Charles Gozali Ungkap Rencana Qodrat Universe, Badut Gendong Jadi Anti-Villain

- Charles Gozali mengumumkan rencana Qodrat Universe dengan format '3 plus 1 plus penutup', di mana film Badut Gendong menjadi spin-off penghubung menuju konflik baru.
- Badut Gendong digambarkan sebagai anti-villain yang kompleks dan emosional, berbeda dari antagonis hitam-putih sebelumnya dalam semesta Qodrat.
- Karakter Darso merepresentasikan sosok Wong Kalahan, korban sistem yang tertindas, menjadikan kisah Badut Gendong sarat drama dan empati terhadap sisi manusiawi sang villain.
Jakarta, IDN Times - Sutradara Charles Gozali mengungkap rencana besarnya dalam mengembangkan semesta film Qodrat (2022) yang akan terhubung langsung dengan film Badut Gendong (2026). Dalam konferensi pers yang digelar di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026), Charles menyebut kisah Ustad Qodrat sudah dirancang dalam format "3 plus 1 plus penutup."
Cerita film Badut Gendong sendiri akan berfokus pada asal-usul sosok misterius yang dikenal sebagai Badut Gendong. Karakter tersebut lahir dari tragedi, kehilangan, dan rasa ketidakadilan yang perlahan membentuknya menjadi figur kelam yang emosional. Menariknya, Charles memastikan kalau karakter ini bukan sekadar villain biasa di layar lebar.
1. Charles Gozali sebut Badut Gendong masuk Qodrat Universe

Charles menjelaskan bahwa tiga film utama akan menjadi trilogi Qodrat yang berakhir di Qodrat 3. Sementara "plus satu" merujuk pada film spin-off, sebuah origin story dari Badut Gendong yang nantinya akan menjadi jembatan besar menuju konflik baru di semesta tersebut.
"Kita memang merencanakan Darso dan Darsi untuk kemudian Badut Gendong menjadi lawan Ustad Qodrat setelah trilogi dari Qodrat selesai," ujarnya saat konferensi pers di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).
Badut Gendong sendiri berakar dari budaya tradisional Jawa Tengah bernama ledek gogek, ketika seorang penari mengikat boneka di depan tubuhnya sehingga terlihat seperti digendong. Mengisahkan Darso (Marthino Lio), seorang pengamen jalanan yang hidupnya hancur dalam waktu singkat. Kehilangan demi kehilangan membuatnya berubah, dari sosok pria biasa menjadi villain yang tenggelam dalam kegelapan emosional.
2. Tegaskan kalau Badut Gendong adalah sosok anti-villain

Menurut Charles, Badut Gendong akan tampil berbeda dibanding sosok antagonis lain di semesta Qodrat. Jika sebelumnya Ustad Qodrat banyak berhadapan dengan entitas hitam-putih yang jelas posisinya, kali ini ia akan mengalami karakter abu-abu yang lebih kompleks.
"Kami memang mencoba mencari apa yang kemudian bisa membedakan saat Ustad Qodrat kemudian berlaga melawan Iblis di trilogi Qodrat. Iblis itu hitam dan putih, itu ya jelas. Qodrat berdiri dimana dengan keimanannya," ucapnya.
Ia pun menjelaskan bahwa tim Magma Entertainment ingin menghadirkan karakter yang lebih manusiawi, penuh luka, dan memiliki alasan kuat di balik kemarahannya. Hal inilah yang nantinya membuat pertarungan Badut Gendong dan Qodrat terasa lebih personal sekaligus emosional.
"Jadi kemudian yang kami rasa kami perlukan untuk menghadirkan villain yang berbeda adalah villain yang emosional, yang datang dari perasaan, yang datang dengan latar belakang yang justru punya kemiripan dengan Qodrat. Sehingga nanti pada saat mereka berlagak di Badut Gendong 2 akan menjadi sebuah pertempuran yang emosional," lanjut Charles.
3. Sebut Darso sebagai sosok Wong Kalahan yang melawan

Dari penjelasan Charles, jelas sekali kalau kekuatan utama film Badut Gendong terletak pada drama dan rasa pilu yang perlahan dibangun sepanjang cerita. Bagi sang sutradara, Darso bukan karakter antagonis biasa, melainkan representasi "Wong Kalahan" atau korban dari sistem yang menindas. Tak ayal, kalau ia merasa dunia tak pernah berpihak kepadanya dan beralih ke sisi villain.
"Drama itu memang harus pelan-pelan masuknya seperti juga laga. Nah, Badut Gendong memberi kesempatan karena dia adalah anti-hero atau villain yang emosional. Di sini betul-betul sudut pandang dari porsi emosi itu bisa kita olah," imbuh Charles.
Anti-villain sendiri adalah karakter yang berperan sebagai antagonis atau penjahat, tapi memiliki tujuan mulia, latar belakang tragis, atau moralitas yang membuat penonton bersimpati padanya. Berbeda dengan villain klasik yang melakukan kejahatan murni untuk kehancuran. Lewat Badut Gendong, diharapkan penonton bisa memahami alasan di balik kemarahan Darso dan Darsi.
"Jadi bersama Mas Asaf (penulis naskah) memang kemudian itu kita gali sedalam mungkin supaya penonton mudah-mudahan memang bisa merasakan apa yang sebetulnya dirasakan Darso dan Darsi. Dan kenapa kemudian mereka merasa bahwa mereka itu perlu melawan. Kenapa Wong Kalahan yang ini tuh merasa perlu kemudian melakukan perlawanan," pungkasnya.


















