Dikta di hearing session "Unapologetic" di Krapela, Jakarta, Rabu (13/5/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Meski lahir dari rasa kehilangan, Dikta mengaku lagu ini tak sengaja dibuat untuk menjual kesedihan. Ia justru berharap lagu tersebut bisa menemani orang-orang yang mengalami hal serupa.
"Ini buat semua temen-temen gua juga yang memang udah ga ada bapaknya," tegasnya.
Di tengah suasana haru itu, Dikta tetap menyelipkan gaya bicaranya yang blak-blakan. Ia bahkan mengaku sempat menyesal membuat lagu tersebut karena merasa terlalu membuka sisi rapuhnya sendiri.
"Bukan kepingin didramatisir ya, cuman maksudnya gua susah banget nangis orangnya, jarang banget gua nangis. Dan gua kayaknya ga pernah bikin lagu sedih yang berasa sendiri gitu. Awalnya agak nyesel gua bikin ini, karena buat apa sih? Gua ga suka jual kesedihan, buat apa? Sedihnya gua buat gua aja, lo lihat aja ketawa-ketawanya gua," jelas Dikta.
Namun pada akhirnya, ia merasa memang perlu ada satu lagu khusus yang dipersembahkan untuk sang ayah. Lagu yang mungkin tak bisa lagi ia nyanyikan langsung di depan sosok yang paling berjasa mengenalkannya pada dunia musik.
"Cuman gua pengen ada satu lagu yang memang buat bokap gua gitu. Ada satu perasaan yang, 'Ah, giliran gua bikin kayak gini,' yang dia pasti suka, gua ga bisa nunjukin gitu. Jadi yaudah, satu-satunya gua tunjukin aja ke semua orang, 'Nih gua ada lagu ini buat papah, papah bisa ngelihat ga? Bisa ngedengerin ga nanti?'" tambahnya.