Bima Azriel sebagai Kay dalam Nobody Loves Kay (dok. Visinema Pictures/Nobody Loves Kay)
Dunia esports memang penuh dinamika yang sulit ditebak. Tidak jarang seorang sahabat yang selama ini berdiri di samping kita ternyata harus menjadi lawan. Inilah yang menjadi titik paling emosional dalam Nobody Loves Kay ketika Kay harus berhadapan dengan Ido, sahabat yang pernah menemaninya membangun tim esports semasa SMA, demi memperebutkan gelar juara dunia dalam kompetisi Mobile Legends: Bang Bang.
Skenario friend-to-foe ini sudah menjadi hal yang lumrah terjadi dalam esports. Hadji dan Oheb, misalnya, pernah menjadi rekan setim sekaligus sahabat saat membela tim Blacklist International sebelum akhirnya berpisah dan menjadi lawan yang sengit. Adapun, Kairi yang telah berhijrah ke Indonesia pun juga sering kali melawan mantan rekan seperjuangannya dari Filipina saat berkompetisi di ajang internasional, seperti M-Series dan Esports World Cup (EWC).
Layaknya dalam dunia kompetisi, ada saatnya seseorang harus melupakan sejenak status pertemanan demi mengejar tujuan yang besar, yaitu menjadi juara. Nobody Loves Kay menggarisbawahi bahwa untuk menjadi pro player, dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapi rivalitas. Rivalitas adalah hal yang normal, tetapi tidak menjadi alasan untuk menghapus persahabatan hanya karena tidak berada di tim esports yang sama.
Nobody Loves Kay menjadi pengingat bahwa menembus dunia esports bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan tekad dan usaha yang serius. Dibintangi Bima Azriel, Rey Bong, dan Aurora Ribero, film ini memberikan potret realistis bagi kamu yang berminat menjadi pro player. Apakah kamu siap menyaksikan Nobody Loves Kay yang menguras air mata di bioskop XXI dan CGV Indonesia?