Review 5 Centimeters per Second (2007), Film Horror Berkedok Romance

- Film ini dibagi menjadi tiga segmen yang masing-masing merepresentasikan fase berbeda dalam kehidupan cinta Takaki.
- Secara visual, 5 Centimeters per Second adalah pameran keindahan dengan gabungan artwork, scoring, dan lagu penutup yang emosional.
- Shinkai tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru secara tema, namun keberaniannya dalam mengangkat cinta yang gagal patut diapresiasi.
Andai sutradara kondang Hollywood Terrence Malick membuat anime, hasilnya barangkali akan mendekati 5 Centimeters per Second (2007). Namun, ia sendiri takkan bisa menandingi intensitas emosi yang dihadirkan Makoto Shinkai lewat karya ini. Diproduksi Comix Wave, film ini sukses memadukan visual lembut nan detail serta sinematografi rapi yang berpadu dengan cerita sunyi tapi menghantam perasaan penonton.
Ditambah scoring emosional dari Tenmon, 5 Centimeters per Second terasa seperti anime yang sejak awal tidak ditujukan untuk anak-anak. Lagipula, ini adalah film tentang kehilangan dan ketidakmampuan manusia untuk menggenggam waktu. Mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Sinopsis 5 Centimeters per Second (2007)
5 Centimeters per Second mendefinisikan cinta sebagai jarak itu sendiri. Judulnya merujuk pada kecepatan jatuhnya kelopak bunga sakura, simbol dari perasaan yang perlahan menjauh tanpa terasa. Kisahnya mengikuti Takaki Tōno dari masa kanak-kanak hingga dewasa saat ia menjauh dari pujaan hatinya di SD, Akari Shinohara, mengeksplorasi tema kesepian, kerinduan, dan sifat pahit-manis dari perubahan hidup yang dilambangkan oleh gugurnya bunga sakura
Dengan durasi 62 menit (77 menit dengan extras), film ini bergerak cepat secara naratif, tapi terasa lambat secara emosional. Setiap segmen menjadi potongan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai, meninggalkan kesan sendu yang terus melekat setelah film berakhir.
| Producer | Makoto Shinkai |
| Writer | Makoto Shinkai |
| Age Rating | R13 |
| Genre | Anime, drama, slice of life, romance |
| Duration | 77 Minutes |
| Release Date | 16 January |
| Theme | Coming-of-age Romance |
| Production House | CoMix Wave Inc. |
| Where to Watch | Bioskop |
| Cast | Kenji Mizuhashi, Yoshimi Kondō, Ayaka Onoue, Satomi Hanamura |
Trailer 5 Centimeters per Second (2007)
Cuplikan film 5 Centimeters per Second (2007)
Review 5 Centimeters per Second (2007)
1. Slow burn romance yang terbagi ke dalam tiga segmen
Film ini dibagi menjadi tiga segmen yang masing-masing merepresentasikan fase berbeda dalam kehidupan cinta Takaki. Alih-alih membangun romansa dengan konflik besar, Shinkai memilih pendekatan slow burn yang kontemplatif. Setiap segmen terasa seperti jeda napas yang panjang, di mana emosi berkembang bukan lewat dialog eksplisit, melainkan lewat keheningan, tatapan, dan jarak.
Menariknya, ketiga segmen ini lebih tepat disebut sendu ketimbang romantis. Film ini tidak menjanjikan kehangatan cinta, melainkan ketidakpastian dan rasa sesak yang perlahan menumpuk, seperti menunggu kereta di tengah badai salju. Bagi penonton yang mencari kisah romantis manis, 5 Centimeters per Second bisa terasa kejam karena menolak memberi kepastian atau pelipur lara.
2. Gabungkan artwork, scoring, dan lagu penutup yang emosional
Secara visual, 5 Centimeters per Second adalah pameran keindahan. Adegan hujan salju di segmen pertama, pedesaan Jepang di segmen kedua, hingga kelopak sakura yang berguguran di segmen terakhir digambarkan begitu nyata. Detail musim panas, dingin, dan semi terasa hidup. Meski begitu, gaya animasi 2000-an awal mungkin kurang cocok dengan beberapa orang, membuatnya seringkali disebut "5 Wallpapers per Second."
Musik Tenmon memainkan peran besar dalam mengaduk emosi. Scoring-nya tidak mendominasi, tetapi mengalir pelan, menyusup ke dalam relung hati penonton. Puncaknya adalah One More Time, One More Chance dari Masayoshi Yamazaki sebagai lagu penutup. Lagu ini mengiringi montage akhir dengan getir, seolah menjadi perpanjangan emosi yang tak sanggup diucapkan para karakternya.
3. Kisah cinta yang pahit, tapi related dengan banyak orang
Shinkai tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru secara tema. Namun, keberaniannya dalan mengangkat cinta yang gagal, tidak selesai, dan tidak menemukan resolusi patut diapresiasi. Ini bukan sekadar cerita "kalau jodoh takkan kemana," melainkan tentang bagaimana seseorang belajar move on dari hubungan masa lalu yang kandas.
Dalam konteks ini, film terasa selaras dengan teori psikoanalisis Erich Fromm tentang perbedaan cinta anak-anak dan cinta dewasa. 5 Centimeters per Second seolah mengajarkan kita kalau cinta harus diimbangi oleh sikap aktif dan tanggung jawab. Cinta adalah seni yang membutuhkan latihan, pengetahuan, dan perhatian, bukan hanya perasaan semata.
4. Apakah 5 Centimeters per Second recommended untuk ditonton?
Sangat direkomendasikan. Jelas sekali kalau ini bukanlah film untuk anak-anak, bukan pula tontonan romantis yang membuat hati meleleh. Ritmenya lambat, dialognya minim, dan emosinya berat. Beberapa adegan metaforis, seperti peluncuran roket atau gugurnya bunga sakura, sengaja dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan, yang bisa terasa membingungkan bagi beberapa penonton.
Namun justru di situlah kekuatannya. Sepuluh menit terakhir film ini menjadi klimaks emosional yang luar biasa dan ambigu, memaksa kita untuk menyimpulkan sendiri makna jarak, cinta, dan kedewasaan. Jika kamu ingin merasakan pengalaman menonton anime yang sunyi, realistis, dan menghantam perasaan tanpa basa-basi, 5 Centimeters per Second adalah pilihan yang nyaris tak tergantikan.
Jika kamu siap merasakan cinta yang pahit namun jujur, film ini layak ditonton setidaknya sekali seumur hidup. 5 Centimeters per Second tayang secara reguler di bioskop Indonesia pada 16 Januari 2026, tapi akan menggelar fan screening pada 10-11 Januari 2026.



















