Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
cuplikan adegan dalam serial Star Trek: Voyager—Caretaker
cuplikan adegan dalam serial Star Trek: Voyager—Caretaker (dok. Paramount Television/Star Trek: Voyager—Caretaker)

Intinya sih...

  • Star Trek: Deep Space Nine (Past Tense—Part 1), prediksi ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin

  • Star Trek: Deep Space Nine (Past Tense—Part 2), memprediksi kemenangan tim bisbol Amerika

  • Star Trek: The Original Series—A Taste of Armageddon, memprediksi perang di era modern

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejak episode pertamanya ditayangkan pada tahun 1967, serial Star Trek sudah memprediksi masa depan, mulai dari teknologi hingga kemajuan sosial. Seiring berjalannya zaman, teknologi yang muncul dalam Star Trek menjadi teknologi sehari-hari di dunia nyata. Contohnya saja PADD (Personal Access Display Devices), antarmuka layar sentuh yang digunakan oleh para perwira Starfleet untuk segala hal, mulai dari membaca karya sastra klasik hingga mengelola tugas, sekarang sudah terwujud dalam gadget seperti iPad.

Kemudian ada teknologi antarmuka suara yang digunakan para perwira Starfleet untuk berkomunikasi dengan komputer, juga menjadi teknologi yang digunakan sehari-hari oleh banyak orang saat ini melalui perangkat pintar seperti Alexa dan Siri. Kita bahkan punya penerjemah universal seperti Google Translate dan teknologi lainnya.

Beberapa prediksi paling sukses dari serial ini adalah pandangannya yang tajam terhadap hubungan antara umat manusia dan kemajuan. Bisa jadi itu cuma tebakan yang kebetulan, sih. Dari perubahan sosial-politik hingga kemajuan teknologi, berikut adalah 7 episode Star Trek yang secara akurat memprediksi masa depan. Penasaran, kan.

1. Star Trek: Deep Space Nine (Past Tense—Part 1), prediksi ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin

cuplikan adegan dalam Star Trek: Deep Space Nine (Past Tense—Part 1) (dok. Paramount Television/Star Trek: Deep Space Nine (Past Tense—Part 1))

Pada awal tahun 1995, dalam episode "Past Tense" di serial Star Trek: Deep Space Nine, penulis Star Trek, yakni Robert Hewitt Wolfe, memprediksi masa depan Amerika yang penuh dengan kemiskinan dan tunawisma. Bahkan ada adegan ketika orang miskin dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Ternyata, prediksi dalam episode "Past Tense—Part 1"—yang berlatar Agustus 2024—justru menjadi kenyataan saat ini.

Episode "Past Tense—Part 1" ini menceritakan tiga petugas Deep Space Nine yang dikirim ke San Francisco pada 2024 lewat transporter. Dua dari tiga petugas tersebut dikumpulkan ke distrik suaka yang dikelilingi tembok tempat para tunawisma dan orang miskin diasingkan. Pada saat yang sama, Jadzia Dax (diperankan Terry Farrell) justru bergabung dengan orang-orang kaya, sampai-sampai mereka gak menyadari kalau banyak orang miskin yang hidup menderita. Nah, prediksi ini sangat amat terasa saat ini.

Dikutip Axios, tunawisma meningkat secara dramatis di Amerika Serikat sejak 2017, dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2024. Hal ini diikuti dengan kesenjangan yang sama dramatisnya antara orang kaya dengan orang miskin. Prediksi ini semakin nyata ketika banyak laporan tentang penggusuran tenda-tenda tunawisma di pinggir jalan oleh otoritas setempat. Tunawisma ini kemudian dikumpulkan dan dipenjara, karena mereka dianggap mengganggu dan melanggar hukum.

