Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kurt Cobain
Kurt Cobain (instagram.com/kurtcobain)

Intinya sih...

  • Robert Plant (Led Zeppelin) muak dengan "Stairway to Heaven" karena merasa liriknya tidak mencerminkan dirinya saat ini.

  • Pete Townshend (The Who) malu dengan "Pinball Wizard" karena dianggap kikuk dan ditulis demi menyenangkan kritikus musik.

  • Kurt Cobain (Nirvana) merasa terbebani oleh popularitas "Smells Like Teen Spirit" yang menutupi lagu-lagu lain yang lebih jujur dan personal.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi pendengar, lagu hits sering kali dianggap sebagai puncak pencapaian seorang musisi. Lagu-lagu ini diputar di mana-mana, dinyanyikan ulang oleh ribuan orang, dan menjadi identitas kuat bagi sang pencipta. Namun bagi sebagian musisi rock, popularitas besar justru membawa perasaan yang rumit, bahkan rasa jenuh yang sulit disembunyikan.

Seiring berjalannya waktu, banyak musisi mengalami perubahan cara pandang, selera, dan kedewasaan artistik. Lagu yang dulu ditulis di usia muda bisa terasa tidak lagi mewakili siapa mereka sekarang. Tak heran jika beberapa rock star legendaris justru mengaku muak atau enggan memainkan lagu hits mereka sendiri. Siapa saja musisi rock yang muak dengan lagu hits mereka sendiri?

1 “Stairway to Heaven” – Robert Plant (Led Zeppelin)

“Stairway to Heaven” sudah lama dianggap sebagai salah satu lagu rock paling legendaris sepanjang masa. Namun bagi Robert Plant, vokalis Led Zeppelin, lagu ini bukanlah sesuatu yang selalu ingin ia rayakan. Seiring bertambahnya usia dan perubahan arah musiknya, Plant merasa lirik dan nuansa vokalnya dalam lagu tersebut tidak lagi mencerminkan dirinya saat ini.

Plant pernah mengakui bahwa meski ia menghormati komposisi musik Jimmy Page, lirik “Stairway to Heaven” terasa seperti produk dari dirinya yang masih sangat muda. Ia melihat lagu itu sebagai potret pemikiran seorang pria 23 tahun yang belum memiliki kedalaman hidup seperti sekarang. Karena alasan itu, Plant memilih untuk tidak terlalu terikat dengan lagu favorit penggemar tersebut.

2. “Pinball Wizard” – Pete Townshend (The Who)

Pete Townshend dikenal sebagai musisi yang jujur dan blak-blakan, termasuk soal ketidaksukaannya pada “Pinball Wizard”. Lagu ini justru membuatnya malu karena menurutnya liriknya terasa kikuk dan jauh dari standar penulisan yang ia inginkan. Ironisnya, semua orang di sekitarnya, termasuk publik, justru menganggap lagu ini luar biasa.

Yang membuat Townshend semakin kesal, lagu ini ternyata ditulis dengan niat yang tidak sepenuhnya tulus. Ia mengaku menciptakan “Pinball Wizard” demi menyenangkan seorang kritikus musik yang menyukai permainan pinball. Meski menjadi salah satu lagu The Who yang paling sukses, Townshend kerap menganggap lagu ini sebagai tipuan yang terlanjur melekat dalam kariernya.

3. “Smells Like Teen Spirit” – Kurt Cobain (Nirvana)

Bagi banyak orang, “Smells Like Teen Spirit” adalah lagu wajib era grunge 90-an. Namun bagi Kurt Cobain, popularitas lagu ini justru menjadi beban berat. Ia merasa lagu tersebut terlalu mendominasi citra Nirvana, hingga menutupi lagu-lagu lain yang menurutnya lebih jujur dan personal.

Cobain bahkan pernah mengatakan bahwa ia hampir tidak sanggup memainkan lagu ini di atas panggung. Terlalu sering diputar di MTV dan dielu-elukan sebagai anthem generasi membuatnya kehilangan rasa menyenangkan saat membawakannya. Tak jarang, Cobain sengaja merusak permainan lagu ini saat konser sebagai bentuk perlawanan terhadap ekspektasi publik.

4. “Escape” – James Hetfield (Metallica)

“Escape” mungkin tidak sepopuler lagu Metallica lainnya, tapi justru itulah yang membuat James Hetfield merasa muak dengannya. Lagu ini ditambahkan secara terburu-buru ke album Ride the Lightning karena permintaan label rekaman, bukan karena dorongan kreatif dari band itu sendiri. Hetfield melihatnya sebagai lagu yang tidak mencerminkan identitas Metallica sepenuhnya.

Karena alasan itu, “Escape” hampir tidak pernah dimainkan secara live. Saat akhirnya dibawakan di sebuah festival, Hetfield bahkan memperkenalkannya dengan nada setengah bercanda dan setengah pasrah. Meski tidak sepenuhnya dibenci oleh semua anggota band, lagu ini tetap dianggap sebagai karya yang tidak seharusnya ada.

5. “Shiny Happy People” – Michael Stipe (R.E.M.)

“Shiny Happy People” menjadi salah satu lagu R.E.M. yang paling ceria dan mudah dikenali. Namun justru di situlah masalahnya bagi Michael Stipe. Ia menganggap lagu ini terlalu ringan dan kekanak-kanakan, jauh dari kedalaman emosional yang biasanya ingin ia sampaikan melalui musik.

Stipe bahkan pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin lagu ini menjadi representasi utama R.E.M. untuk selamanya. Meski awalnya ditulis sebagai respons positif terhadap kondisi dunia yang suram, lagu ini sering dianggap ambigu antara serius dan satir. Rasa muak itulah yang membuat “Shiny Happy People” jarang dibawakan secara langsung oleh band.

Lagu yang dicintai jutaan orang belum tentu memberi kebanggaan yang sama bagi musisi yang menulisnya. Justru, ada musisi rock yang muak dengan lagu hits mereka sendiri. Dari rasa malu, jenuh, hingga keinginan untuk bergerak maju, kisah-kisah ini menunjukkan sisi manusiawi para rock star legendaris. Nah, kalau kamu jadi musisi, apakah kamu akan tetap mencintai lagu yang membuatmu terkenal selamanya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team