A Moment of Romance (dok. Movie Impact/A Moment of Romance)
Benny Chan tak mengungkap transformasi itu lewat dialog atau tulisan, tetapi melalui perbedaan kasta sosial-ekonomi Wah Dee dan Jo Jo. Wah Dee yang seorang yatim piatu tinggal di bangunan lawas vertikal bersama 3 bibi dan 1 tetangga yang sudah seperti paman buatnya (diperankan aktor kawakan Ng Man-Tat). Standar hidupnya kontras dengan Jo Jo yang tinggal di rumah bergaya kolonial Inggris bersama seorang asisten rumah tangga. Sementara, ayah dan ibu Jo Jo lebih sering berada di luar negeri untuk urusan bisnis.
Eksistensi jarak besar antara warga kelas atas Hong Kong yang mengadopsi gaya hidup Barat dengan dengan kalangan kelas pekerja memang sedang menjadi-jadi pada dekade 90-an. Mengutip tulisan Kui-Wai Li dalam Journal of Asian Economics berjudul "The economic strategy for the Hong Kong SAR: Evidence from productivity and cost analysis", fenomena ini terjadi seiring dengan peralihan ekonomi dari yang berbasis manufaktur ke sektor jasa. Hong Kong mengalaminya sejak pertengahan 80-an dan memuncak pada 90-an.
Peralihan ini ditandai dengan menyusutnya aktivitas ekonomi riil yang berakibat pada pengurangan tenaga kerja. Tak pelak, kelas pekerja jelas jadi kalangan paling terdampak. Di sisi lain, pemilik modal dari kelas menengah atas berjaya lewat aktivitas spekulasi yang makin masif dan menguntungkan saat itu. Wah Dee dan Jo Jo mewakili dua kelas dengan ketimpangan yang semakin parah.
Dirilis pada permulaan era emas sinema Hong Kong, A Moment of Romance merupakan film yang bisa dibilang sederhana, agak hopeless romantic, tetapi tetap realistis. Sebagian darimu mungkin kurang puas dengan bagian akhirnya yang tak utopis, tetapi justru itu salah satu poin terkuat sinema Hong Kong 90-an tersebut.