Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Film India Disebut Lagi Lesu, Kritikus: Justru Tahun Demi Tahun Makin Gede
Kritikus film Daniel Irawan sebelum exclusive screening Badut Gendong di XXI Senayan City, Jakarta, Rabu (6/5/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Kritikus film Daniel Irawan menilai industri film India justru terus berkembang, dengan peningkatan produksi dan distribusi global yang membuktikan daya saingnya di pasar internasional.

  • Beragam proyek besar seperti Ramayana dan karya sutradara S. S. Rajamouli menunjukkan skala produksi India kini setara Hollywood, sementara aktor legendaris masih aktif berkarya.

  • Menurut Daniel, tren naik-turun adalah hal wajar, namun secara keseluruhan industri film India tetap sehat dan kompetitif, bahkan sektor regionalnya mulai melampaui dominasi Bollywood.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Diskusi soal industri film India belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Berawal dari cuitan di X/Twitter yang mempertanyakan kenapa film India tak lagi "dirayakan," muncul berbagai spekulasi soal kondisi industri yang dianggap menurun. Mulai dari isu nepotisme, sulitnya mendapat aktor muda yang cocok, hingga minimnya regenerasi sineas muda di Negara Bollywood itu.

Namun, pandangan tersebut tidak serta merta menjadi konsensus umum. Kritikus film sekaligus Creative Director dari Magma Entertainment, Daniel Irawan, justru melihat kondisi industri film India dari sudut pandang yang berbeda. Ketika ditemui IDN Times sebelum exclusive screening film Badut Gendong di XXI Senayan City, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026), ia menilai industri tersebut masih sangat kuat dan terus berkembang.

1. Daniel merasa kalau industri film India lebih hebat saat ini

Pushpa 2, sekuel yang diboyong Netflix dengan angka fantastis (dok. Mythri Movie Makers/Pushpa 2)

Menanggapi anggapan bahwa film India tak lagi diminati penonton Indonesia, Daniel menilai narasi tersebut kurang tepat. Ia melihat perkembangan industri film India justru semakin besar, baik dari segi produksi maupun distribusi global.

"Kalau gue justru gak setuju. Makanya gue bilang, itu dari siapa tuh yang bilang, 'kok kita gak merayakan film India.' Film India jauh lebih hebat sekarang. Tahun demi tahun dia makin gede," ucapnya.

Menurut Daniel, keberhasilan film-film India dalam menembus pasar internasional menjadi bukti bahwa industri ini masih relevan dan kompetitif di era modern. Pembelian hak digital Pushpa 2 (The Rule) dengan nominal besar oleh Netflix menjadi tolok ukur kalau mereka tak lagi bergantung pada romantisasi film Bollywood seperti Kuch Kuch Hota Hai (1998).

"Kita tahu rekor terbesar pembelian Netflix dan itu bisa dicari di mana-mana di internet, ya. Pushpa 2, itu film tahun 2024 akhir itu dibeli Netflix, diakuisisi Netflix di angka 500 M rupiah. Jadi itu gede banget," lanjutnya.

2. Banyak film blockbuster India yang masih dinantikan penikmat film

King, film aksi terbaru Shah Rukh Khan (dok. Yash Raj Films/King)

Selain capaian distribusi, Daniel juga menyoroti deretan proyek besar yang tengah disiapkan industri film India. Ia mengambil contoh film epik Ramayana (2026) yang digarap dengan skala produksi besar dan direncanakan menjadi waralaba.

"Itu (Ramayana) salah satu yang akan dibuat franchise oleh mereka. Itu budget-nya udah se-budget Hollywood dan tampilannya juga begitu," jelasnya.

Di sisi lain, sutradara besar seperti S. S. Rajamouli juga tengah menyiapkan proyek baru setelah kesuksesan film laga RRR (2022).

"Yang buat film RRR (S.S. Rajamouli) lagi post-producing sekarang, Varanasi namanya. Itu James Cameron-nya India, bikin film 4 tahun sekali. RRR kan kita tahu mendunia gitu, ya," tambah Daniel.

Tak hanya film, para aktor legendaris India pun masih aktif merilis karya. Kehadiran nama-nama besar seperti Shah Rukh Khan, Aamir Khan, hingga Salman Khan menjadi bukti bahwa industri film India masih memiliki daya tarik kuat di pasar global.

"Shah Rukh Khan siapa bilang enggak punya film? King yang sangat ditunggu-tunggu, itu rilisnya Desember 2026. Aamir Khan siapa bilang gak buat film? Ek Din sekarang lagi main di bioskop. Salman Khan, Juli ada filmnya, Maatrubhumi," katanya.

3. Daniel merasa industri film India sedang baik-baik saja

Dhurandhar, film India yang mendulang banyak penonton di Indonesia (dok. Jio Studios/Dhurandhar)

Lebih jauh, Daniel menegaskan bahwa naik-turunnya tren adalah hal yang wajar dalam industri kreatif. Namun secara keseluruhan, ia melihat industri film India masih berada dalam kondisi yang sehat, bahkan semakin kompetitif di level global.

"Makanya sekarang Bollywood juga mulai bangkit lagi. Jangan lupa (film) Dhurandhar itu search record di mana-mana, termasuk di Indonesia. Dia tayang di Senayan sampai sebulan lebih," tegasnya.

Menariknya, perkembangan industri film regional di India juga mulai melampaui dominasi Bollywood. Daniel pun menganggap hal ini sebagai diversifikasi yang justru memperkuat ekosistem perfilman di negara tersebut.

"Jadi memang banyak kalau yang bilang, 'Bollywood ini mundur, temanya itu-itu aja.' Tapi secara production skill semuanya makin bagus. Rekor dunianya, international sales-nya juga makin gila. Itu udah selevel Hollywood. Industri (film) India itu baik-baik saja. Bahkan industri regionalnya udah melampaui Bollywood," tutupnya.

Editorial Team