Comscore Tracker

Optimis, 5 Alasan Masa Depan Sinema Asia Tenggara Cemerlang

Diskusi Sundance: Masa depan Sinema Asia Tenggara

Panel diskusi The Future of South East Asia Cinema telah digelar pada Minggu (26/9/2021). Panel diskusi ini merupakan panel diskusi terkahir di acara Sundance Film Festival Asia 2021. 

Panel diskusi ini diisi oleh Malobika Banerji, Mikhail Red, Timo Tjahjanto, dan Vanridee Pongsittisak. Pembahasan dalam panel tersebut memberikan beberapa pesan penting dari panel The Future of South East Asia Cinema bersama keempat pembicara ini. Yuk, disimak!

1. Keunikan budaya mengantarkan film Asia Tenggara ke kancah internasional

Optimis, 5 Alasan Masa Depan Sinema Asia Tenggara CemerlangVanridee Pongsittisak (dok. IDN Times)

Vanridee Pongsittisak, produser dan sutradara film Thailand mengatakan bahwa dari pandangannya sebagai filmmaker Thailand, para filmmaker memiliki banyak cerita lokal yang dapat diangkat menjadi sebuah film.

Dahulu cerita tersebut hanya populer di kalangan masyarakat Thailand saja. Namun, kini mereka dapat memperkenalkan cerita tersebut ke masyarakat dunia. 

"Cerita ini dapat diperlihatkan ke penonton dunia. Hal ini membuat keuntungan bagi kami sebagai filmmaker karena dapat memberikan perspektif kami dari filmmaker Thailand kepada penonton dunia. Dari situ, kami bisa dikenal oleh penonton dunia," ujar Vanridee.

2. Over-the-Top membantu kesuksesan film Asia

Optimis, 5 Alasan Masa Depan Sinema Asia Tenggara CemerlangMikhail Red (dok. IDN Times)

Mikhail Red, produser dan sutradari film Filipina, mengatakan adanya digitalisasi membuat film dari berbagai negara dapat dikenal oleh penonton dunia. Hal ini membawa keuntungan tidak hanya pagi penonton dunia, tetapi juga para filmmaker.

"Kami bisa memperkenalkan film yang kami buat berkat canggihnya teknologi saat ini. Kemudian, penonton dunia jadi bisa melihat budaya Filipina yang sangat beragam," kata Mikhail.

Menurut Mikhail, dengan adanya OTT, film Asia dapat ditonton tidak hanya oleh penonton lokal, tetapi juga penonton dunia. Tentunya, OTT juga memberikan keuntungan bagi para filmmakers karena mereka bisa mendapatkan keuntungan yang lebih. 

Hal ini juga dirasakan oleh Timo Tjahjanto, sutradara dan produser film Indonesia, yang juga merasa filmnya lebih dikenal oleh penonton dunia. Bila penonton dunia ingin menonton film dari negara lain, mereka hanya perlu membuka OTT dan mencari judulnya saja. Tentunya hal ini menjadi sangat mudah bagi penonton dunia. 

"Pengertian dari sinema tidak lagi sebagai teatrikal, tetapi menjadi streaming thing,”  ujar Timo. 

Baca Juga: Daftar Lengkap Pemenang Penghargaan Sundance Film Festival: Asia 2021

3. Budaya di Asia serupa tapi tak sama

Optimis, 5 Alasan Masa Depan Sinema Asia Tenggara CemerlangTimo Tjahjanto (dok. IDN Times)

Timo Tjahjanto mengatakan bahwa budaya di Asia memiliki banyak kemiripan. Tidak hanya budaya, bahkan tim produksi dari negara di Asia, contohnya Indonesia dan Thailand, juga memiliki kemiripan. 

"Contohnya dalam film saya yang berjudul Killers, saya bekerja sama dengan tim produksi Jepang. Cara kerjanya mirip cenderung sama tapi beda. Jadi, sekarang ini batasannya semakin rendah," kata Timo.

Menurut Timo, situasi pandemik COVID-19 ini juga mengubah pandangan para filmmaker dalam membuat film. Kesempatan mereka untuk berkolaborasi justru lebih besar. 

"Para filmmaker Asia untuk berkolaborasi itu sangat mungkin. Dari satu film, contohnya cerita dalam film Vietnam berjudul Furie dapat dimengerti secara universal. Jadi sangat mungkin karena bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan," ujar Timo. 

4. Tantangan utama para filmmaker Asia

Optimis, 5 Alasan Masa Depan Sinema Asia Tenggara CemerlangMalobika Banerji (dok. IDN Times)

Menurut Mikhail Red, salah satu tantangan bagi filmmakers adalah didistribusi film. Walau suatu film dapat dikenal dan ditonton oleh masyarakat dunia, tetapi sulit untuk menarik perhatian masyarakat lokal. 

"Masyarakat lokal menonton film Hollywood populer dengan berbagai macam genre, salah satunya bergenre komedi romantis. Film tersebut adalah film yang sudah populer. Jadi, standar masyarakat lokal justru dari film Hollywood," ujar Mikhail. 

Selain itu, Mikhail juga mengatakan bahwa tantangan terbesar bagi filmmakers adalah perihal biaya. Terkadang mereka sulit mendapatkan biaya untuk produksi.

"Saya sebagai filmmaker terkadang membuat film bergenre thriller dan aksi yang dapat ditonton semua kalangan. Hal itu membuat saya kesulitan untuk mendapatkan biaya produksi. Jadi, saya harus membuat tim produksi yang tidak banyak, tidak ada pemeran pengganti, dan scene yang tidak begitu hebat," kata Mikhail. 

Sedangkan, Mikhail mengatakan bahwa ia juga harus bersaing dengan film Hollywood dan hal tersebut tidaklah mudah dengan biaya produksi yang sedikit. Jadi tantangannya adalah harus menjelaskan pada produser lokal jika ini membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. 

5. Format film yang masuk ke Netflix

Optimis, 5 Alasan Masa Depan Sinema Asia Tenggara CemerlangThe Future Of South East Asia Cinema (dok. IDN Times)

Malobika Banerji, Content Director, SEA, Netflix, mengatakan bahwa tidak ada ketentuan format khusus untuk sebuah film dapat masuk di Netflix. Hanya saja film tersebut dapat memberikan penonton pengalaman menonton yang terbaik. 

"Kami sebenarnya fleksibel, jadi kami melihat kreativitas dari cerita yang filmmaker-nya ingin sampaikan. Namun, kami memiliki beberapa spesifikasi teknik. yakni melihat dari kualitas dari produksinya," ujar Malobika. 

Malobika juga mengatakan bahwa saat ini Netflix ingin fokus menyediakan film lokal dari berbagai negara, contohnya seperti film Ali & Ratu Ratu Queens dari Indonesia dan Girl from Nowhere dari Thailand.

"Jadi, kami mencari cerita lokal dari berbagai negara yang nantinya dapat kami sesuaikan dengan target pasar dari berbagai negara tersebut. Kami baru saja mulai, semoga saja film-film ini dapat disukai oleh penonton," kata Malobika. 

Masa depan sinema Asia Tenggara ternyata sangat menjanjikan. Semoga ke depannya film-film Asia Tenggara semakin dikenal dunia, ya!

Baca Juga: 5 Pesan dari Diskusi Film Dokumenter Sundance

Topic:

  • Zahrotustianah

Berita Terkini Lainnya