Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review 5 Centimeters per Second 2026, Emosional Seperti Animenya.jpg
5 Centimeters per Second (dok. Toho/5 Centimeters per Second)

Intinya sih...

  • Melodrama yang setia pada sumber aslinya, tapi berani "nakal"

  • Durasi lebih panjang, atmosfer lebih kontemplatif

  • Closure lebih jelas dan melengkapi dari dua sisi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

5 Centimeters per Second (2007) adalah anime yang sempat mengguncang penonton di era 2000-an dan melambungkan nama Makoto Shinkai sebagai sutradara ternama. Hampir dua dekade kemudian, kisah tentang jarak, waktu, dan cinta yang tak pernah benar-benar selesai itu akhirnya hadir dalam versi live-action.

Sejak pengumuman perilisannya, pertanyaan yang sama terus muncul: apakah film ini mampu mempertahankan visual dan emosi khas animenya? Apakah adaptasi ini akan setia pada sumber aslinya, atau menawarkan tafsir baru atas hubungan Takaki dan Akari? Versi 2026 ini mencoba melakukan keduanya. Berikut penjelasannya.

Sinopsis 5 Centimeters per Second (2026)

Takaki Tōno (Hokuto Matsumura), seorang karyawan IT, menjalani hidup dewasa yang hampa dan tanpa arah. Ia belum benar-benar pulih sejak kehilangan Akari Shinohara (Mitsuki Takahata), sahabat sekaligus cinta masa mudanya, di mana hubungan mereka terputus tanpa akhir yang jelas.

Keputusan Takaki untuk resign dan pindah pekerjaan sebagai programmer di planetarium menjadi pemicu rangkaian kilas balik yang menyakitkan. Kenangan masa lalu kembali menghantuinya, memaksanya menghadapi luka lama yang masih basah. Namun pekerjaan baru itu juga mempertemukannya dengan sosok perantara yang perlahan membuka jalan menuju closure, hal yang selama ini tak pernah ia miliki.

5 Centimeters per Second
2025
3.5/5
Directed by Yoshiyuki Okuyama
ProducerHiromasa Tamai, Dai Sano
WriterAyako Suzuki, Makoto Shinkai
Age RatingR13
GenreDrama, romance
Duration121 Minutes
Release Date30 Januari
ThemeMelodrama
Production HouseSpoon, Toho
Where to WatchBioskop
CastHokuto Matsumura, Yuzu Aoki, Keiko Horiuchi, Mai Kiryû, Aoi Miyazaki, Nana Mori, Mitsuki Takahata

Trailer 5 Centimeters per Second (2026)

1. Melodrama yang setia pada sumber aslinya, tapi berani "nakal"

Secara garis besar, 5 Centimeters per Second versi live-action adalah adaptasi yang setia pada sumber aslinya. Namun, film ini tidak cuma sekadar meniru. Yoshiyuki Okuyama, yang dikenal sebagai fotografer dan sutradara video musik, membawa pendekatan yang lebih berani dan kontemporer. Alurnya tidak linear, mengajak penonton untuk menebak sendiri arah emosi dan perjalanan karakternya. 

Okuyama mengubah film pendek Shinkai yang ringan dan sentimental menjadi melodrama yang lebih "berat" dan nyata. Nuansanya mengingatkan pada novel-novel Haruki Murakami: sunyi, reflektif, dan penuh kesadaran bahwa hidup tidak seindah fiksi. Sudut pandang cerita tidak melulu berada di kepala Takaki, sehingga dinamika emosional terasa berlapis dam tidak sedatar versi animenya.

Film ini tetap mempertahankan sejumlah adegan ikonik, tetapi tidak mengadaptasinya secara mentah. Dengan camera work yang akurat dan penuh nostalgia, adegan-adegan lama dijahit bersama cerita baru yang tidak ada di versi animasi. Alih-alih mendistorsi plot, tambahan narasi ini justru menjawab banyak pertanyaan yang sebelumnya menggantung. Film ini pun terasa seperti extended version yang lebih dewasa dan reflektif.

2. Durasi lebih panjang, atmosfer lebih kontemplatif

Perbedaan paling mencolok tentu terletak pada durasi. Versi live-action ini hampir dua kali lebih panjang dibandingkan animenya. Waktu ekstra tersebut banyak diisi oleh adegan atmosferik, seperti bunga sakura yang gugur, jalanan kota yang lengang, dan sudut-sudut urban yang sepi.

Secara visual, film ini indah. Permainan warna, komposisi frame, dan sudut kamera terasa matang dan konsisten. Namun secara naratif, beberapa pengulangan visual terasa kurang efisien. Ritme cerita sempat melambat karena terlalu lama berdiam di suasana yang sama.

Meski begitu, film ini tetap berhasil memancing emosi penonton. Banyak momen visual yang menangkap rasa rindu, kesepian, dan penyesalan yang menjadi inti cerita. Film ini terasa kontemplatif, layaknya sebuah pengalaman yang meminta kita untuk ikut diam dan merenung, meski harus mengorbankan ketajaman penceritaan di beberapa bagian.

3. Closure lebih jelas dan melengkapi dari dua sisi

Salah satu nilai tambah terbesar versi live-action ini adalah closure yang lebih terasa. Jika versi anime berakhir singkat dan menyayat dengan lagu "One more time, One more chance," film ini memberi ruang lebih luas bagi penonton untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan Takaki dan Akari.

Penutupan ceritanya tidak memaksakan jawaban tunggal, tetapi cukup untuk membebaskan penonton dari rasa hampa yang selama ini tertinggal setelah menonton animenya. Dalam konteks ini, versi live-action terasa seperti pelengkap yang mengambil beberapa elemen dari novelnya. Dengan begitu, film ini berhasil menenangkan luka lama, tanpa menghapus pahitnya cerita.

4. Apakah 5 Centimeters per Second versi live-action layak ditonton?

Sulit, atau bahkan tidak adil jika membandingkan versi live-action ini dengan animenya. Keduanya terasa seperti dua bagian dari satu kesatuan. Anime-nya adalah luka yang dibiarkan terbuka, sementara versi live-action ini adalah proses memahami dan merawat luka tersebut.

Lalu, bisakah menonton versi live-action jika belum pernah menonton animenya? Bisa. Film ini cukup mandiri dan memberikan konteks yang jelas tentang dinamika hubungan antara Takaki dan Akari. Pada akhirnya, 5 Centimeters per Second (2026) bukan sekadar kisah cinta, melainkan refleksi universal tentang waktu, jarak, dan keberanian untuk melepaskan masa lalu.

Bagi penonton lama, film ini terasa seperti penutup yang layak. Bagi penonton baru, ini adalah pintu masuk yang sunyi, indah, tapi menyakitkan dengan cara yang jujur. Film 5 Centimeters per Second tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 30 Januari 2026. Jangan sampai terlewat!

Editorial Team