Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Strategi Promosi Film Paling Kontroversial Sepanjang Masa
House of Wax (dok. New Line Cinema/House of Wax)
  • Lima film terkenal menggunakan strategi promosi ekstrem, mulai dari penyebaran informasi palsu hingga aksi publik yang memicu kontroversi besar di dunia perfilman.
  • The Blair Witch Project sukses besar lewat kampanye viral yang menyesatkan, sementara The Revenge of Tarzan dan Polyester menciptakan sensasi unik melalui aksi publik dan pengalaman sensorik.
  • House of Wax dan Psycho menunjukkan bagaimana selebritas serta aturan bioskop tak biasa dapat menjadi alat promosi efektif yang meningkatkan rasa penasaran penonton.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di era media sosial seperti sekarang, kampanye promosi film sering kali menjadi tontonan tersendiri. Namun, jauh sebelum internet mendominasi dunia hiburan, para studio dan publisis Hollywood sudah berlomba-lomba menciptakan cara promosi unik, mengejutkan, bahkan terkadang kontroversial demi menarik perhatian publik. Beberapa strategi ini begitu ekstrem sehingga memicu perdebatan tentang etika pemasaran.

Menariknya, banyak dari aksi promosi tersebut justru berhasil membuat film yang dipasarkan menjadi fenomena budaya pop. Mulai dari menyebarkan informasi palsu, melibatkan hewan liar, hingga menciptakan pengalaman menonton yang tidak biasa, berikut lima strategi promosi film paling kontroversial dan berani yang pernah tercatat dalam sejarah perfilman.

1. The Blair Witch Project (1999)

The Blair Witch Project (dok. Summit Ent./The Blair Witch Project)

Ketika The Blair Witch Project dirilis pada 1999, banyak penonton benar-benar percaya bahwa rekaman dalam film tersebut adalah dokumentasi nyata. Tim pemasaran sengaja memanfaatkan gaya found footage yang realistis dengan menyebarkan informasi bahwa para pemeran utama hilang dan diduga meninggal saat menyelidiki legenda penyihir Blair.

Pada masa ketika internet masih relatif baru, strategi ini terasa sangat meyakinkan bagi banyak orang. Studio juga membuat situs web yang berisi artikel berita palsu, dokumen investigasi, foto-foto, dan berbagai bukti yang memperkuat kesan bahwa kisah dalam film benar-benar terjadi

Dengan biaya produksi yang sangat kecil, film ini menghasilkan ratusan juta dolar di box office global. Meski sukses besar, strategi tersebut juga menuai kritik karena dianggap menyesatkan penonton, dan para aktornya sempat mengeluhkan kompensasi yang tidak sebanding dengan kesuksesan film tersebut.

2. The Revenge of Tarzan (1920)

The Revenge of Tarzan (dok. MGM/The Revenge of Tarzan)

Jauh sebelum istilah viral marketing dikenal, publisis legendaris Harry Reichenbach sudah menciptakan sensasi yang membuat media heboh. Untuk mempromosikan film The Revenge of Tarzan pada tahun 1918, ia menyuruh seorang aktor menyamar sebagai pianis eksentrik yang menginap di sebuah hotel mewah di New York. Pria tersebut meminta sebuah peti besar dibawa ke kamarnya dan memesan daging mentah dalam jumlah banyak.

Kecurigaan muncul ketika wartawan mulai meliput tingkah aneh tamu tersebut. Saat pihak keamanan akhirnya membuka peti misterius itu, mereka menemukan seekor singa hidup di dalam kamar hotel. Kejadian tersebut langsung menjadi berita besar dan secara otomatis mempromosikan film yang akan segera tayang. Reichenbach kemudian dikenal sebagai salah satu pelopor aksi publisitas ekstrem yang sering membuat pihak berwenang pusing.

3. Polyester (1981)

Polyester (dok. New Line Cinema/Polyester)

Sutradara John Waters selalu dikenal suka melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Untuk mempromosikan film komedi hitam Polyester, ia menciptakan konsep unik bernama "Odorama". Penonton yang datang ke bioskop menerima kartu gosok dan cium yang berisi berbagai aroma berbeda, mulai dari bunga mawar hingga bau yang sengaja dibuat tidak sedap.

Selama film berlangsung, angka tertentu akan muncul di layar dan penonton diminta menggosok bagian kartu yang sesuai. Dengan cara ini, mereka tidak hanya menonton film, tetapi juga merasakan pengalaman sensorik yang lengkap. Meskipun terdengar lucu, banyak orang menganggap ide ini aneh dan menjijikkan.

Namun, justru karena keunikannya, Odorama menjadi salah satu strategi promosi paling terkenal dalam sejarah film independen.

4. House of Wax (2005)

House of Wax (dok. New Line Cinema/House of Wax)

Pada awal 2000-an, Paris Hilton adalah salah satu selebritas yang paling sering menghiasi tabloid. Menyadari popularitas sekaligus kontroversi yang mengelilinginya, tim pemasaran film horor House of Wax memanfaatkan situasi tersebut dengan slogan provokatif “See Paris Die” atau “Lihat Paris Mati”.

Poster dan materi promosi film secara terang-terangan mengajak penonton menyaksikan adegan kematian karakter yang diperankan oleh Paris Hilton. Kampanye ini memancing perhatian luas karena banyak orang memang penasaran melihat nasib karakter sang sosialita di layar lebar.

Meskipun mendapat ulasan biasa saja dari kritikus, strategi pemasaran tersebut berhasil menarik penonton dan membantu film meraih keuntungan di box office.

5. Psycho (1960)

Psycho (dok. Universal Pictures/Psycho)

Alfred Hitchcock dikenal sangat detail dalam mengendalikan setiap aspek filmnya, termasuk urusan promosi. Saat Psycho dirilis pada tahun 1960, ia membuat aturan yang tidak biasa yakni tidak ada penonton yang boleh masuk ke bioskop setelah film dimulai. Kebijakan ini terdengar sederhana, tetapi pada masa itu merupakan sesuatu yang sangat tidak lazim.

Tujuan Hitchcock adalah menjaga kejutan besar di awal film yang melibatkan karakter utama yang diperankan Janet Leigh. Karena materi promosi menempatkan Leigh sebagai bintang utama, banyak penonton sama sekali tidak menduga arah cerita yang sebenarnya. Larangan masuk terlambat justru membuat rasa penasaran publik semakin besar.

Sejarah perfilman membuktikan bahwa promosi yang berani sering kali sama pentingnya dengan film itu sendiri. Dari kelima strategi promosi ini, mana yang menurutmu paling gila dan sulit dipercaya pernah benar-benar dilakukan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article