3 Faces (dok. Jafar Panahi Film Productions/3 Faces)
Jafar Panahi menjadi anggota terbaru dalam daftar sineas pemegang triple crown. Menjadikan film sebagai alat untuk mengkritik gejolak sosial dan politik, Panahi dicap sebagai musuh pemerintah Iran. Sineas kelahiran 11 Juli 1960 sudah tidak asing lagi dengan segala bentuk intimidasi yang didapatnya. Mulai dari menjadi tahanan rumah, menjalani hukuman penjara, dicekal keluar negeri, hingga dilarang membuat film dua dekade lamanya. Yang ada, Panahi justru semakin berapi-api dalam berkarya.
Terinspirasi dari pengalamannya selama di penjara, It Was Just an Accident (2025) keluar sebagai pemenang Palme d’Or di Cannes Film Festival tahun lalu. Narasi berantai yang menyoroti kerasnya kehidupan empat wanita di Teheran dalam The Circle (2000) menggondol Golden Lion di Venice Film Festival. Sementara eksperimen Panahi sebagai supir taksi yang mendengarkan keluh kesah warga sipil akan situasi yang tengah mereka hadapi dalam Taxi (2015) meraih Golden Bear di Berlin International Film Festival.
Jika ditilik lebih jauh, Jafar Panahi menjadi sutradara kedua yang memenangkan penghargaan utama Cannes, Berlinale, Venice, dan Locarno International Film Festival setelah Michelangelo Antonioni. Lebih jauh lagi, Jafar Panahi mencetak sejarah sebagai sineas pertama yang menggabungkan keempat penghargaan tersebut dengan Camera d’Or atau Best First Feature Film di Cannes Film Festival yang diraihnya dari The White Balloon (1995).