Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ariel Jarang Gombal di Dilan ITB 1991, Niken Anjani: Lebih Banyak Aksi
Ariel, Niken Anjani, dan Raline Shah di acara "Nonton Bareng Dilan ITB 1997" di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis (30/4/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Jakarta, IDN Times – Sosok Dilan kembali hadir dengan wajah yang berbeda di Dilan ITB 1991 (2026). Kali ini, karakter ikonik tersebut tampil lebih mature lewat interpretasi Ariel Noah yang digambarkan sudah menjalani kehidupan kampus di FSRD ITB. Di sana, ia menjalin hubungan dengan Ancika yang diperankan Niken Anjani.

Perubahan fase hidup ini ternyata ikut memengaruhi cara Dilan mengekspresikan perasaan. Jika dulu Dilan dikenal lewat gombalan khasnya "Jangan rindu. Berat. Kamu enggak akan kuat. Biar aku saja," kini pendekatan yang digunakan terasa jauh lebih tenang dan dewasa.

1. Niken merasa Dilan versi Ariel tak lagi mengandalkan gombalan

Ariel, Niken Anjani, dan Raline Shah di acara "Nonton Bareng Dilan ITB 1997" di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis (30/4/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Saat membahas bagaimana Dilan versi ini menunjukkan sisi romantisnya, Niken langsung memberi gambaran yang cukup berbeda dari ekspektasi publik. Ia menilai, Dilan tidak lagi bertumpu pada kata-kata manis seperti sebelumnya.

"Tapi kayaknya di sini Dilan gak ngegombal, deh," ujar Niken yang langsung diamini Ariel, "Iya betul."

Sebagai pemeran Ancika, Niken merasa perubahan tersebut memang selaras dengan perkembangan usia dan fase hidup karakter Dilan yang sudah mahasiswa dan berada di persimpangan jalan.

"Cara gombalnya beda dibanding Dilan-Dilan sebelumnya, karena mungkin Dilannya udah dewasa. Jadi caranya lebih ke aksi daripada verbal," lanjut aktris kelahiran Jakarta 38 tahun silam itu.

2. Ariel melihat Dilan versinya lebih matang dan realistis

Ariel, Niken Anjani, dan Raline Shah di acara "Nonton Bareng Dilan ITB 1997" di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis (30/4/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Senada dengan Niken, Ariel juga melihat kalau karakter Dilan versinya lebih dalam. Ia membawa interpretasi yang lebih matang, sejalan dengan latar cerita yang menempatkan Dilan di fase kehidupan yang lebih kompleks.

"Jadi pas pertama kali baca skripnya memang uniknya beda banget deh," ucapnya.

Apalagi, karakter ini diceritakan baru kembali dari Kuba dan langsung berhadapan dengan realitas Indonesia di era 1997 yang penuh dinamika. Hal ini membuat Dilan terasa lebih reflektif, tanpa kehilangan ciri khasnya.

"Gak banyak gombal. Sama sekali kayak gak ada gombalnya. Jadi agak beda," tutur Ariel.

Sepanjang film, hubungan Dilan dan Ancika memang digambarkan lebih stabil. Meski begitu, sisi romantis, puitis, dan nyeleneh khas Dilan tetap hadir. Hanya saja, kini dibalut dengan tanggung jawab yang lebih besar.

3. Bangun chemistry, Ariel dan Niken saling belajar akting dan bahasa Sunda

Ariel, Niken Anjani, dan Raline Shah di acara "Nonton Bareng Dilan ITB 1997" di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis (30/4/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Demi membangun chemistry yang kuat di depan layar, Ariel dan Niken menjalani proses yang cukup intens. Keduanya banyak menghabiskan waktu bersama dalam sesi reading yang secara alami membantu membentuk kedekatan antarkarakter.

"Kalau gue emang sama Niken kan banyak yang mesti dibaca dan segala macem. Jadi sambil kita reading segala macem itu memang ke-build otomatis," ucap Ariel

Selain itu, ada juga proses saling belajar yang menarik di balik layar. Mulai dari pendalaman akting hingga penyesuaian logat, semuanya dilakukan untuk memperkuat keaslian karakter yang ditampilkan.

"Mungkin kalau aku banyak belajar, kan ceritanya Ancika itu latar belakangnya dari Jawa Barat ya. Jadi aku banyak belajar sedikit lokat Bandung dari A Boril," tambah Niken.

Lucunya, Ariel merasa kalau ia menukar kemampuan bahasanya dengan pelajaran akting dari Niken. "Tukeran. Minta ilmu akting dari dia (Niken) entar tukernya sama bahasa Sunda," canda Ariel.

Editorial Team