Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Film Lift, Premis Menarik, Tapi Eksekusi Kurang Menggigit
Lift (dok. Trois Films/Lift)
  • Film thriller psikologis Indonesia berjudul *Lift* mengusung konsep teror di ruang sempit tanpa hantu, menyoroti konflik moral dan rahasia masa lalu para tokohnya.
  • Naskahnya dinilai ambisius namun kurang fokus, dengan alur maju-mundur membingungkan serta kritik sosial yang tidak tergarap matang sehingga pesan film terasa kabur.
  • Performa para aktor belum mampu menyelamatkan eksekusi film yang datar, membuat ketegangan dan humor gagal tersampaikan secara maksimal di layar lebar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagaimana rasanya terjebak di lift saat nyawa anakmu dipertaruhkan? Pertanyaan itu jadi mesin utama Lift, film thriller psikologis Indonesia terbaru. Diproduksi oleh Trois Films dan disutradarai Randy Chans, film ini mencoba jalur yang berbeda dari horor lokal kebanyakan: tanpa hantu, tanpa pembunuh berantai, hanya ruang sempit dan suara misterius di interkom.

Premisnya terdengar menjanjikan. Namun seperti lift yang macet, eksekusi film ini kerap terasa menggantung. Seperti apa maksudnya? Mari kita simak ulasan lengkapnya di bawah!

Sinopsis Lift (2026)

Enam tahun setelah kecelakaan lift yang menewaskan Direktur Utama PT Jamsa Land, Gabriel, perusahaan konstruksi itu kembali diguncang teror. Hansen (Verdi Solaiman), direktur baru, tiba-tiba menghilang. Di tengah kekacauan, Linda (Ismi Melinda), staf humas perusahaan, justru terjebak di lift yang macet bersama Anton (Max Metino), mantan jurnalis yang kini banting setir jadi podcaster cerewet.

Lewat interkom, suara pria misterius mulai mengatur langkah mereka satu per satu. Ancaman demi ancaman dilontarkan, termasuk membuka keterlibatan Linda dan Anton dalam insiden lift enam tahun lalu. Teror makin personal saat Linda sadar anaknya, Jonathan, dijadikan sandera.

Di sisi lain, Doris (Shareefa Daanish), istri Hansen, ikut terseret setelah menerima pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor tengah malam. Terjebak dalam ruang sempit, Linda dihadapkan pada dua pilihan: menjaga citra perusahaan atau mengorbankan segalanya demi anaknya. Siapa dalang di balik semua ini? Dan apa sebenarnya yang ditutup-tutupi selama enam tahun terakhir?

Lift
2026
2/5
Directed by Randy Chans
ProducerAdha Riantono
WriterRandy Chans, Aria Gardadipura
Age RatingD17
GenreThriller, mystery
Duration98 Minutes
Release Date26 Februari
ThemePsychological thriller
Production HouseTrois Films, Maxima Pictures
Where to WatchBioskop
CastShareefa Daanish, Ismi Melinda, Verdi Solaiman, Alfie Alfandy, Max Metino, Teuku Rifnu Wikana, Tegar Satrya, Berlliana Lovell

Trailer Lift (2026)

1. Naskah ambisius, tapi alurnya tidak fokus

Lift mencoba bermain di wilayah thriller satu lokasi (one location thriller), mirip pendekatan film seperti Phone Booth (2002) yang memeras ketegangan dari ruang terbatas. Masalahnya, naskah Lift justru terlalu sibuk sendiri.

Alur maju-mundur terasa membingungkan, bahkan lebih ruwet dari Tenet (2020) atau Memento (2000), tanpa kedalaman emosi di dalamnya. Banyak potongan informasi dilempar begitu saja, membuat penonton sibuk menyusun puzzle alih-alih ikut larut dalam ketegangan.

Dialog pun kerap terdengar tanggung, seperti kalimat "Akan jadi masalah kalau memunculkan masalah", yang lebih bikin kening berkerut daripada memberi makna. Alih-alih jadi tajam atau edgy, kritik sosial yang ingin diselipkan justru terasa kabur.

2. Kritik sosial ada, tapi tak pernah benar-benar sampai

Film ini ingin memuat banyak isu sekaligus: korupsi, kebobrokan internal perusahaan, hingga kebiasaan "nakal" pejabat yang digambarkan lewat dialog seksis yang canggung. Sayangnya, semua itu terasa seperti daftar belanja semata, bukan tema yang diolah matang.

Alih-alih memperkaya cerita, lapisan-lapisan isu ini justru membuat fokus narasi buyar. Lift ingin bicara soal moral, kekuasaan, dan rasa bersalah, tapi tidak memberi ruang cukup untuk satu pun berkembang secara organik. Hasilnya, pesan yang harusnya menggigit malah lewat begitu saja.

3. Akting para aktor tak bisa jadi "penyelamat"

Meski dibintangi Shafeera Danish, film ini tak punya "power house performance" yang benar-benar bisa mengangkat materialnya. Shafeera berusaha keras membawa emosi Doris, tapi terbentur naskah yang tak konsisten sampai babak ketiga.

Sementara itu, Teuku Rifnu Wikana hanya mendapat screen time terbatas, dan karakternya nyaris tak memberi dampak signifikan pada plot. Sayang sekali, karena potensi konflik sebenarnya bisa diperdalam lewat perannya.

Beberapa adegan yang niatnya jadi komedi ringan, malah tetap datar. Selama screening di bioskop, tawa penonton jarang pecah. Vibes yang muncul bukan tegang atau menghibur, tapi membosankan, seperti menunggu lift macet yang tak kunjung bergerak.

4. Apakah Lift recommended untuk ditonton?

Sebagai thriller psikologis, Lift punya premis yang menarik. Konsep teror di ruang sempit sebenarnya menjanjikan, apalagi jika fokus pada permainan psikologis seperti yang dilakukan Phone Booth, Red Eye (2005), atau terbaru Locked (2025). Sayang, eksekusinya terlalu ambisius.

Dengan naskah yang ruwet, kritik sosial setengah matang, dan performa aktor yang tak sepenuhnya dimaksimalkan, Lift akhirnya terasa seperti eksperimen yang belum selesai. Siap gak siap dikumpulkan. Bagi kamu yang penasaran dengan thriller lokal berkonsep minimalis, film ini mungkin tetap layak ditonton. Namun, kalau berharap ketegangan solid dari awal sampai akhir, sebaiknya turunkan ekspektasi.

Jika kamu penasaran apakah Linda berhasil keluar dari "perangkap moral" di dalam lift itu, kamu bisa menyaksikan Lift mulai 26 Februari 2026 di bioskop. Jangan lupa, bagikan pendapatmu setelah menonton. Siapa tahu, diskusinya jadi lebih seru dari filmnya.

Editorial Team