2. Star Trek: Deep Space Nine (Past Tense—Part 2), memprediksi kemenangan tim bisbol Amerika

cuplikan adegan dalam serial Star Trek: Deep Space Nine (Past Tense—Part 2) (dok. Paramount TelevisionStar Trek: Deep Space Nine (Past Tense—Part 2))

Salah satu prediksi paling liar dalam franchise Star Trek sebenarnya gak berkaitan dengan teknologi atau peristiwa sosial politik, nih, melainkan bisbol Amerika. Dalam episode "Past Tense—Part 2" di Star Trek: Deep Space Nine, ada sebuah lelucon yang menjadi meme di tahun 1990-an tentang lelucon mengenai New York Yankees yang memenangkan MLB World Series.

Pasalnya, selama hampir 20 tahun setelah kemenangan beruntun pada tahun 1977 dan 1978, New York Yankees gagal meraih kemenangan di tahun-tahun selanjutnya. Namun di bagian kedua episode Star Trek: Deep Space Nine yang ditayangkan pada Januari 1995 ini, New York Yankees diprediksi akan mendominasi bisbol pada tahun 1999. Uniknya, prediksi ini benar.

Saat terjebak di Distrik Suaka 1, Kapten Sisko (diperankan Avery Brooks) dan Dokter Julian Bashir (diperankan Alexander Siddig) mengobrol dengan polisi setempat yang bernama Vin (diperankan Dick Miller), yang kebetulan adalah penggemar bisbol liga utama. Vin dengan bangga menyebut kalau Yankees '99 sebagai tim terbaik sepanjang masa. Benar saja, di dunia nyata, New York Yankees sukses memenangkan World Series melawan Atlanta Braves pada tahun 1996.

Seperti yang diprediksi Vin, New York Yankees akan terus mendominasi World Series selama beberapa tahun ke depan. Nah, kemenangan beruntun ini terjadi pada tahun 1998 hingga 2000, dan kemudian pada tahun 2009.

3. Star Trek: The Original Series—A Taste of Armageddon, memprediksi perang di era modern

cuplikan adegan dalam serial Star Trek: The Original Series—A Taste of Armageddon (dok. Paramount Television/Star Trek: The Original Series—A Taste of Armageddon)

Selama ribuan tahun, peperangan memang identik dengan pertumpahan darah dan itu dianggap manusiawi oleh sebagian orang. Dari zaman kuno hingga abad pertengahan, perang biasanya menggunakan pedang dan jarak dekat. Bahkan dengan taktik pengepungan, dan kemudian munculnya mesin perang era modern. Itulah kenapa pertempuran gak lepas dari risiko kematian.

Nah, di tengah latar belakang Perang Vietnam, Star Trek: The Original Series muncul dalam episode "A Taste of Armageddon." Episode ini menceritakan tentang perjalanan Enterprise ke Eminiar VII untuk menjalin hubungan diplomatik. Namun, upaya mereka ditolak ketika kru mengetahui bahwa planet tersebut sedang perang dengan penduduk dari planet tetangga Vendikar. Perang ini bahkan sudah berlangsung selama berabad-abad. Hal ini mengejutkan Kirk (diperankan William Shatner) dan timnya. Sebab, perang ini gak meninggalkan jejak kekacauan sama selali. Gak ada puing-puing, gak ada kota yang rata dengan tanah, hanya masyarakat modern yang sedang menjalani hari-harinya.

Nah, Spock (diperankan Leonard Nimoy) akhirnya menyadari bahwa untuk menjaga peradaban agar berjalan semaksimal mungkin, peperangan tersebut dilakukan lewat simulasi. Sebuah komputer menjalankan program tersebut, dan korban diperintahkan untuk melapor ke stasiun disintegrasi, yang kemudian hidup mereka diakhiri—tanpa adanya keributan. Jika kamu sadar, peperangan terkomputerisasi dalam episode Star Trek ini secara gak langsung memprediksi peperangan AS abad ke-21, di mana serangan drone yang presisi bisa menyasar musuh dan dioperasikan dari jarak ribuan kilometer. Fenomena ini mengabstraksikan perang dari jarak dekat antar manusia.

