[REVIEW] Urchin, Melihat Tunawisma dari Sudut Pandang Berbeda

- Urchin (2025) mencuri perhatian dengan 4 nominasi di Cannes Film Festival 2025 dan 6 nominasi di British Independent Film Awards 2025.
- Film ini memotret kecenderungan pemerintah menangani problem homelessness dan kaitan erat absennya orangtua dengan isu tunawisma.
- Mengangkat isu adiksi, Urchin berhasil menyentuh masalah yang belum banyak disorot sineas yang mengangkat tema serupa.
Urchin (2025) jadi salah satu film debut yang mencuri perhatian tahun ini. Setelah memboyong 4 nominasi di Cannes Film Festival 2025 dan menyabet 1 piala di segmen Un Certain Regard, film ini kembali menghebohkan British Independent Film Awards 2025 dengan total 6 nominasi. Gak hanya Harris Dickinson yang disorot selaku aktor bermanuver jadi sutradara, performa akting Frank Dillane juga menuai respons positif.
Urchin memang bukan film pertama yang membahas kelompok marginal, lebih spesifik tunawisma, tetapi eksekusinya cukup segar. Dipadu dengan beberapa adegan surealis, film ini tetap mengena dan sukses menyenggol masalah yang belum banyak disorot sineas yang mengangkat tema serupa. Sebagus apa sih film ini? Berikut ulasannya buatmu.
1. Dibuka dengan ironi yang bikin penonton langsung tertohok

Tanpa basa-basi, Urchin langsung dibuka dengan adegan epik seorang perempuan misionaris yang sedang berdakwah di jalanan London. Suaranya yang menggelegar membangunkan Mike (Frank Dillane) yang sedang tertidur di pinggir jalan tanpa alas apa pun dengan pakaian lusuhnya. Mike yang terbangun dan kesal kemudian melanjutkan hidupnya hari itu, mengemis ke pejalan kaki yang kebanyakan mengabaikannya.
Singkat cerita, ia kemudian terlibat perkelahian dengan rekan sesama tunawismanya, Nathan, yang diperankan Dickinson sendiri. Konflik itu kemudian mempertemukannya dengan sesosok pemuda baik hati yang menawarkan Mike bantuan. Ironisnya, Mike justru merampok pria itu dan akhirnya tertangkap polisi.
Kita mungkin ini bakal berakhir sangat buruk bagi Mike. Ia bakal punya catatan kriminal dan tak punya masa depan. Ironisnya, aksi kriminal dan penangkapannya itu justru yang mengantarnya dapat kesempatan kedua untuk memperbaiki hidup. Di penjara pula, ia akhirnya bisa tidur beralas kasur dan membersihkan diri.
Ini mengingatkan kita pada kasus nyata di negeri sendiri. Tepatnya pada 2023 di Cilacap, Jawa Tengah, seorang pemuda perantau yang sempat mengaku mencuri motor agar dipenjara dengan harapan bisa makan gratis dan tak perlu bayar sewa. Kejahatannya tak terbukti dan ia dibebaskan. Miris, beberapa tahun kemudian, pemuda itu ditemukan tewas karena kelaparan.
2. Memotret kecenderungan pemerintah menangani problem di permukaan saja

Problem homelessness memang konsekuensi dari sistem kapitalis yang diadopsi sebagian besar negara di dunia. Namun, Dickinson memilih untuk tidak fokus pada ketimpangan ekonomi dalam film debutnya itu. Lewat balada Mike, kita justru dibikin melihat betapa tidak seriusnya pemerintah menangani isu itu. Seperti biasa, mereka hanya menangani masalah di permukaan ketimbang memperbaiki dari akarnya.
Selepas dari penjara, Mike memang dapat bantuan, yakni dukungan finansial untuk tinggal di sebuah hostel selama 10 minggu. Istilahnya penginapan darurat sementara. Lebih baik dari shelter, Mike dapat kamar dan kamar mandi pribadi. Ia akhirnya merasakan kebebasan dan kestabilan yang selama beberapa tahun sulit ia raih. Mike bahkan dapat pekerjaan di sebuah restoran yang memungkinkannya membentuk sirkel pertemanan positif. Sayang, ini tak bertahan lama. Ketika masa dukungan pemerintahnya habis, maka tak ada bantuan lagi yang bisa ia dapat. Padahal, mendapatkan rumah sewa dengan upah minimum bukan perkara mudah di Inggris.
Dilansir The Guardian, krisis perumahan sudah tampak di Inggris sejak 1985. Tepatnya saat Margaret Thatcher memberlakukan kebijakan Right to Buy yang membuat penyewa bisa membeli rumah dengan harga terjangkau, bahkan dengan diskon. Tujuannya baik, tetapi ini tidak diimbangi dengan pembangunan perumahan murah untuk disewa. Ketika Inggris mengalami kenaikan populasi, krisis perumahan terjangkau pun menyeruak. Kelangkaan yang berakibat pada kenaikan harga parahnya tidak berimbang dengan kenaikan gaji.
3. Kaitan erat absennya orangtua dengan isu tunawisma

Selain ketimpangan yang didorong oleh sistem kapitalis Thatcher, cerita Mike dalam Urchin juga mengekspos fakta miris lain, yakni hubungan erat antara absennya orangtua dengan tunawisma. Pada salah satu adegan, Mike mengaku bahwa dirinya dibesarkan oleh orangtua angkat sebagai anak adopsi. Situasi ini membuatnya tak punya jaring pengaman yang solid, terbukti ia tak dapat dukungan yang diharapkan saat mencoba mengontak orangtua angkatnya.
Parahnya, Mike bukan kasus eksklusif. Menurut data yang dihimpun Sanders, dkk untuk artikel mereka yang berjudul ‘Homelessness and Children’s Social Care in England’ dalam European Journal of Homelessness, tak sedikit anak muda berusia 17—21 tahun yang pernah berada di panti asuhan atau sistem foster pemerintah Inggris punya masalah dengan akomodasi atau tempat tinggal layak.
Lebih rinci, data 2018—2021 menunjukkan setidaknya 33—37 persen anak berusia 17 tahun yang keluar dari panti asuhan tak punya tempat tinggal layak atau tak diketahui nasibnya. Pada responden berusia 19—21 tahun, persentase itu berkurang sedikit jadi sekitar 10-15 persen.
Dalam film ini, Dickinson juga mencatut isu adiksi yang jadi musuh besar Mike. Adiksi alkohol dan obat terlarang sering dijadikan kambing hitam yang menyebabkan seseorang jadi tunawisma. Padahal, akar dari adiksi sendiri bisa sangat kompleks. Salah satunya, pengalaman masa kecil yang traumatis akibat besar dalam keluarga disfungsional. Faktanya, ini umum ditemukan di kalangan anak-anak dalam sistem foster. Adiksi juga bisa berakar dari situasi tunawisma itu sendiri yang membuat orang mengalami stres kronis dan akhirnya memilih distraksi yang destruktif.
Masalah ini tidak hanya ditemukan di Inggris, tetapi terjadi secara global. Tak heran kalau Urchin karya Harris Dickinson terasa familier. Terutama dengan beberapa film lawas tentang tunawisma seperti Vagabond (1985) asal Prancis, film Iran The Runner (1984), serta My Own Private Idaho (1991) dan Suburbia (1983) yang berlatar Amerika Serikat. Bagaimana menurutmu? Pantaskah Urchin disebut film debut terbaik tahun ini?



















