Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Review Film Kokuho, Drama Kabuki 3 Jam yang Indah, Sinema!

Review Kokuho.jpeg
Kokuho (dok. Toho/Kokuho)
Intinya sih...
  • Skrip yang solid dengan dualisme karakter yang kuat
  • Visual dan scoring yang memanjakan penonton
  • Berisi banyak lompatan waktu selama 175 menit
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah mengejutkan banyak orang dengan masuk radar Oscar 2026, Kokuho akhirnya resmi tayang di Indonesia. Film tentang seni kabuki ini tak cuma tampil sebagai drama biografi biasa, tapi juga potret panjang tentang ambisi, pengorbanan, dan harga yang harus dibayar demi mimpi.

Dibintangi Ryo Yoshizawa dan Ryusei Yokohama, Kokuho sudah lebih dulu rilis di Jepang sejak Juni 2025 dan mencatatkan rekor sebagai film non-animasi Jepang terlaris sepanjang masa. Durasinya hampir 3 jam, tapi percayalah ini tipe film yang bikin kamu lupa waktu. Berikut ulasannya.

Sinopsis Kokuho (2026)

Berlatar Jepang pascaperang, Kokuho mengisahkan Kikuo muda (Sōya Kurokawa) yang menyaksikan tubuh ayahnya, seorang bos yakuza, luruh di atas hamparan salju. Darah merah itu menodai putihnya dunia, seperti riasan kabuki yang menyimpan tragedi di balik kecantikannya. Sejak awal, Kokuho (yang berarti "harta karun nasional") sudah bicara soal dualisme hidup: indah sekaligus brutal.

Takdir pun membawa Kikuo Tachibana ke aktor kabuki ternama, Hanai Hanjiro II (Ken Watanabe). Bersama anak kandungnya, Shunsuke (Ryusei Yokohama), Kikuo menempuh latihan keras dunia kabuki, termasuk peran onnagata, di mana aktor laki-laki memerankan karakter perempuan.

Puluhan tahun berlalu dalam pusaran persahabatan, rivalitas, skandal, dan kehormatan. Dua anak muda ini tumbuh dalam sistem seni yang sangat menjunjung garis keturunan. Kikuo punya bakat dan ambisi, tapi tak punya darah keluarga. Shunsuke adalah pewaris sah, tapi lebih gemar berpesta. Dari sinilah konflik menajam, membawa mereka ke puncak panggung, sekaligus jurang paling sunyi dalam hidup masing-masing.

Kokuho
2026
4.5/5
Directed by Sang Il Lee
Producer

Hiroyuki Araki, Minami Ichikawa

Writer

Satoko Okudera, Shuichi Yoshida

Age Rating

D17

Genre

Drama, coming-of-age, Japanese

Duration

175 Minutes

Release Date

18 Februari

Theme

Biopic fiction

Production House

Credeus, Toho

Where to Watch

Bioskop

Cast

Ryo Yoshizawa, Ryusei Yokohama, Mitsuki Takahata, Shinobu Terajima, Min Tanaka, Ken Watanabe

Trailer Kokuho (2026)

Cuplikan film Kokuho (2026)

1. Skrip yang solid dengan dualisme karakter yang kuat

Kokuho terasa magis sejak menit awal. Naskahnya membentangkan perjalanan lima dekade dengan penuh turning point emosional. Kita melihat Kikuo bukan sebagai pahlawan tanpa cela, tapi manusia penuh kontradiksi: berbakat, ambisius, manipulatif, sekaligus rapuh. Begitu pula Shunsuke, yang tampak "ditakdirkan" sukses, namun terus dihantui rasa kalah.

Yang membuat film ini istimewa adalah cara tiap interaksi punya efek jangka panjang. Keputusan kecil di usia muda bisa menghantui puluhan tahun kemudian. Persahabatan berubah jadi kompetisi senyap. Cinta jadi luka laten. Semua karakter tumbuh, tapi setiap pertumbuhan selalu disertai pengorbanan.

