Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review Obsession, Ketika Kasih Tak Sampai Berubah jadi Mimpi Buruk
Obsession (dok. Universal Pictures/Obsession)
  • Film horor psikologis Obsession (2026) karya Curry Barker sukses mencuri perhatian lewat kisah cinta yang berubah jadi obsesi, dengan bujet rendah namun hasil sinematik dan kritik sosial yang kuat.
  • Penampilan Inde Navarrette sebagai Nikki menjadi pusat teror emosional, didukung atmosfer suram, sinematografi sederhana, serta perpaduan dark comedy dan ketegangan yang membuat penonton terus merasa tidak nyaman.
  • Obsession menyindir budaya incel dan toxic masculinity melalui karakter Bear, menyoroti bagaimana keinginan menguasai pasangan dapat menghapus kebebasan individu dan menjadikan cinta sebagai bentuk kontrol berbahaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Film horor psikologis Obsession (2026) menjadi salah satu kejutan terbesar tahun ini. Disutradarai oleh Curry Barker, film beranggaran rendah tersebut sukses mencuri perhatian kritikus maupun penonton berkat premis sederhana yang berkembang menjadi mimpi buruk penuh teror psikologis. Dari budget yang hanya 1 juta dolar AS (sekitar Rp17,9 miliar), film ini meraup 371 dolar AS secara global.

Alih-alih mengandalkan rumah berhantu atau sosok iblis mengerikan, Obsession justru mengajak penonton menyaksikan bagaimana cinta yang dipaksakan perlahan berubah menjadi obsesi yang menghapus kehendak bebas seseorang. Hasilnya? Film horor yang tidak cuma menyeramkan, tetapi juga menyisakan banyak bahan renungan setelah lampu bioskop menyala. Berikut ulasannya!

Sinopsis Obsession (2026)

Bear (Michael Johnston), Nikki (Inde Navarrette), Ian (Cooper Tomlinson), dan Sarah (Megan Lawless) merupakan empat sahabat yang bekerja di sebuah toko musik milik ayah Sarah. Di antara mereka, Bear diam-diam telah lama menyimpan perasaan terhadap Nikki. Sayangnya, rasa takut ditolak membuatnya tak pernah berani mengungkapkan isi hatinya.

Padahal, Nikki sempat memberi kesempatan dengan menanyakan secara langsung apakah Bear menyukainya. Namun, Bear memilih menyangkal dan membiarkan kesempatan itu berlalu. Alih-alih jujur, ia justru mengambil jalan pintas dengan menggunakan benda mistis bernama One Wish Willow, sebuah mainan yang dipercaya mampu mengabulkan satu permintaan.

Bear berharap Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia. Keinginannya memang terkabul. Nikki tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sangat mencintai Bear. Ia ingin selalu berada di sisinya, terus menatapnya, bahkan rela melakukan apa saja demi dirinya. Fantasi yang selama ini diimpikan Bear akhirnya menjadi kenyataan.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Perilaku Nikki perlahan berubah semakin mengerikan. Senyumnya terasa asing, tatapannya kosong, dan ia mulai melakukan berbagai tindakan di luar kendalinya sendiri. Bear akhirnya menyadari bahwa keinginannya telah berubah menjadi kutukan yang menghancurkan kehidupan Nikki.

Obsession
2026
4.5/5
Directed by Curry Barker
ProducerJames Harris, Haley Nicole Johnson, Christian Mercuri
WriterCurry Barker
Age RatingD17
GenreHorror, thriller, romance
Duration108 Minutes
Release Date26 Juni
ThemeDark romance, psychological thriller, psychological horror, supernatural horror
Production HouseUniversal Pictures
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
CastMichael Johnston, Inde Navarrette, Cooper Tomlinson, Megan Lawless, Andy Richter

Trailer Obsession (2026)

1. Inde Navarrette tampil luar biasa sebagai pusat teror film

Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa Obsession sepenuhnya bertumpu pada performa Inde Navarrette. Aktris muda tersebut berhasil menghadirkan salah satu penampilan horor paling mengesankan tahun ini.

Di awal film, Nikki tampil sebagai perempuan hangat, ceria, dan friendly. Namun setelah kutukan mulai bekerja, ia pun langsung berubah menjadi "Freaky Nikki." Ia tidak cuma memasang senyum menyeramkan seperti kebanyakan karakter horor, tetapi benar-benar memperlihatkan seseorang yang perlahan kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya sendiri.

Hal paling menyakitkan justru muncul ketika kesadaran Nikki sesekali berhasil mengambil alih kutukan tersebut. Dalam beberapa detik singkat, ekspresi ketakutan, kebingungan, hingga keputusasaan yang ditampilkan Navarrette membuat penonton ikut merasakan penderitaan seorang perempuan yang dirampas kebebasannya. Ia tak bisa lagi memilih jalan hidupnya sendiri.

Michael Johnston juga tampil cukup meyakinkan sebagai Bear. Ia berhasil menggambarkan sosok laki-laki pemalu yang awalnya tampak simpatik, tetapi perlahan memperlihatkan sisi egois dan obsesif yang menjadi akar dari seluruh konflik film.

