Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret Annastasia Anderson
potret Annastasia Anderson di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (12/1/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Intinya sih...

  • Versi film memiliki karakter yang lebih kuat dan diambil dari PoV korban dan pelaku

  • Alur ceritanya dibuat berbeda

  • First impression Anastasia Anderson setelah melihat visualisasi novelnya

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Penerbangan Terakhir siap mengudara di bioskop Indonesia mulai 15 Januari 2026. Diadaptasi dari novel karya Annastasia Anderson, film ini membawa kisah panas tentang skandal cinta di dunia penerbangan.

Saat wawancara eksklusif bersama IDN Times, Senin (12/1/2026), Annastasia mengungkap bahwa meski berangkat dari cerita yang sama, adaptasi film yang disutradarai oleh Benni Setiawan ini mengalami cukup banyak pengembangan dari versi novelnya, karena ingin menyesuaikan dengan kebutuhan visual dan emosional dari para penonton. Lantas, apa saja sih perbedaan film Penerbangan Terakhir dengan versi novelnya?

1. Versi film memiliki karakter yang lebih kuat dan diambil dari PoV korban dan pelaku

potret Annastasia Anderson di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (12/1/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Annastasia Anderson mengungkap, salah satu perbedaan utama antara film Penerbangan Terakhir dengan versi novel yang ia tulis terletak pada penguatan karakternya. Dalam novel, tokoh-tokoh sahabat Tiara hanya disebutkan secara singkat. Namun, di versi film, karakter seperti Eva dan Siska diperjelas perannya sebagai teman yang aktif menasihati dan mengingatkan Tiara secara detail, terutama terkait dunia penerbangan yang mereka jalani bersama.

Perbedaan lainnya terlihat dari sudut pandang cerita. Novel menggunakan sudut pandang Tiara yang cenderung menerima informasi dari Deva tanpa banyak ruang untuk menggali isi pikirannya. Sementara di versi film, penonton diajak untuk memahami alasan di balik tindakan setiap tokoh sehingga ceritanya menjadi berkembang, tidak hanya bisa dilihat dari sudut pandang korban, tetapi juga pelaku.

“Di novelnya hanya dari PoV Tiara, apa yang Deva sampaikan, itu dia telan bulat-bulat, tapi kalau ini kita jadi lebih tahu isi pikirannya. Jadi ini memang PoV-nya dari korban dan pelaku,” kata Annastasia, Senin (12/1/2026).

2. Alur ceritanya dibuat berbeda

potret Annastasia Anderson di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (12/1/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Perbedaan lainnya yang diungkap Annastasia Anderson adalah dari segi alur. Menurutnya, versi novel menggunakan alur maju-mundur, di mana kisahnya dibuka dengan kondisi Tiara di masa kini, lalu berlanjut ke kilas balik untuk menjelaskan peristiwa yang membentuk keadaannya saat ini. Sedangkan versi film lebih memilih pendekatan berbeda dengan menghadirkan kejadian secara kronologis, kemudian diakhiri dengan konsekuensi dari peristiwa tersebut.

“Di novel itu adalah keadaan Tiara sekarang, kemudian flashback kejadiannya. Nanti menyambung lagi ke ketika narasinya Tiara di awal, kenapa dia sekarang keadaannya seperti itu. Sementara di film ini kejadian dulu, baru kemudian ada hasilnya,” lanjut Annastasia.

3. First impression Anastasia Anderson setelah melihat visualisasi novelnya

potret Annastasia Anderson di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (12/1/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Anastasia Anderson mengaku sangat terkesan saat pertama kali menyaksikan film yang dibintangi oleh Jerome Kurnia dan Nadya Arina ini. Dengan nada antusias, ia menyebut sutradara dan produser film ini berhasil menerjemahkan pengalaman yang dirasakan oleh para cabin crew ke dalam visual yang terasa autentik.

“Aku bilang gila, ‘Jago banget Pak Benny sama Pak Tony bisa mewujudkan yang benar-benar kita rasakan sebagai cabin crew, sebagai hamba udara,” ungkapnya.

Menurut Annastasia, produser dan sutradara film ini telah melakukan riset yang mendalam. Selain berdiskusi dengannya sebagai penulis novel dan mantan pramugari, tim produksi juga melibatkan pilot serta pramugari aktif. Sehingga, meskipun tidak berasal dari industri penerbangan, tim produksi tetap mampu membangun atmosfer dunia aviasi, termasuk dinamika kerja dan tekanan profesi di film ini secara natural tanpa terkesan dibuat-buat.

Editorial Team