Penulisan ceritanya juga cerdas memanfaatkan pertunjukan kabuki sebagai cermin batin para tokohnya. Dialog dan lakon di atas panggung sering kali menjadi medium untuk membaca konflik internal Kikuo dan Shunsuke. Kadang kamu baru sadar beberapa menit kemudian: "Oh… itu yang sedang mereka rasakan."

2. Visual dan scoring yang memanjakan penonton

Secara visual, Kokuho itu cantik. Bukan cantik yang dangkal, tapi cantik yang terasa sakral. Benar-benar cantik. Dari desain kostum kabuki yang megah, riasan lintas usia yang meyakinkan, sampai pergerakan kamera yang terasa seperti tarian pelan. Tak heran kalau film ini mendapat nominasi Oscar untuk Tata Rias dan Tata Rambut Terbaik.

Adegan panggung dirancang brilian. Cahaya, warna, dan komposisi frame membuat setiap pertunjukan terasa seperti ritual. Ditambah scoring yang lembut tapi menghantui, pengalaman menontonnya nyaris hipnotis. Banyak detail kecil yang memperkaya makna, seperti tato burung hantu elang di tubuh Kikuo, penyakit yang diderita Hanjiro, atau insiden-insiden yang kelihatannya sepele tapi ternyata simbolis.

Sutradara Lee Sang Il jelas tidak sekadar memamerkan keindahan kulit luar kabuki. Visual di sini terasa seperti surat cinta pada seni tradisi, sekaligus kritik halus tentang bagaimana seni bisa tercemar ambisi dan modernitas. Ia juga memakai banyak close-up, membuat kamera menangkap dari dekat tiap sudut tubuh sang aktor.

Simak betapa menggetarkan aktingnya sewaktu Kikuo menggantikan sang guru memainkan kisah "The Love Suicides at Sonezaki." Ekspresi yang bak corong emosi, ragam eksplorasi gestur yang mendorong kapasitas fisik sampai ke titik ekstrim. Absolute cinema.

3. Berisi banyak lompatan waktu selama 175 menit

Dengan durasi 175 menit, film ini dipenuhi lompatan waktu agresif. Tidak semua penonton akan langsung nyaman dengan gaya ini. Ada bagian yang sengaja "dikosongkan," memaksa kita mengisi celah narasi sendiri lewat logika dan emosi.

Memasuki paruh kedua, fokus cerita sempat bergeser ke intrik balik layar kabuki yang daya magisnya tak sekuat adegan panggung. Tapi jajaran aktor, terutama Ryo Yoshizawa, menjaga bobot dramanya tetap utuh. Kamera sering menempel lewat close-up, menangkap setiap getar wajah dan bahasa tubuhnya. Ada dingin tertentu dalam sikap Kikuo dewasa, seolah ia tak pernah sepenuhnya menyatu dengan tradisi yang justru membesarkan namanya.

Menariknya, Kikuo digambarkan sebagai metafora posisi kabuki di Jepang modern: dihormati, tapi juga terjebak sistem lama. Seni ini tetap hidup, namun harus berkompromi dengan sponsor korporasi dan intrik abad ke-20, hingga direformasi di awal abad ke-21.

4. Apakah Kokuho recommended untuk ditonton?

Sangat direkomendasikan. Ini adalah film yang membuat hati tergugah, mata terpukau, dan terdiam lama setelah kredit bergulir. Kokuho menawarkan visual yang memanjakan, narasi unik, serta pesan yang relevan soal dedikasi mengejar mimpi dan sejauh apa manusia sanggup mengorbankan dirinya. Ia tidak selalu nyaman, tapi jujur. Indah, tapi pahit, seperti panggung kabuki itu sendiri.

Kalau kamu siap dengan durasi panjang dan cerita yang berat secara emosional, Kokuho adalah pengalaman sinematik yang layak diperjuangkan tiketnya. Kokuho mulai tayang di Indonesia tanggal 18 Februari 2026. Jangan sampai terlewat!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Latest in Hype

See More

8 Meme Anime tentang Penyihir, Megumin Langsung Muncul!

18 Feb 2026, 05:44 WIBHype