2. Atmosfer suram yang dipadukan dengan dark comedy yang efektif

Secara visual, Obsession mungkin terlihat sederhana. Namun justru kesederhanaan itulah yang menjadi salah satu kekuatan terbesarnya.

Curry Barker memanfaatkan ruang-ruang biasa seperti rumah, parkiran kosong, lorong gelap, hingga toko musik untuk membangun rasa tidak nyaman secara perlahan. Dominasi warna abu-abu, cokelat, dan pencahayaan redup membuat hampir setiap adegan terasa muram tanpa perlu dipenuhi efek visual berlebihan. Bahkan, ada satu adegan yang mengingatkan kita dengan momen penampakan legendaris di Kairo/Cure (2001) karya Kiyoshi Kurosawa. 

Tak cuma sinematografi, desain suara juga menjadi senjata utama film ini. Banyak adegan jumpscare yang berhasil mengejutkan bukan karena dentuman musik keras, melainkan karena timing yang sangat presisi. Barker memahami bahwa keheningan sering kali jauh lebih menyeramkan dibanding suara keras yang memaksa penonton terkejut.

Menariknya lagi, film ini juga menyisipkan cukup banyak dark comedy. Humor-humor canggung muncul di tengah situasi yang mengerikan sehingga menciptakan rasa tidak nyaman yang unik. Penonton bisa tertawa sesaat, lalu beberapa detik kemudian dibuat bergidik oleh perubahan suasana yang begitu drastis.

Meski demikian, beberapa transisi antara komedi dan horor memang terasa cukup ekstrem sehingga mungkin tidak akan cocok bagi semua penonton. Ada pula satu adegan kekerasan terhadap hewan yang cukup mengganggu meskipun penggunaan efek praktisnya terlihat jelas sebagai properti.

3. Sindiran tajam terhadap budaya "incel," toxic masculinity, dan obsesi memiliki perempuan

Di balik kisah horor supernaturalnya, Obsession sebenarnya merupakan kritik yang cukup berani terhadap budaya incel, toxic masculinity, serta cara sebagian laki-laki memandang perempuan sebagai sesuatu yang harus dimiliki.

Bear bukanlah monster sejak awal. Ia bahkan digambarkan sebagai sosok pemalu yang terlihat baik hati. Namun justru di situlah letak kritik Curry Barker. Film ini mempertanyakan apakah seseorang benar-benar mencintai orang lain jika yang ia inginkan hanyalah mendapatkan balasan perasaan, tanpa peduli pada kehendak bebas orang tersebut.

Alih-alih menerima kemungkinan ditolak, Bear memilih menggunakan jalan pintas demi memaksa Nikki mencintainya. Keputusannya menjadi metafora tentang laki-laki yang merasa berhak atas perhatian perempuan hanya karena mereka menganggap dirinya "orang baik."

Semakin jauh cerita berjalan, semakin terlihat bahwa yang diinginkan Bear bukan lagi cinta, melainkan kontrol penuh atas hidup Nikki. Horor terbesar dalam film ini bukan berasal dari kutukan atau ritual mistis, tetapi dari kenyataan bahwa obsesi mampu menghapus identitas seseorang hingga kehilangan kebebasan menentukan hidupnya sendiri.

Tak heran bila banyak kritikus menafsirkan Obsession sebagai alegori tajam tentang patriarki dan objektifikasi perempuan. Film ini mengingatkan bahwa cinta tidak pernah bisa dipaksakan, dan ketika seseorang mulai menganggap pasangannya sebagai miliknya sepenuhnya, di situlah mimpi buruk sesungguhnya dimulai.

4. Apakah Obsession recommended untuk ditonton?

Sangat sangat direkomendasikan, terutama bagi pencinta horor psikologis. Obsession bukan tipe film yang dipenuhi jumpscare setiap lima menit atau sosok hantu yang terus bermunculan. Horornya dibangun perlahan melalui atmosfer, akting para pemain, dan rasa tidak nyaman yang terus meningkat hingga babak akhir.

Memang, film ini memiliki beberapa kelemahan. Babak awal terasa sedikit terlalu panjang karena terlalu lama mengeksplorasi hubungan Bear dan Nikki sebelum konflik utama benar-benar dimulai. Pergantian antara humor dan horor juga mungkin terasa janggal bagi sebagian penonton.

Namun semua itu terbayar oleh penampilan luar biasa Inde Navarrette, penyutradaraan Curry Barker yang kreatif, serta pesan sosial yang begitu relevan dengan fenomena hubungan toxic di era modern.

Jika kamu menyukai film seperti The Substance (2024), Smile (2022), Watcher (2022), atau horor psikologis lain yang lebih mengandalkan suasana daripada jumpscare murahan, maka Obsession layak masuk daftar tontonanmu.

Jangan lupa saksikan Obsession di bioskop dan bagikan pendapatmu. Bisa juga ajak pacar atau teman laki-lakimu untuk menontonnya. Jika dia masih memandang Bear sebagai korban, segera lari sejauh mungkin. 

Editorial Team

Related Article