerah seperti Medan dan Tegal untuk memahami realita KDRT di masyarakat. Dari hasil tersebut, mereka menemukan bahwa KDRT tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang sering dianggap normal dalam rumah tangga.
“Jujur saya baru tahu bahwa begitu membuat film ini bahwa tidak memberi nafkah kepada istri itu juga KDRT,” kata Viva Westi.
Viva juga menyoroti bahwa batasan antara sabar dan KDRT masih sering disalahpahami oleh masyarakat.
“Mungkin banyak juga dari kita yang nonton, yang kita gak tahu bahwa batasan antara KDRT dengan sabar itu seperti apa sih? Karena sabar itu, orang selalu bilang bahwa istri harus sabar. Istri akan dapat pahala, suaminya akan berubah. Tapi semuanya dengan film ini, bisa tergambarkan bahwa sabar itu seperti apa batasan antara sabar dan KDRT,” lanjutnya.
Menurut Westi, kasus KDRT yang diangkat film ini pun masih tergolong ringan jika dibandingkan dengan realita yang ia temui di lapangan. Berdasarkan hasil kunjungannya ke beberapa daerah, ia menemukan, bentuk KDRT yang dialami oleh sebagian masyarakat jauh lebih berat daripada yang tergambar di layar.
“Saya keliling ke Medan, Tegal, dan mereka rata-rata, KDRT yang kita saksikan ini belum seperti yang mereka rasakan. Apalagi terhadap anak-anaknya. Anak-anaknya tuh luar biasa sangat menderita.”
Dalam kesempatannya, Westi juga menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk mengeksploitasi kekerasan, melainkan untuk menggambarkan kondisi yang memang terjadi dalam kehidupan nyata.