4. Star Trek: The Next Generation—Unnatural Selection, memprediksi rekayasa genetika

cuplikan adegan dalam serial Star Trek: The Next Generation—Unnatural Selection (dok. Paramount Television/Star Trek: The Next Generation—Unnatural Selection)

Manipulasi genetika menjadi bagian gak terpisahkan dari waralaba Star Trek sejak episode "Space Seed" dari Star Trek: The Original Series, yang memperkenalkan Khan Noonien Singh (diperankan Ricardo Montalbán) dan Perang Eugenika. Hal ini selaras, karena para ilmuwan tahun 1960-an baru mulai mengungkap misteri genom manusia. Meskipun kemajuan dalam sains terus berlanjut selama beberapa dekade berikutnya, tapi sekitar tahun 1990, muncul Proyek Genom Manusia—tahun yang sama dengan diluncurkannya uji coba terapi gen pertama.

Nah, dalam epidose "Unnatural Selection" du serial Star Trek: The Next Generation (1989), memprediksi rekayasa genetika. Prediksi tersebut terbukti tepat. Saat ini, pengobatan genetika dengan cepat merambah ke farmakologi arus utama baik melalui perawatan personalisasi berdasarkan genetika maupun uji coba pengeditan gen CRISPR.

Berpusat pada Dr. Katherine Pulaski (diperankan Diana Muldaur), episode yang dimaksud membahas tentang wabah aneh di atas kapal USS Lantree, sebuah kapal yang baru saja melewati Stasiun Penelitian Genetika Darwin di Gagarin IV. Namun, alih-alih norovirus, bakteri jahat ini menyebabkan penuaan dini pada korbannya. Nah, satu-satunya orang yang menunjukkan gejala sakit di atas kapal tersebut hanya menderita flu Thelusian ringan.

Setelah terhubung dengan stasiun penelitian, Pulaski mengetahui bahwa penelitian mereka mencakup rekayasa genetika anak-anak telepati dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat untuk melawan penyakit. Ketika gen mereka berinteraksi dengan flu Thelusian, tubuh mereka memicu antigen yang bertanggung jawab atas penuaan. Tentu, pengobatan tersebut punya beberapa efek samping yang mengerikan, tapi prediksi rekayasa gen untuk mencegah penyakit jelas belum ada saat serial itu ditayangkan.

5. Star Trek: Voyager—Caretaker, memprediksi dokter AI

cuplikan adegan dalam serial Star Trek: Voyager—Caretaker (dok. Paramount Television/Star Trek: Voyager—Caretaker)

Dalam hal kemajuan medis, Star Trek punya beberapa prediksi akurat, mulai dari alat pemindaian canggih seperti pencitraan komputer 3D hingga rekam medis elektronik. Namun, dalam episode "Star Trek: Voyager" (1995), Star Trek memprediksi penggunaan kecerdasan buatan sebagai alat diagnostik.

Diperkenalkan dalam episode pertama serial tersebut, "Caretaker," Hologram Medis Darurat (EMH)—atau dikenal sebagai Doctor (diperankan Robert Picardo), mengambil alih karena dokter yang ditugaskan di Voyager terbunuh saat bertugas. Dilengkapi dengan kepribadian yang telah diprogram dan dapat beradaptasi dengan perintah sistem, Doctor bisa dibilang sebagai kecerdasan buatan (AI) yang menggunakan proyeksi holografik untuk berinteraksi dengan pasiennya di ruang perawatan.

Basis data asli sang Doctor mencakup seluruh Basis Data Medis Starfleet dan lebih dari 3.000 budaya, termasuk setiap planet Federasi, lebih dari 2000 sumber daya medis, dan ilmu pengetahuan dari 47 profesional medis. Namun, si Doctor ini bukan sekadar basis data, ia punya kemampuan untuk mendengarkan, beradaptasi, mendiagnosis, dan merespons.

