Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lele Laila Ungkap Tantangan Tulis Remake Horor Korea: Gak Sekadar Translate
potret Lele Laila di MD Palace, Selasa (19/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Lele Laila menulis skenario film 402 Rumah Sakit Angker Korea, adaptasi resmi dari Gonjiam: Haunted Asylum, dan menyebut proyek ini sebagai pengalaman baru dalam menggarap remake horor Korea.
  • Ia menegaskan bahwa adaptasi film luar negeri bukan sekadar menerjemahkan naskah, tetapi perlu memahami budaya, kepercayaan, serta elemen horor yang relevan bagi penonton Indonesia.
  • Menanggapi anggapan krisis ide akibat maraknya remake, Lele memilih fokus pada proses kreatifnya dan percaya setiap karya adalah hasil pemanfaatan kemampuan serta pengetahuan yang dimilikinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Setelah kesuksesan film Danur: The Last Chapter, Lele Laila kembali menghadirkan karya terbaru sebagai penulis skenario film 402 Rumah Sakit Angker Korea. Disutradarai oleh Anggy Umbara, film ini merupakan adaptasi resmi dari film horor Korea populer Gonjiam: Haunted Asylum yang dirilis pada 2018.

Proyek ini menjadi pengalaman istimewa bagi Lele Laila karena untuk pertama kalinya ia menggarap adaptasi dari film horor Korea. Dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times, Selasa (19/5/2026), Lele banyak berbagi cerita tentang proses kreatif di balik penggarapan film tersebut. Saat ditanya soal mana yang lebih sulit antara menulis film adaptasi asing dan film orisinal, Lele menilai keduanya memiliki tantangan masing-masing.

Menurutnya, proses adaptasi tidak sesederhana menerjemahkan naskah dari versi asli, tetapi juga membutuhkan pemahaman mendalam tentang budaya, kepercayaan, hingga elemen horor yang melekat di negara asal cerita tersebut.

1. Mana yang lebih sulit, mengembangkan karya adaptasi atau bikin karya orisinal?

potret Lele Laila di MD Palace, Selasa (19/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Dalam wawancara singkat yang berlangsung sekitar 8 menit, Lele Laila mengungkapkan bahwa baik menulis cerita orisinal maupun mengadaptasi karya asing sebenarnya sama-sama memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Namun, saat menggarap karya remake, ia justru merasa harus melakukan riset budaya yang lebih mendalam.

“Sebenarnya, dua-duanya sama punya kesulitan. Tapi, ketika mengadaptasi, aku tuh selalu kayak, aku pernah mengadaptasi film Turki, Siccin ya. Nah, sebelum mengadaptasi itu, aku harus mempelajari dulu tentang keputusan-keputusan di dalam filmnya,” ujar Lele kepada IDN Times.

Menurutnya, genre horor sangat berkaitan erat dengan budaya, sejarah, dan sistem kepercayaan masyarakat setempat. Oleh karena itu, elemen ketakutan di suatu negara belum tentu bisa diterima oleh para penonton Indonesia.

Lele kemudian mencontohkan bagaimana film horor Turki memiliki kedekatan dengan Indonesia karena sama-sama dipengaruhi ritual dan budaya Islam.

“Horor kan ngomongin budaya, kepercayaan. Dan budaya di Turki, budaya di Korea, budaya di Indonesia itu pasti beda-beda. Kalau ibaratnya di Turki kita kesamaannya, sama-sama mayoritas agama Islam. Jadi pada akhirnya budaya horornya sama lewat ritual agama Islam.”

2. Tekankan adaptasi film luar bukan sekadar translate

press conference film 402 Rumah Sakit Angker Korea di MD Palace, Selasa (19/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Lebih lanjut, Lele kemudian menilai bahwa budaya horor Korea juga cukup dekat dengan Indonesia. Kesamaan itu terlihat dari kepercayaan masyarakat terhadap sosok spiritual seperti dukun atau shaman, hingga kemunculan hantu perempuan.

“Kalau budaya horor di Korea sama budaya horor di Indonesia, kesamaannya adalah kesamaan sejarah Asia. Jadi sejarah orang-orang Asia, bagaimana kemudian ada hantu perempuan, terus habis itu kenapa ada dukun, kenapa ada shaman,” jelasnya.

Menurutnya, kedekatan budaya inilah yang membuat adaptasi horor Korea menjadi lebih mudah diterima oleh penonton Indonesia.

“Akhirnya, aku harus mempelajari itu dulu untuk kemudian memutuskan kayak, ‘Oke ini bisa kita dimasukin nih. Orang Indonesia kan juga akan percaya dan takut sama itu.’”

Oleh sebab itu, Lele menegaskan bahwa proses adaptasi bukan sekadar menerjemahkan dialog atau memindahkan adegan. Menurutnya, penulis skenario pun juga harus memahami alasan di balik setiap elemen cerita yang dipilih oleh versi aslinya.

“Jadi, itulah kenapa adaptasi gak cuma translate doang. Gak! Kita harus mempelajari dulu tuh pilihan-pilihan mereka,” lanjutnya.

3. Respons Lele Laila soal film remake yang sering disebut krisis ide

potret Lele Laila di MD Palace, Selasa (19/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Seiring menjamurnya film remake, terutama adaptasi dari Korea Selatan, muncul pula anggapan dari sejumlah netizen yang menilai industri film Indonesia tengah mengalami krisis ide.

Menanggapi hal tersebut, Lele mengaku tidak terlalu mempermasalahkan berbagai komentar yang muncul. Baginya, yang penting adalah proses kreatif yang dijalaninya.

“Gak apa-apa sih. Itu bagaimana orang berkomentar aja. Buat aku kan proses yang kita lakuin, aku tuh selalu percaya semua kemampuan, semua pengetahuan, itu tuh tools aku yang aku gunain, bukan sesuatu yang harus show off juga.”

Menurut Lele, selama dirinya percaya dengan proses yang dijalani, ia memilih untuk tetap fokus menjalankan pekerjaannya dengan tulus. Sebelumnya, nama Lele Laila telah dikenal luas sebagai penulis naskah di balik semesta Danur dan KKN di Desa Penari. Ia juga tercatat sebagai penulis skenario film-film horor populer lainnya, seperti Siksa Neraka, Pemandi Jenazah, Pengantin Iblis, Pabrik Gula, dan masih banyak lagi.

Editorial Team