Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Faces (dok. Jafar Panahi Film Productions/3 Faces)
3 Faces (dok. Jafar Panahi Film Productions/3 Faces)

Intinya sih...

  • Henri-Georges Clouzot adalah sutradara pertama yang memenangkan penghargaan tertinggi dari tiga festival film bergengsi dunia.

  • Michelangelo Antonioni mendalami tema keterasingan modern dan berhasil meraih status triple crown melalui karya-karyanya.

  • Jafar Panahi menjadi anggota terbaru dalam daftar sineas pemegang triple crown setelah memenangkan penghargaan utama di tiga festival film bergengsi dunia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menetapkan kriteria tinggi serta serangkaian proses seleksi yang ketat, festival film bergengsi dunia menjelma sebagai barometer kualitas sinema global. Maka tidak heran jika salah satu bentuk pencapaian tertinggi seorang sineas adalah memenangkan penghargaan utama di salah satu festival film bergengsi tersebut–Palme d’Or di Cannes, Golden Bear di Berlinale, dan Golden Lion di Venezia.

Uniknya, hanya segelintir sineas saja yang berhasil mengoleksi penghargaan dari ketiga festival film tersebut. Prestasi langka sekaligus fenomenal tersebut dikenal dengan sebutan triple crown. Hingga saat ini, terdapat empat nama yang berhasil meraih titel tersebut. Siapa saja? Cari tahu jawabannya di bawah ini.


1. Henri-Georges Clouzot

sutradara Henri-Georges Clouzot (mubi.com)

Henri-Georges Clouzot menjadi sutradara pertama yang sukses mengoleksi penghargaan tertinggi dari tiga festival film bergengsi dunia. Memulai karirnya sebagai penulis naskah pada awal 1930-an, Clouzot dikenal sebagai sineas kontroversial. Karya-karyanya yang didominasi oleh genre thriller ini tak luput dari kritikan maupun kecaman akibat dinilai terlalu gelap dan depresif. Meskipun begitu, film-film besutan Clouzot memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan genre film noir. 

Pada tahun 1949, Henri-Georges Clouzot meraih penghargaan Golden Lion di Venice Film Festival melalui Manon. Lalu di tahun 1953, Clouzot menjadi pusat perhatian ketika membawa The Wages of Fear ke Berlin International Film Festival dan Cannes Film Festival. Mengisahkan sekelompok pria putus asa yang rela mempertaruhkan nyawa dalam misi berbahaya demi sejumlah uang, Clouzot diganjar penghargaan Golden Bear. Clouzot turut menyabet Grand Prix du Festival International du Film yang kini lebih dikenal dengan sebutan Palme d’Or.


2. Michelangelo Antonioni

sutradara Michelangelo Antonioni (theasc.com)

Kepiawaian Michelangelo Antonioni mendalami tema keterasingan modern yang hampa secara emosional dan kontemplatif membuatnya layak menyandang status triple crown. Alih-alih berpartisipasi dalam Italian Neoralism–gerakan film yang menekankan penggambaran realistis kehidupan rakyat biasa pasca Perang Dunia II–Antonioni memilih jalur alternatif. Melalui film-film dokumenter pendek, sineas kelahiran 29 September 1912 tersebut menggunakan narasi eksentrik dan menyoroti konflik batin yang kerap tidak terucap.

Kisah renggangnya hubungan pasangan suami istri yang tidak setia dalam La Notte (1961) mengantarkan Michelangelo Antonioni pada penghargaan Golden Bear di Berlin International Film Festival. Red Desert (1964) yang berfokus pada wanita yang tidak stabil dan mencoba mengatasi permasalahan hidupnya dengan perselingkuhan diganjar penghargaan Golden Lion di Venice Film Festival. Penghargaan Palme d’Or didapat oleh Antonioni di Cannes Film Festival melalui Blow-Up (1967) yang mengisahkan seorang fotografer yang tidak sengaja mengabadikan sebuah kematian dalam film kameranya.


3. Robert Altman

sutradara Robert Altman (chicagomoviemagazine.com)

Sebagai salah satu pencetus gerakan New Hollywood pada tahun 1970-an, Robert Altman memiliki gaya penyutradaraan yang unik. Menolak pakem pembuatan film tradisional, sineas yang juga merupakan veteran perang tersebut memadukan unsur realisme, satir, dan eksperimental. Menciptakan gaya sinematik yang terasa nyata namun kacau dan tetap menghibur dalam film-film besutannya.

Tidak hanya melonjakkan karirnya di Hollywood, berkat M*A*S*H (1970) Robert Altman diganjar penghargaan Palme d’Or di Cannes Film Festival. Film satir yang mempertanyakan mitos-mitos Amerika dalam Buffalo Bill and the Indians, or Sitting Bull’s History Lesson (1975) membawa pulang Golden Bear dari Berlin International Film Festival. Sementara Short Cuts (1993) yang diadaptasi dari koleksi cerpen Raymond Carver berhasil menyabet Golden Lion di Venice Film Festival.


4. Jafar Panahi

3 Faces (dok. Jafar Panahi Film Productions/3 Faces)

Jafar Panahi menjadi anggota terbaru dalam daftar sineas pemegang triple crown. Menjadikan film sebagai alat untuk mengkritik gejolak sosial dan politik, Panahi dicap sebagai musuh pemerintah Iran. Sineas kelahiran 11 Juli 1960 sudah tidak asing lagi dengan segala bentuk intimidasi yang didapatnya. Mulai dari menjadi tahanan rumah, menjalani hukuman penjara, dicekal keluar negeri, hingga dilarang membuat film dua dekade lamanya. Yang ada, Panahi justru semakin berapi-api dalam berkarya. 

Terinspirasi dari pengalamannya selama di penjara, It Was Just an Accident (2025) keluar sebagai pemenang Palme d’Or di Cannes Film Festival tahun lalu. Narasi berantai yang menyoroti kerasnya kehidupan empat wanita di Teheran dalam The Circle (2000) menggondol Golden Lion di Venice Film Festival. Sementara eksperimen Panahi sebagai supir taksi yang mendengarkan keluh kesah warga sipil akan situasi yang tengah mereka hadapi dalam Taxi (2015) meraih Golden Bear di Berlin International Film Festival.

Jika ditilik lebih jauh, Jafar Panahi menjadi sutradara kedua yang memenangkan penghargaan utama Cannes, Berlinale, Venice, dan Locarno International Film Festival setelah Michelangelo Antonioni. Lebih jauh lagi, Jafar Panahi mencetak sejarah sebagai sineas pertama yang menggabungkan keempat penghargaan tersebut dengan Camera d’Or atau Best First Feature Film di Cannes Film Festival yang diraihnya dari The White Balloon (1995). 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team