Meskipun masih belum umum dan belum ada hologram dokter AI yang bisa diajak ngobrol, dokter AI sudah diuji di rumah sakit kecerdasan buatan pertama di dunia, yaitu China's Agent Hospital. Teknologi ini bisa merawat 10.000 pasien dalam beberapa hari dengan akurasi 93 persen, lho. Yap, meskipun masih tahap uji coba dan pasiennya gak nyata, tapi terobosan ini merupakan lompatan besar untuk dunia medis di masa depan.

6. Star Trek: The Next Generation—Hollow Pursuits, memprediksi kecanduan teknologi

cuplikan adegan dalam serial Star Trek: The Next Generation—Hollow Pursuits (dok. Paramount Television/Star Trek: The Next Generation—Hollow Pursuits)

Dalam episode "Hollow Pursuits" musim ke-3 di Star Trek: The Next Generation, yang pertama kali ditayangkan pada 1990, insinyur Enterprise, Reginald Barclay (diperankan Dwight Schultz) memprediksi tentang kecanduan teknologi yang dihadapi masyarakat saat ini. Kecanduan teknologi yang terjadi saat ini adalah kecanduan media sosial, judi online, game online, dan aktivitas NSFW. Nah, kecanduan ini membuat seseorang jadi gak produktif dan rentan mengalami masalah emosional, karena ketergantungan mereka pada teknologi bisa berpengaruh pada kehidupan sosialnya.

Itulah yang terjadi pada Reginald Barclay. Ia kecanduan holodeck (teknologi simulasi ruang holografik 3D). Barclay pun jadi sering telat dan bahkan gak masuk kerja. Rekan-rekan kerjanya jadi jengkel sama dia. Nah, dalam episode ini juga menyinggung kalau orang yang cenderung kesepian dan canggung dalam interaksi sosial, biasanya akan mengobati diri sendiri lewat teknologi.

7. Star Trek: Voyager—Future's End, mengkritik kapitalisme dan perjalanan ke luar angkasa

cuplikan adegan dalam serial Star Trek: Voyager—Future's End (dok. Paramount Television/Star Trek: Voyager—Future's End)

Dalam episode Star Trek: Voyager berjudul "Future's End", muncul prediksi yang sangat tepat tentang kapitalisme. Episode tersebut memperingatkan bahaya kapitalisme, tapi bukan menyindir miliarder serakah yang memegang kendali. Dalam episode "Future's End", kru Voyager dikirim ke tahun 1996. Di sana, seorang karakter yang sangat menyebalkan bernama Henry Starling (diperankan Ed Begley, Jr.) telah merekayasa balik beberapa teknologi luar angkasa yang didapatnya pada tahun 1967. Ia memanfaatkan teknologi tersebut menjadi mesin untuk meraih kekayaan, yang disebut Chronowerx Industries. Namun, hal ini justru merusak masa depan. Kisah ini secara gak langsung memprediksi tentang seorang miliarder yang sukses dalam kemajuan teknologi dan memonopoli perjalanan luar angkasa, nih.

Nah, di dunia nyata, orang biasa yang melakukan perjalanan ke luar angkasa terjadi pada tahun 2025, ketika penyanyi Katy Perry bersama dengan empat perempuan lain melakukan perjalanan Blue Origin selama 11 menit ke luar angkasa. Ini tamparan keras bahwa orang kaya dan berpengaruh saja yang bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa.

Rupanya pengaruh Star Trek terhadap teknologi masa depan terbukti di era modern, nih. Nah, hal ini bahkan dibahas dalam film dokumenter How William Shatner Changed the World. Martin Luther King Jr. sendiri menginspirasi aktris Nichelle Nichols untuk tetap bertahan dalam serial Star Trek ketika ia berniat keluar. Hal ini dilakukannya karena ia yakin kalau Star Trek bisa membentuk sejarah masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team