Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
cuplikan film Fight Club (dok. 20th Century Studios/Fight Club)
cuplikan film Fight Club (dok. 20th Century Studios/Fight Club)

Intinya sih...

  • Alegori dalam film menggunakan simbol dan perumpamaan untuk menyampaikan makna yang lebih dalam melalui karakter, konflik, dan resolusi.

  • Gagasan alegori pertama kali dicetuskan oleh Plato, dan film alegori seringkali mengkritik isu politik, sosial, dan kondisi manusia.

  • Film alegori memiliki karakteristik seperti penggunaan keseluruhan cerita sebagai simbol, pesan moral dan kritik sosial yang tajam, serta tidak memberi resolusi pasti.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak semua sineas ingin karyanya dapat dimengerti dengan mudah. Beberapa di antara mereka dengan sengaja menempatkan penontonnya dalam situasi membingungkan. Bukan karena pengalaman menontonnya yang buruk, melainkan muatan narasinya yang sarat akan perumpamaan dan memiliki makna berlapis. Inilah yang kerap dirujuk para kritikus sebagai film alegori. 

Eksistensinya di kalangan sinefil menuai pro dan kontra. Tidak sedikit yang menganggap film alegori terlalu rumit dan dan performatif. Namun bagi pelaku industri film, alegori justru menjadi opsi terbaik dalam membahas isu yang terlalu sensitif dan berpotensi mengundang kontroversi jika disampaikan secara gamblang. IDN Times akan menjelaskannya khusus untuk kamu. 


1. Apa Itu Alegori dalam Film?

Enemy (dok. Entertainment One/Enemy)

Istilah alegori merujuk pada penggunaan simbol dan perumpamaan untuk membangun makna dalam sebuah cerita. Dalam konteks film, alegori bekerja melalui kisah fiksi yang dari durasi awal hingga akhir menyiratkan makna lain di baliknya melalui karakter, konflik, dan resolusi yang ditampilkan. 

Berbeda dengan penggunaannya dalam karya literatur seperti puisi dan novel, makna yang terkandung dalam film alegori dibangun secara konsisten dari awal hingga akhir. Apa yang tampak di layar justru sebatas perantara untuk menyampaikan gagasan yang jauh lebih besar. Gagasan tersebut mayoritas menjamah isu politik, sosial, hingga kondisi manusia itu sendiri. 


2. Dari Plato hingga ke Layar Lebar

A Clockwork Orange (dok. Warner Bros./A Clockwork Orange)

Gagasan alegori pertama kali dicetuskan oleh filsuf Yunani, Plato, dalam karyanya The Republic yang ditulis sekitar 360SM. Melalui Allegory of the Cave, Plato menggambarkan manusia sebagai tahanan yang mengira bayangan di dinding gua sebagai realitas karena mereka hidup terisolasi dan tidak pernah mengenal dunia di luar gua.

Inti dari alegori ini terbilang sederhana namun mencekam yakni manusia cenderung menolak kebenaran yang mengganggu kenyamanan mereka. Pola ini terus berulang bahkan di masa modern.

Hal tersebut mendorong para sineas untuk mengadopsi gagasan tersebut. Mereka menyoroti sejumlah tokoh yang hidup dalam ilusi, sistem yang menindas, hingga mematahkan propaganda yang kadung mendarah daging. Mengemasnya menjadi sebuah naratif yang menggugah selera sekaligus sebagai bentuk kritik dan penolakan.

Maka tidak mengherankan jika film alegori kerap memancing kontroversi. Secara tidak langsung memprovokasi penontonnya, memaksa mereka mempertanyakan apa yang selama ini dianggap normal ketika realitanya justru sebaliknya.

3. Karakteristik Film Alegori

cuplikan film Mother! (dok. Paramount Pictures/Mother!)

Hadir dalam berbagai genre dan memiliki beragam gaya visual, film alegori memiliki beberapa karakteristik yang menonjol. Menggunakan keseluruhan cerita sebagai simbol, salah satunya. Maknanya telah lebih dulu ditanam dalam proses penulisan naskah sehingga menyatu dengan plot dan para karakter secara natural. Setiap aspek saling berkesinambungan, mengokohkan kerangka simboliknya sehingga pesan utamanya dapat tersampaikan secara tepat sasaran.

Film alegori juga lekat dengan pesan moral dan kritik sosial yang tajam. Isu yang disinggung pun tak main-main mulai dari kekuasaan, agama, konsumerisme, hingga krisis kemanusiaan di era modern. 

Alih-alih memberi resolusi pasti seperti film konvensional pada umumnya, film alegori justru mengundang perdebatan. Para sineasnya dengan aktif memancing para penontonnya untuk mengemukakan argumen mereka. Secara tidak langsung memaksa mereka untuk merenungkan kembali tentang apa yang mereka ketahui baik di layar maupun di dunia nyata.


4. Film-film Alegori Terbaik di Sinema Modern

cuplikan film Spirited Away (dok. Studio Ghibli/Spirited Away)

Memiliki makna berlapis lewat pengalaman menonton film yang sarat konfrontasi, beberapa judul film disebut-sebut sebagai film alegori terbaik dalam sejarah sinema modern. 

Sebut saja Fight Club (1999) besutan sutradara David Fincher. Film yang disadur dari novel berjudul sama karya Chuck Palahniuk ini merupakan alegori dari bagaimana ekspektasi sosial dan konsumerisme modern yang tidak sehat memberikan dampak buruk pada struktur sosial di masyarakat. 

Lalu ada Hayao Miyazaki yang mengkritik habis-habisan tentang eksploitasi anak-anak di bawah umur dalam dunia kerja maupun hiburan melalui Spirited Away (2001). Sementara Darren Aronofsky menghadirkan alegori ekstrim tentang penciptaan, kehancuran, dan relasi manusia dengan alam dalam narasi religius lewat Mother! (2017).

Memiliki makna multitafsir, tidak heran jika film alegori mengundang banyak kontroversi baik di kalangan kritikus maupun sinefil. Setelah mengenal lebih dekat dengan film alegori, tertarik untuk menyelami lebih jauh jenis film yang satu ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team