Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Serial Night Shift for Cuties, Shenina Jadi Idol?
poster Night Shift for Cuties (instagram.com/netflixid)
  • Netflix Indonesia merilis serial Night Shift for Cuties karya Monica Vanesa Tedja yang mengangkat fenomena fandom KPop dan dinamika pertemanan dua penggemar muda di tengah realita hidup mereka.
  • Serial ini menonjol lewat totalitas produksi, termasuk pembentukan grup fiktif Purple Tea dengan lagu orisinal dan penampilan Shenina Cinnamon yang tampil lebih lepas serta energik dari biasanya.
  • Night Shift for Cuties menyentil sisi konsumtif budaya KPop tanpa menghakimi, menggambarkan perjuangan emosional dan finansial penggemar dalam mengejar kedekatan dengan idolanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Netflix Indonesia resmi meluncurkan serial terbarunya yang bertajuk Night Shift for Cuties pada Kamis (4/6/2026). Disutradarai oleh Monica Vanesa Tedja, serial ini mengangkat fenomena penggemar KPop yang belakangan semakin marak di kehidupan masyarakat Indonesia.

Dengan premis yang ringan dan dekat dengan keseharian, Night Shift for Cuties mencoba menyoroti dinamika fandom, pertemanan, hingga pencarian jati diri karakternya. Namun, di tengah banyaknya tontonan bertema serupa, apakah serial ini benar-benar layak masuk daftar tontonanmu?

Sinopsis Night Shift for Cuties

Di tengah berbagai tuntutan hidup dan ekonomi, Muti bekerja di sebuah supermarket Korea. Di sana, ia bertemu Jenar yang juga mengidolakan Purple Tea, grup Korea Selatan yang memiliki member orang Indonesia.

Keduanya pun bermimpi untuk bertemu dengan idolanya secara langsung. Namun, perjalanan mereka dipenuhi lika-liku dari kehidupan pribadi masing-masing yang semakin kompleks. Apakah Jenar dan Muti berhasil bertemu Purple Tea?

Night Shift for Cuties
2026
3.5/5
Directed by Monica Vanesa Tedja
ProducerKevin Ryan Himawan
WriterMonica Vanesa Tedja, Aline Djayasukmana
Age Rating13+
GenreKomedi, Drama
Duration30 minutes/episode Minutes
Release Date04-06-2026
ThemeKPop, Idol, Dream
Production HouseSoda Machine Films
Where to WatchNetflix
CastShenina Cinnamon, Nadya Syarifa, Emir Mahira, Gabrielle Novangeline, Ryou Jay Hyun

Trailer Night Shift for Cuties

1. Ceritanya klise, tapi cukup menghibur

Kisah dua sahabat yang saling mendukung sekaligus bersaing demi meraih suatu mimpi bukanlah sesuatu yang baru. Formula semacam ini sudah berkali-kali muncul dalam berbagai film maupun serial remaja. Night Shift for Cuties pun tidak menawarkan cerita yang benar-benar segar. Namun, serial ini berhasil menutupi kekurangan tersebut lewat ritme yang ringan serta chemistry Shenina Cinnamon dan Nadya Syarifa yang tearsa natural sepanjang cerita.

Dengan durasi episode yang relatif singkat, serial ini juga tidak terasa membebani untuk diikuti. Penonton bahkan tidak perlu memberikan perhatian penuh untuk tetap menikmati alurnya. Maka dari itu, Night Shift for Cuties rasanya akan cocok menjadi tontonan santai saat akhir pekan atau setelah hari yang melelahkan. Bukan karena ceritanya tidak menarik, melainkan karena serial ini memang tahu betul bahwa tujuan utamanya adalah menghibur, bukan menghadirkan drama yang rumit.

2. Totalitas tim produksi dalam menggarap Night Shift for Cuties

Salah satu hal yang paling mengejutkan dari serial ini adalah betapa seriusnya tim produksi dalam membentuk Purple Tea, grup KPop fiktif yang jadi idola dari dua karakter utama. Bukan sekadar nama dan poster di dinding, Purple Tea hadir lengkap dengan kostum panggung, video klip, dan empat lagu orisinil yang dirilis sebagai album soundtrack resmi.

Lagu "B-B-Believe It" pun perlahan menjdi sulit menghilang dari kepala setelah terus diputar di bagian penutup episode. Bahkan dalam konferensi pers serial ini, Shenina Cinnamon mengaku mengalami hal serupa dan kerap mendapati dirinya tanpa sadar menyenandungkan lagu tersebut.

Berbicara soal Shenina, aktris yang selama ini identik dengan karakter-karakter emosional dan drama yang lebih serius tampak tampiil lepas di serial ini. Ia menunjukkan sisi yang jarang terlihat dengan menari dan berperan layaknya seorang penggemar KPop garis keras. Tak hanya itu, cerita ini juga membawa para karakternya hingga ke Korea Selatan, sebuah sentuhan yang membuat skala produksi Night Shift for Cuties terasa lebih besar dari yang dibayangkan.

3. Antara jadi love letter atau menampar realita penggemar KPop

Night Shift for Cuties terasa punya sesuatu yang lebih dari sekadar drama remaja. Serial ini secara gak langsung menyentil fenomena yang sangat nyata di komunitas KPop, yaitu konsumerisme yang gak ada habisnya. Mulai dari berburu tiket konser, membeli banyak album demi kesempatan fan sign, hingga mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk bisa melihat idola dari dekat.

Menariknya, serial ini tidak serta-merta menghakimi para penggemar. Sebaliknya, sejumlah aksinya menunjukkan bagaimana keputusan-keputusan tersebut sering kali lahir dari rasa kagum, harapan, dan kedekatan emosional yang dibangun terhadap sang idola. Pada saat yang sama, cerita juga mengingatkan bahwa hubungan itu sering kali berjalan satu arah, alias idol tidak selalu sama seperti di layar kaca.

Yang paling mengena adalah ketika semua pengeluaran tersebut digambarkan terjadi di tengah keterbatasan ekonomi para karakternya. Night Shift for Cuties pun terasa seperti cermin yang cukup jujur bagi sebagian penonton yang pernah, atau mungkin masih, berada dalam situasi serupa.

Jadi, kalau kamu mencari tontonan ringan, Night Shift for Cuties bisa jadi salah satu pilihannya, ya!

Editorial Team

Related Article