Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Klasik yang Bahas Ego Lelaki untuk Memahami Obsession
Christine (dok. Columbia Pictures/Christine)
  • Film Obsession (2026) memicu perdebatan karena penonton berbeda pandangan soal siapa antagonis sebenarnya, antara Nikki atau Bear yang dianggap simbol ego lelaki.
  • Lima film klasik seperti Christine, Vertigo, dan Possession dijadikan referensi untuk memahami bagaimana ego lelaki bisa berubah jadi obsesi destruktif dalam hubungan manusia.
  • Artikel menyoroti bahwa sulitnya mendeteksi ego lelaki berakar dari sistem patriarki yang menormalisasi kehendak pria dan menekan perempuan untuk selalu mengakomodasinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ternyata film Obsession (2026) karya Curry Barker memicu perdebatan sengit di media sosial. Tak sedikit yang justru melihat Nikki sebagai si villain atau antagonis, seolah melupakan Bear sebagai penyebab utama dari segala kepelikan yang terjadi.

Kalau kamu salah satu yang masih bingung kenapa Bear layak dapat gelar antagonis yang sesungguhnya, coba tonton 5 film klasik soal ego lelaki (male ego) berikut untuk dapat gambaran lebih jelasnya. Dijamin melek!

1. Christine (1983)

Christine (dok. Columbia Pictures/Christine)

Christine adalah film horor klasik yang berlakonkan Arnie, remaja pria yang kerap dirundung di sekolah. Mentalnya hancur sampai-sampai ia menemukan obsesi berlebih terhadap sebuah mobil antik yang ia beli dengan tabungannya. Arnie melihat mobil yang ia namai Christine tersebut sebagai medium meraih apa yang selama ini tak bisa ia dapat, yakni validasi dan kepercayaan diri. Namun, seiring berjalannya waktu, mobil itu justru menjelma jadi manifestasi ego lelakinya yang destruktif. Ia jadi sosok arogan yang menyebalkan. Perlahan, ia kehilangan kemampuan untuk menjalin koneksi dengan sesama manusia dan semakin tergantung kepada benda mati yang bisa ia perlakukan seenaknya. Mirip dengan Bear yang memanfaatkan Nikki yang kerasukan dan kehilangan otonomi atas tubuh dan pikirannya untuk kepentingannya sendiri.

  • Genre: horor, thriller, coming of age

  • Pemain: Keith Gordon, Alexandra Paul

  • Sutradara: John Carpenter

2. Vertigo (1958)

Vertigo (dok. IFC Films/Vertigo)

Vertigo dibuat Hitchcock dengan lakon Scottie, polisi yang dapat kerjaan sampingan jadi detektif privat untuk salah satu rekannya. Tugasnya mengintai Madeleine, istri si klien yang dianggap punya masalah mental. Selama melakukan pengintaian, Scottie justru menunjukkan gejala obsesi tak sehat terhadap sosok ini. Apalagi ketika subjek yang ia intai mengakhiri hidup di hadapannya. Film kemudian berlanjut ke fase di mana Scottie melihat seorang perempuan yang mirip dengan Madeleine dan yakin kalau mereka orang yang sama. Si Madeleine baru mengaku bernama Judy dan ketika akhirnya mereka berinteraksi, Scottie menunjukkan tanda-tanda haus kontrol. Ia mengatur bagaimana Judy ini harusnya bertindak dan berpakaian.

  • Genre: noir, thriller

  • Pemain: Kim Novak, James Stewart

  • Sutradara: Alfred Hitchcock

3. The Innocent (1976)

The Innocent (dok. Rizzoli Film/The Innocent)

The Innocent juga bisa jadi film soal ego lelaki yang bikin kamu melek tentang Bear di Obsession. Premisnya seputar pria bangsawan yang sudah menikah, tetapi juga punya seorang selingkuhan. Parahnya, ia membongkar identitas selingkuhannya itu kepada sang istri, menganggapnya tak bisa berbuat apa-apa selain menerima nasibnya. Satu hari, sang istri menunjukkan tanda-tanda punya kekasih lain dan ini menyakiti ego si lakon. Dengan keserakahan dan keegoisannya, ia berusaha untuk memastikan istrinya kembali ke pelukannya. Hal ini juga dilakukan Bear yang setelah mendapatkan Nikki, masih juga tergoda untuk menerima cinta Sarah. Seolah penderitaan Nikki belum cukup untuk menggerakkan hatinya.

  • Genre: drama, romance

  • Pemain: Giancarlo Giannini, Laura Antonelli

  • Sutradara: Luchino Visconti

4. Possession (1981)

Possession (dok. Oliane Productions/Possession)

Seorang suami tak terima ketika istrinya melayangkan gugatan cerai. Ia merasa dirinya sudah melakukan yang terbaik sampai ia mulai menyadari sang istri punya selingkuhan dan Bob, putra mereka tidak terawat sejak si istri memutuskan minggat dari rumah. Anehnya, ia melihat sosok mirip istrinya di rumah yang mengaku sebagai guru Bob. Sosok guru bernama Helen ini punya kualitas-kualitas yang diharapkan si suami dari istrinya. Di sisi lain, istrinya punya fantasi ideal tentang suami yang berlawanan dengan suami aslinya. Meski dikemas sebagai dramatisasi hubungan toksik yang mencerminkan kesalahan dari dua belah pihak, elemen ego lelaki cukup kuat di sini. Lewat ketidakstabilan mental sang istri, Zulawski juga menyorot si suami yang tanggung jawab dan keputusannya perlu dipertanyakan.

  • Genre: body-horror. horor-psikologi

  • Pemain: Sam Neill, Isabelle Adjani

  • Sutradara: Andrzej Żuławski

5. A Woman Under the Influence (1974)

A Woman Under the Influence (dok. Criterion/A Woman Under the Influence)

Film tentang ego lelaki lain yang ditulis dengan cara subtle layaknya Obsession juga bisa kamu tonton dengan judul A Woman Under the Influence. Film yang usianya hampir 5 dekade ini berhasil memotret kecenderungan masyarakat mempertanyakan kewarasan perempuan tanpa pernah mencoba melihat fenomena dengan kacamata patriarki yang destruktif itu. Di sini, Cassavetes menggunakan tokoh Mabel, ibu rumah tangga yang baru mengalami kejadian traumatis. Parahnya, ia tak punya waktu atau diberi kesempatan untuk memproses gejolak batinnya dan harus tetap memastikan kebutuhan keluarganya terpenuhi. Hingga satu hari, batinnya tak kuat lagi dan berbagai kepelikan terjadi. Di sini, kamu bakal dibikin sebal melihat kelakuan sang suami dan rekan-rekannya yang terus memojokkan Mabel.

  • Genre: psikodrama

  • Pemain: Gena Rowlands, Peter Falk

  • Sutradara: John Cassavetes

Sebenarnya kecenderungan kita kesulitan mendeteksi ego lelaki sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem patriarki yang sudah mendarah daging. Ia membuat kita menormalisasi kehendak dan hasrat pria dan memaksa perempuan untuk mengakomodasinya seolah itu hal yang etis atau sudah seharusnya. Tak pelak kalau penonton bisa melihat Obsession dari sudut pandang yang bertabrakan. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article