Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)

Intinya sih...

  • Memilih pemimpin berdasarkan popularitas, bukan kompetensi

  • Program Lapor Mas Wapres dianggap tidak cocok dan kurang efektif

  • Kritik terhadap ketidakpastian politik, politik balas budi, dan politik uang di Indonesia

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pandji Pragiwaksono mencuri perhatian lewat show stand up comedy terbarunya yang bertajuk "Mens Rea." Special show ke-10 Pandji ini tayang di Netflix sejak 27 Desember 2025 dan bertengger di posisi pertama Top 10 TV Shows in Indonesia Today. Show ini pun masih jadi topik perbincangan hangat warga di media sosial.

Dalam "Mens Rea," Pandji memuat sejumlah kritik pedas terkait kondisi politik Indonesia pasca-Pemilu 2024. Topik berat terkait politik dan sosial disajikan dalam wadah komedi yang membuat berbagai kalangan jadi lebih melek dan mengerti. Apa saja kritik terhadap politik Indonesia yang dibahas dalam show ini?

1. Memilih pemimpin berdasarkan popularitas

Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)

Salah satu topik awal yang Pandji bahas dalam show ini adalah soal cara masyarakat memilih pemimpin. Menurutnya, masih banyak orang yang memilih pemimpin tidak dilihat dari bibit, bebet, dan bobotnya. Yang jadi bahan pertimbangan kerap kali adalah soal agama dan popularitas. Pandji menganggap, tolok ukur itu bisa memunculkan pemimpin yang kurang kompeten.

Ia juga menyoroti masyarakat Jawa Barat, khususnya, yang dalam beberapa periode terakhir, suka memilih figur dari kalangan artis, seperti Dede Yusuf, Dicky Chandra, Deddy Mizwar, Sahrul Gunawan, hingga yang terakhir adalah Jeje Govinda. Menurut Pandji, memilih pemimpin hanya karena latar belakang agama, penampilan, atau ketenaran sama sekali tidak menjamin bahwa orang tersebut memahami jabatan dan tanggung jawab yang ia emban.

2. Program Lapor Mas Wapres

Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)

Masih soal pemilihan pemimpin, Pandji menganalogikan membangun negara seperti membangun sebuah rumah. Ada arsitek, vendor, hingga tukang. Lewat materi ini, Pandji mengkritisi peran Gibran sebagai wakil presiden dan program 'Lapor Mas Wapres' yang ia buka sejak awal menjabat.

Menurut Pandji, peran Gibran di negara ini lebih pas diibaratkan sebagai arsitek, bukan tukang yang bekerja di lapangan. Program tersebut dianggap tidak cocok, karena wapres seharusnya lebih memikirkan ranah kebijakan yang bisa diambil negara, bukan menerima keluhan seperti call center.

Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)

3. Ketidakpastian politik, politik balas budi hingga oper jabatan

Pandji Pragiwaksono tentu saja juga banyak menyindir dan mengkritik para politisi Indonesia. Bahkan dalam tayangan Netflix yang dicap tanpa sensor dan tanpa dipotong, Pandji blak-blakan menyebut nama. Nah, ada beberapa concern yang Pandji utarakan dalam "Mens Rea" terkait kondisi politik Indonesia saat ini, salah satunya adalah soal ketidakpastian politik. Ia menyoroti bagaimana Prabowo Subianto gemar melakukan reshuffle jajaran menteri.

Dibahas juga soal politik balas budi. Saat ia mengundang Ahmad Sahroni ke acara Skakmat di channel YouTube miliknya, politisi itu menyebut, Prabowo sempat menggaransi beberapa posisi menteri untuk anggota partai tertentu sesuai permintaan. Sorotan juga mengarah kepada beberapa figur yang pada Pemilu lalu memberikan suara dan dukungan, mendapat berbagai jabatan, mulai dari stafsus hingga dirut sehingga menimbulkan apa yang disebut sebagai politik balas budi.

Saat membahas soal pemilu, Pandji juga mengkritik politik uang di Indonesia yang begitu kencang. Ia pun menjelaskan bagaimana praktik cuci uang di kalangan pejabat masih marak terjadi.

4. Generasi sekarang susah punya rumah

Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)

Beberapa waktu belakangan ini, di media sosial ramai bahasan perbandingan generasi terdahulu yang mampu membeli rumah di usia 30-an dengan generasi saat ini yang kesulitan melakukannya. Menurut Pandji yang mengutip pernyataan Erick Thohir, hal tersebut disebabkan karena gaya hidup.

Namun, anggapan tersebut gak sepenuhnya menjadi alasan utama. Sebab, zaman sekarang rumah sudah jadi alat investasi yang dilakukan oleh kalangan ekonomi menengah ke atas. Tanah-tanah dan rumah diborong habis bukan untuk ditinggali, tapi dijual kembali dengan harga tinggi. Pandji menilai, pemerintah seharusnya turun tangan untuk mengendalikan harga perumahan komersial, mengingat rumah adalah kebutuhan primer yang termasuk dalam tiga kebutuhan dasar, yakni sandang, pangan, dan papan.

5. No viral no justice

Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)

Sepertinya slogan ini memang sering banget bergaung di media sosial sejak beberapa tahun terakhir. Masyarakat gak bisa dengan mudah mencari keadilan dengan cara melapor ke pihak berwajib. Biasanya jika kasusnya mau ditangani dengan cepat dan serius, kasus tersebut harus viral dulu di media sosial. Fenomena ini membuat masyarakat jadi tidak bisa berharap kepada siapa-siapa, selain kepada diri sendiri.

"Berharap kepada siapa? Polisi kita membunuh, tentara kita berpolitik, presiden kita mau memaafkan koruptor, wakil presiden kita... Gibran," tutup Pandji Pragiwaksono yang disambut standing ovation dari penonton.

Show stand up comedy Pandji Pragiwaksono, "Mens Rea," masih menjadi salah satu konten yang banyak ditonton di Netflix dalam beberapa minggu belakangan ini.

Editorial Team