Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ernest Prakasa soal Dugaan PH Besar Monopoli Layar Bioskop: Bukan Curang
Potret Ernest Prakasa yang diunggahnya di Instagram (instagram.com/ernestprakasa)
  • Ernest Prakasa menanggapi isu dugaan monopoli layar bioskop dengan mengibaratkan bioskop seperti warung yang memiliki rak terbatas, sehingga harus selektif memilih film yang dapat menarik penonton.

  • Ia menjelaskan bahwa PH besar cenderung lebih mudah dilirik bioskop karena telah memiliki reputasi dan rekam jejak dalam promosi yang kuat.

  • Ernest menilai sistem distribusi film di bioskop saat ini belum ideal meski bukan bentuk kecurangan, sistem yang ideal menurutnya saat penilaian film berfokus pada kualitas karya, bukan sekadar nama besar PH.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mencuatnya isu dugaan monopoli layar bioskop turut menarik perhatian Ernest Prakasa sebagai produser film. Melalui unggahan di Instagram pada Minggu (24/5/2026), Ernest buka suara menyampaikan pendapatnya terkait polemik tersebut.

Untuk diketahui, isu ini kembali muncul ke permukaan publik setelah produser film Nicki R.V. dari 786 Production sempat menyinggung soal jadwal penayangan bioskop yang diduga hanya dikuasai rumah produksi (PH) tertentu. Hal itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI beberapa waktu lalu.

1. Ernest Prakasa ibaratkan bioskop seperti warung dengan rak terbatas

Ernest Prakasa dalam videonya saat menanggapi isu dugaan PH besar monopoli layar bioskop (instagram.com/ernestprakasa)

Melalui videonya, Ernest mengibaratkan sistem penayangan film di bioskop seperti warung dengan rak terbatas. Keterbatasan inilah yang disebut Ernest menjadikan bioskop harus lebih selektif dalam memilih film yang mampu menarik perhatian penonton.

Terlebih lagi, sineas 44 tahun itu juga menyinggung biaya operasional bioskop yang tidak murah. Menurutnya, kondisi tersebut membuat bioskop mau tak mau harus memaksimalkan pendapatan sebanyak mungkin dari setiap layar yang mereka miliki.

"Jadi, sebenarnya tidak ada kayak, 'Wah nyogok tuh dia,' gak ada sih karena seperti analogi warung tadi, bioskop tuh cuma punya satu tujuan. Gimana caranya layar-layar yang terbatas ini menghasilkan sebanyak mungkin tiket. Operasional bioskop tuh mahal banget, guys. Gue bukan belain bioskop, memang kenyataannya begitu," ucap Ernest.

2. PH besar dinilai lebih mudah dilirik bioskop karena faktor reputasi dan promosi

Lebih lanjut, Ernest juga menjelaskan bahwa film hasil produksi PH-PH besar cenderung lebih mudah dilirik bioskop karena telah memiliki reputasi yang baik di mata publik. Menurutnya, ini merupakan faktor unggulan yang dimiliki PH besar selama ini.

"Label-label besar itu lebih punya peluang karena mereka sudah memiliki dua hal yang sulit disaingi. Pertama adalah rasa percaya publik. Ketika melihat brand-nya, orang sudah tahu. Bukan berarti brand baru tidak bisa, tapi kepercayaan orang belum ada. Kira-kira gitu," kata Ernest.

Selain itu, rekam jejak yang bagus dalam mempromosikan film juga dianggap Ernest sebagai faktor lain yang dimiliki PH besar. Menurutnya, dana promosi sangat krusial dalam sebuah produksi film karena inilah yang membuat film makin dikenal banyak orang secara luas. Ernest pun menyebut, semakin besar PH yang memproduksi film tersebut, maka semakin besar pula dana yang mereka alokasikan untuk promosi.

"Ketika film itu mau didistribusikan, tugasnya masih panjang. Promo, marketing, mikirin ide, social media dan segala macam, itu masih panjang banget. Itulah kenapa pihak bioskop cenderung, cenderung bukan mutlak ya, cenderung lebih mudah percaya pada nama-nama besar ini karena mereka udah lihat track-record-nya, 'Oh mereka kalau bikin film promonya gak main-main nih'," jelasnya.

3. Ernest memandang sistem distribusi film di bioskop belum ideal

Potret Ernest Prakasa (instagram.com/ernestprakasa)

Ernest sendiri tidak menganggap kondisi yang terjadi sekarang sebagai praktik kecurangan. Menurutnya, sistem yang berjalan sekarang merupakan bentuk kapitalisme. Meski demikian, ia memandang bahwa sistem distribusi film di bioskop saat ini masih belum ideal.

"Apakah kondisi ini curang atau monopolistik atau licik atau segala macam? Buat gue tidak, karena clear ini, in the purest form is just capitalism aja. Capitalism, tapi fair gitu menurut gue. Kalau pertanyaannya, apakah sistem ini ideal? Nah, menurut gue belum ideal," ujarnya.

Bagi Ernest, sistem distribusi film di bioskop bisa dikatakan ideal apabila penilaian terhadap sebuah film tidak lagi hanya didasarkan pada nama besar PH, tapi pada kualitas karya itu sendiri. Dengan demikian, film-film dari PH independen dapat memiliki kesempatan tayang yang lebih besar di bioskop.

"Kita masih berjuang ke arah sana, gimana caranya mengisi bioskop dengan lebih banyak film-film yang bagus. Bukan cuma film-film yang laku, tapi yang bagus. Bagus menurut kami masing-masing produser dan setiap director tentunya," ucap Ernest.

Editorial Team

Related Article