Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film yang Buktikan Feminisme Tidak Menguntungkan Kapitalis
Next Sohee (dok. Trigon Film/Next Sohee)
  • Artikel membahas perdebatan antara feminisme dan kapitalisme, menegaskan bahwa kapitalisme justru mengkooptasi gerakan feminis, bukan sebaliknya.
  • Lima film seperti Woman at War hingga Microhabitat menunjukkan perjuangan perempuan melawan sistem kapitalis yang menindas dan mengeksploitasi gender.
  • Kesimpulannya, feminisme sejati menolak komodifikasi femininitas serta menyerukan kesetaraan berbasis kesadaran kelas dan perubahan sistemik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Beberapa waktu belakangan perdebatan tentang irisan antara feminisme dan kapitalisme menyeruak di media sosial. Ada yang berargumen bahwa feminisme justru menguntungkan kapitalis karena mempromosikan eksistensi pekerja perempuan di bursa kerja.

Mereka juga menyoroti fenomena girlboss, yakni perempuan yang jadi bos atau petinggi di perusahaan dan ikut melanggengkan budaya gila kerja (hustle culture). Belum lagi, komodifikasi barang-barang “feminin” yang menyasar perempuan dengan penghasilan sendiri dan sebenarnya merupakan upaya menormalisasi konsumsi berlebih.

Kritik-kritik tadi tidak sepenuhnya salah, tetapi itu bukan argumen yang tepat untuk menolak feminisme. Fenomena tadi adalah bukti bahwa kapitalis melakukan kooptasi terhadap gerakan pemberdayaan perempuan, bukan sebaliknya.

Dalam sejarahnya, feminisme menginisiasi gerakan-gerakan antikapitalis seperti kesetaraan gaji antara pekerja perempuan dan laki-laki. Mereka pula yang mempromosikan pentingnya pekerjaan yang dulu tak berupah (memasak, mengurus rumah, merawat orang tua) agar diapresiasi layaknya profesi lain. Ini termasuk menuntut cuti orang tua, termasuk ayah.

Supaya irisan antara feminisme dan gerakan antikapitalis lebih jelas, kamu bisa belajar lewat beberapa film berikut. Melek seketika, deh!

1. Woman at War (2018)

Woman at War (dok. Jour2fete/Woman at War)

Woman at War adalah cerita tentang Halla, perempuan paruh baya yang berjuang sendirian menolak ekspansi pabrik aluminium di dekat rumahnya. Awalnya tak digubris, lama-kelamaan aksi konsisten Halla bikin pabrik risi dan memicu keputusan untuk melakukan sabotase balik.

Saat mereka tahu Halla sedang dalam proses mengadopsi seorang anak asal Ukraina, pihak pabrik mencoba menggagalkannya. Halla adalah cerminan perempuan nonkonformis yang memilih untuk mempertahankan independensinya dari korporasi besar dan nekat membentuk keluarga tanpa melalui cara tradisional seperti pernikahan atau hubungan heteroseksual normatif.

  • Genre: drama, komedi

  • Pemain: Halldóra Geirharðsdótti, Jóhann Sigurðarson

  • Sutradara: Benedikt Erlingsson

2. Next Sohee (2022)

Next Sohee (dok. Finecut/Next Sohee)

Sohee adalah murid SMK di Korsel yang pada tahun terakhirnya harus menyelesaikan tugas magang. Ia dapat bayaran, tetapi jelas jauh lebih kecil daripada pegawai tetap. Masalahnya, durasi dan beban kerja di perusahaan call center itu tidak bisa dibilang ringan. Tak hanya dieksploitasi, Sohee juga harus menanggung beban mental gara-gara para peneleponnya.

