The Piano (dok. Criterion/The Piano)
Sejalan dengan itu, penyelenggara Oscar atau Academy Awards juga punya kecenderungan yang sampai sekarang tidak berubah saat memilih nomine. Mayoritas film yang dapat nominasi di kategori favorit seperti Best Picture, Best Director, Best Actor, Best Actress, dan Best Screenplay adalah film epik yang biasanya menelan anggaran besar. Cek saja anggaran produksi film yang dapat nominasi di kategori-kategori tersebut. Lebih mudahnya pakai sampel nomine Oscar edisi 2026 saja, yakni Bugonia, Frankenstein, F1, Hamnet, Marty Supreme, One Battle After Another, Sinners. Semuanya kompak di angka puluhan sampai ratusan juta dollar AS. Hanya Sentimental Value, The Secret Agent, dan Train Dreams yang bujetnya di bawah 10 juta dollar AS (Rp 167 miliar).
Jumlah anggaran sebesar itu umumnya rela digelontorkan investor kepada sutradara-sutradara kawakan yang sudah pernah meraih penghargaan atau memang memiliki riwayat membuat film yang sukses secara komersial. Tak pelak, laki-laki mendominasi daftar tersebut. Hanya Chloe Zhao yang bergender perempuan. Itu pun didukung oleh sepak terjangnya menyabet 2 piala Oscar untuk film Nomadland (2020). Nasib Zhao mengingatkan kita pada Jane Campion yang akhirnya bisa dapat pendanaan besar untuk The Power of the Dog (2021) karena sejarahnya menggondol piala Oscar atas film The Piano (1993).
Masalah bujet ini sebenarnya gak hanya dihadapi sutradara perempuan. Quentin Tarantino dan Martin Scorsese juga memulai kariernya dengan bikin film dengan anggaran terbatas sebelum dapat investor besar. Namun, akselerasi perolehan proyek dan peningkatan bujet produksi mereka relatif lebih cepat dibanding rekan sejawat mereka yang perempuan.