Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fallen Angels
Fallen Angels (dok. Block 2 Production/Fallen Angels)

Intinya sih...

  • Fallen Angels adalah film yang mengangkat isu kesepian dan mendamba, dengan format cerita bercabang dan karakter tanpa nama spesifik.

  • Jalinan plotnya lebih rapi dan kompleks dibanding Chungking Express, dengan interaksi karakter yang lebih terjalin dan kehadiran karakter ayah He Qiwu.

  • Sinematografi nyentrik yang sulit ditiru, dengan penggunaan lensa ultra-wide dan fisheye serta sekuens slow-motion hitam putih yang menghipnotis.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dikenal luas gara-gara Chungking Express (1994) dan In the Mood for Love (2000) yang fenomenal, Wong Kar Wai ternyata punya satu film yang cenderung terlupakan. Bukan debutnya, bukan pula yang terbaru, tetapi Fallen Angels (1995). Sebuah film yang ia rilis tak lama setelah Chungking Express dan sering disebut sebagai sekuelnya.

Seperti Chungking Express, Wong masih menjelajahi isu kesepian dan yearning (mendamba). Ia juga masih bekerja sama dengan kolaborator setianya, Christopher Doyle, di departemen sinematografi. Tak pelak, visual dua film itu terasa familier dan mirip.

Namun, ada banyak perbedaan dan inovasi yang ditawarkan Wong Kar Wai dan Christopher Doyle di sini. Apa saja? Yuk, bahas review film Fallen Angels lebih dalam!

  • Genre: noir, romance, komedi

  • Pemain: Leon Lai, Michelle Reis, Takeshi Kaneshiro, Charlie Yeung

  • Sutradara: Wong Kar Wai

  • Skor: 5/5

1. Fallen Angels seolah didedikasikan untuk orang-orang yang tertolak dan terjebak dalam perasaan mendamba

Fallen Angels (dok. Block 2 Production/Fallen Angels)

Seperti Chungking Express, film Fallen Angels juga pakai format cerita bercabang. Film dibuka dengan memperkenalkan kita pada seorang pria dan perempuan (Leon Lai dan Michelle Reis) yang merupakan mitra kerja. Namun, saat salah satu mengakui perasaannya, relasi mereka jadi rumit dan keduanya mengalami krisis. Satu tenggelam dan rasa mendamba dan kesepiannya, satu lagi justru melampiaskannya dengan menjalin hubungan tanpa status dengan perempuan lain (diperankan Karen Mok).

Wong tak memberi nama spesifik untuk karakter-karakter di film ini. Hanya “si bisu” He Qiwu (Takeshi Kaneshiro), lakon utama di cerita kedua yang punya nama jelas. He Qiwu pula sosok paling mencolok di film ini. Sebelum menyelami kisah cintanya yang juga bertepuk sebelah tangan dengan perempuan depresi (diperankan Charlie Yeung), Wong Kar Wai mengajak kita mengikuti pekerjaannya yang nyeleneh serta interaksinya dengan sang ayah dan pelanggannya yang kocak.

Tak hanya latar urban Hong Kong yang penuh neon, beberapa karakter memang punya kemiripan dengan Chungking Express. Takeshi Kaneshiro kembali didapuk jadi He Qiwu yang di Chungking Express adalah polisi patah hati. Perempuan berambut pirang yang jadi love interest salah satu karakter di Fallen Angels mungkin akan mengingatkanmu pada karakter yang diperankan Brigitte Lin di Chungking Express. Namun, dari segi cerita, dua film ini beda jauh, begitu pula dengan cara Wong Kar Wai mengemas plotnya.

2. Jalinan plotnya lebih rapi dan kompleks dibanding Chungking

Fallen Angels (dok. Criterion/Fallen Angels)

Dalam Chungking Express, beberapa karakter memang dipotret berpapasan di beberapa adegan, tetapi hampir tak ada interaksi yang terjadi setelahnya. Peralihan antara cerita pertama dan kedua pun terlihat jelas. Ini yang tidak diadopsi lagi dalam Fallen Angels oleh Wong Kar Wai. Sang sutradara memilih untuk tidak memenggal cerita dengan jelas, tetapi membiarkannya mengalir secara silih berganti.

Beberapa karakter dari dua cerita yang seharusnya terpisah kadang bertemu dan berinteraksi langsung ketimbang hanya berpapasan tanpa menyadari eksistensi masing-masing. Teknik ini pula yang dipakai untuk adegan pemungkasnya. Kelebihan lain dari Fallen Angels adalah keputusan Wong Kar Wai menyertakan karakter ayah He Qiwu (diperankan Chen Man Lei) dalam cerita. Tak hanya menyoal asmara, kehadiran karakter ayah itu memungkinkan Wong Kar Wai menjelajahi isu kesepian dan mendamba dalam hubungan orangtua dengan anaknya.

3. Sinematografi nyentrik yang sampai sekarang susah ditiru

Fallen Angels (dok. Block 2 Production/Fallen Angels)

Satu hal mencolok lain yang bikin orang susah melupakan Fallen Angels adalah sinematografinya yang tak biasa. Meski digarap Doyle yang juga mengerjakan sinematografi film Wong Kar Wai lainnya Days of Being Wild (1990) dan Chungking Express (1994), Fallen Angels terasa berbeda. Kalkulasi sudut kamera dan jenis lensa yang dipilih Doyle untuk film itu masih jadi misteri dan bahan spekulasi sampai sekarang. Para pegiat fotografi tahu pasti kalau Doyle menggunakan lensa ultra-wide dan fisheye, tetapi belum ada yang bisa memastikan secara akurat ukuran dan merek lensa yang bisa menciptakan gambar seunik dan serapi Fallen Angels.

Satu aspek lain yang juga menarik perhatian penonton adalah sekuens slow-motion hitam putih di restoran. Sekuens itu mungkin terasa tak koheren dengan keseluruhan tema dan color-grading film, tetapi begitu menghipnotis dan ternyata cukup penting keberadaannya. Menariknya lagi, hampir seluruh adegan di Fallen Angels berlatar malam hari, membuatnya begitu stylish dan tentu menantang dari segi teknik pencahayaan.

Seperti Chungking yang diakhiri dengan lagu ikonik “California Dreamin” (dipopulerkan The Mamas & the Papas pada 1966), Fallen Angels ditutup dengan lagu acapella “Only You” versi The Flying Picket (1984) yang beresonansi kuat dengan adegan finalnya. Kalau boleh menyimpulkan, Fallen Angels menawarkan pengalaman sinematik yang komplet: cerita genre bending (perpaduan noir, romansa, dan komedi), penuh ketidakterdugaan, dan visualnya ciamik. Sayang kalau tak ditonton setidaknya sekali seumur hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team