Asaf Antariksa saat konferensi pers "Badut Gendong" di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (22/5/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Asaf juga menilai kekuatan utama Badut Gendong terletak pada emosinya yang terus mengoyak hati penonton. Penonton dibuat simpati pada Darso, tapi di saat bersamaan juga takut dan marah terhadap tindakan-tindakannya.
"Emosi kita pun kayak dikoyak-koyak. Karena tadinya kita simpati, kita sedih. Kemudian kita ikut marah. Kemudian kita simpati, tapi sekaligus kita juga menyalahkan. Nah, tarik menarik antara hati, Darso sebagai manusia, dan nafsu yang ada di dalam boneka Badut Gendong yang mewakili kuasa gelap itu selalu tarik menarik," lanjutnya.
Menurutnya, konflik itu sebenarnya menjadi representasi sisi manusia yang selalu bergulat antara hati nurani dan hawa nafsu.
"Itu yang membuat ketika kita nonton ya emosi kita kayak ditarik, tarik menarik gitu ya. Sebenarnya itu juga mewakili diri manusia yang terdiri dari hati nurani dan nafsu. Hanya karena di sini diwakili oleh kuasa gelap, maka nafsunya menjadi ekstrem. Mewakili nafsu primitif dari diri manusia. Ingin membunuh ketika ditindas, ingin merampas dan menguasai ketika ingin menebus rasa kehilangan," ungkap Asaf.
Asaf pun memuji keberhasilan Charles Gozali dan seluruh tim produksi. Baginya, mereka sukses dalam menerjemahkan karakter abu-abu yang jauh lebih sulit ketimbang villain hitam-putih yang sering ditemui.
"Saya rasa tim ya, kru produksi Charles dan tim dia, dan juga para bintang di sini, setelah saya menyaksikan hasilnya, harus diacungi jempol, karena mampu menghadirkan kompleksitas film itu dibandingkan kalau kita misalnya menonton (film-film) Chucky atau Annabelle. Karena sosok Badut Gendong itu abu-abu," jelasnya.
Ia bahkan membandingkan karakter Badut Gendong dengan monster ikonik dari kisah Frankenstein yang sama-sama berada di wilayah moral abu-abu.
"Jika kita nonton Frankenstein, itu kan juga karakternya abu-abu ya. Dan karakter abu-abu ini sebetulnya susah sekali untuk diproyeksikan dibandingkan kalau kita bicara mengenai karakter hitam-putih. Tapi ternyata Charles mampu menghadirkan itu," pungkasnya.