Di film ini, stigma gender tradisional ikut dieksploitasi oleh perusahaan. Para pekerja perempuan secara alamiah dianggap lebih sabar dan telaten menghadapi amarah penelepon. Padahal, status gender mereka pula yang membuat mereka rentan menjadi korban pelecehan verbal. Namun, itu tak pernah ada dalam pertimbangan perusahaan. Saat Sohee ditemukan tewas bunuh diri, seorang detektif tidak terima dan berusaha mencari penyebabnya.

  • Genre: drama, kriminal

  • Pemain: Bae Dona, Kim Si Eun

  • Sutradara: Jung Ju Ri

3. Working Girls (1986)

Working Girls (dok. Criterion/Working Girls)

Dalam Working Girls, kamu akan diajak mengikuti keseharian sejumlah pekerja di sebuah rumah bordil di New York. Mereka muda dan brilian, memiliki komitmen dan etos kerja yang baik. Namun, kebiasaan pekerjaan itu membuat mereka jadi pesakitan di masyarakat.

Lewat keseharian itu, Lizzie Borden mengajak kita merenungkan lagi makna kebebasan dalam sistem masyarakat kapitalis. Meski para pekerja seks tampak bebas dan tak terikat kontrak, sebenarnya mereka tetap harus mengakomodasi kehendak pasar yang lagi-lagi disetir oleh pemilik modal yang kebanyakan pria pula.

  • Genre: drama

  • Pemain: Marusia Zach, Ellen McElduff

  • Sutradara: Lizzie Borden

4. Pleasure (2021)

Pleasure (dok. Music Box Films/Pleasure)

Observasi serupa bisa kamu temukan dalam film Pleasure karya Ninja Thyberg. Film ini berorbit pada Bella, perempuan muda asal Swedia yang memutuskan untuk berkarier sebagai bintang film dewasa di Amerika Serikat. Awalnya, ia melihat ini sebagai caranya meraih liberasi yang sesungguhnya, tetapi seiring berjalannya waktu, ia sadar bahwa yang ia lakukan justru sebaliknya.

Sebagai pekerja lepas dan perempuan, ia mengalami kerentanan berlapis selama bergelut di industri itu. Pada akhirnya pula, untuk bisa menaiki tangga karier, ia juga harus berkompromi dengan kemauan pasar dan pemilik modal yang mirisnya didominasi pria.

  • Genre: drama

  • Pemain: Sofia Kappel, Evelyn Claire

  • Sutradara: Ninja Thyberg

5. Microhabitat (2017)

Microhabitat (dok. M-Line Distribution/Microhabitat)

Dalam Microhabitat, kamu akan berkenalan dengan Miso, perempuan independen yang tak rela melepas kebebasannya untuk berkompromi dengan sistem kapitalisme yang sudah merasuk dalam tatanan masyarakat Korea Selatan.

Miso, yang dahulu seorang musisi, kehilangan apartemen karena gagal bayar sewa dan terpaksa menumpang di rumah beberapa teman baiknya. Tidak seperti dirinya, teman-temannya yang dahulu juga musisi memutuskan untuk hidup normal, baik dengan menikah, menjadi budak korporat, atau melanjutkan bisnis keluarga walau taruhannya kesehatan mental. Haruskah Miso mengambil jalan serupa?

  • Genre: komedi, drama

  • Pemain: Esom, Ahn Jae Hong

  • Sutradara: Jeon Go Woon

Meski berbeda dari segi plot dan latar, film-film tadi membuktikan bahwa kebebasan, termasuk liberasi perempuan yang diperjuangkan feminis, hanya ilusi ketika sistem kapitalisme dipertahankan dan dipuja. Masalahnya, tak sedikit yang menyederhanakan kooptasi kapitalis terhadap gerakan feminisme sebagai benang merah antara dua ideologi tersebut.

Sebaliknya, feminisme menolak berbagai upaya komodifikasi femininitas yang dilakukan kapitalis. Mereka pula yang memperjuangkan pemberdayaan dan kesetaraan dengan pendekatan kesadaran kelas, serta mengingatkan pentingnya perubahan sistemik dan komunal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article