Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret Bernadya
potret Bernadya (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Intinya sih...

  • Album kedua Bernadya sudah rampung 85% dengan lebih banyak lagu dibandingkan album pertamanya.

  • Lagu pembuka "Kita Buat Menyenangkan" akan membawa pendengar ke dunia musikal baru Bernadya.

  • Album keduanya terinspirasi dari konsep cherophobia dan menghadirkan nuansa musik nostalgic, serta kolaborasi dengan produser-produser baru.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Di balik perilisan lagu “Kita Buat Menyenangkan” pada 27 Januari 2026, Bernadya ternyata menyimpan kejutan yang lebih besar. Dalam acara media interview yang digelar Kamis (5/2/2026) kemarin, Adrianto Pratono, selaku founder sekaligus CEO Juni Records mengungkapkan bahwa lagu tersebut bukan sekadar lagu biasa.

Lagu “Kita Buat Menyenangkan” disebut-sebut sebagai pembuka menuju era baru Bernadya untuk album keduanya yang saat ini masih dalam proses pengerjaan. Lagu ini akan menjadi penanda awal transformasi musikal sang penyanyi setelah kesuksesannya di era sebelumnya.

Dibuka dengan “Kita Buat Menyenangkan”, kira-kira akan seberapa “menyenangkan” sebenarnya warna musik Bernadya di album keduanya nanti? Apakah ia benar-benar akan meninggalkan nuansa galau khas era Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan yang sukses bikin para pendengarnya galau berjemaah? Yuk, kita bahas!

1. Album kedua Bernadya sudah rampung 85%

potret Bernadya (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Meski belum banyak detail yang bisa diungkap terkait album kedua Bernadya ini, Adrianto Pratono menjelaskan bahwa proses pengerjaannya kini sudah mencapai sekitar 85 persen. Album tersebut masih terus digarap untuk mematangkan konsep dan arah musikalnya. Oleh sebab itu, mereka juga belum bisa memastikan soal jadwal rilisnya.

Sementara itu, Bernadya dalam presentasinya di hadapan awak media mengungkapkan bahwa album keduanya ini akan memuat jumlah lagu yang lebih banyak dibandingkan album perdananya.

2. Seberapa menyenangkan album kedua Bernadya?

konsep album baru Bernadya (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Bernadya mengakui “Kita Buat Menyenangkan” bukan lagu favorit bagi banyak orang yang telah mendengarnya. Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, mereka sepakat untuk menjadikan lagu tersebut sebagai pembuka album keduanya. Menurut Adrianto, lagu “Kita Buat Menyenangkan” mampu menjembatani pendengar menuju dunia musikal baru Bernadya karena secara benang merah, masih terhubung dengan karya-karya Bernadya sebelumnya.

“Menurut gua, ini masih ada benang merahnya banget. Ini mungkin lagu pengantar buat pendengar ke dunia barunya Bernadya. Karena kalau kita rilis yang lain, mungkin ada shock—nya,” kata Adrianto Pratono, Kamis (5/2/2026).

Sementara itu, saat ditanya tentang seberapa “menyenangkan” album keduanya nanti, Bernadya menjelaskan bahwa maknanya tidak selalu benar-benar menghadirkan rasa menyenangkan. Album ini justru berangkat dari kesadaran bahwa hidup seringkali berjalan tidak sesuai harapan, sehingga “menyenangkan” menjadi sesuatu yang sengaja diupayakan. Waduh, makin bikin penasaran, gak sih?

“Seberapa menyenangkan? Justru kalau orang bilang kita buat menyenangkan, berarti apa? Berarti tidak menyenangkan. Makanya, jadinya kita buat menyenangkan”, kata Bernadya sambil tersenyum.

Ia melanjutkan, “Hidup gimana sih? Tapi intinya adalah di album ini, aku mencoba untuk membuat semua menyenangkan karena kita tahu gak ada yang selamanya.”

3. Belum bisa spill judul, Bernadya ungkap album keduanya terinspirasi dari Cherophobia

konsep album baru Bernadya (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Bernadya mengaku belum bisa mengungkap judul album keduanya. Meski begitu, ia memberikan sedikit gambaran bahwa isi cerita dari album tersebut terinspirasi dari konsep cherophobia, yakni ketakutan untuk merasakan kebahagiaan secara berlebihan karena adanya kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan datang setelahnya.

“Karena kita gak bisa kasih tahu judul albumnya, tapi mungkin cerita albumnya, tema albumnya sebenarnya terinspirasi dari kata ini, cherophobia. Jadi, dia itu kurang lebih adalah kayak kamu tuh takut merasakan senang yang berlebihan karena kamu tahu setelah sesuatu yang besar, sesuatu yang buruk akan terjadi habis itu,“ ungkap Bernadya.

Sehingga, secara garis besar, album ini banyak mengeksplorasi emosi-emosi yang lahir dari rasa takut, seperti bittersweet.

“Jadi, kenapa di sini ada tulisannya bittersweet. Jadi kamu pengin senang, tapi kamu juga gak pengin terlalu senang. Kurang lebih, isi materi albumnya adalah perasaan-perasaan ketakutan,” kata Bernadya menjelaskan nuansa album keduanya.

Selain bittersweet, Bernadya mengungkap lagu-lagu di album kedua ini juga menghadirkan nuansa musik nostalgic, yang membawa kembali pendengar ke era musik 2000-an.

“Itu kita buat nostalgic, karena kita takut eksekusinya salah, terus 2000-nya gak nangkep. Jadi, kita gak pernah mau melabel semua musik ini sebagai musik yang 2000-an. Tapi masih kayak nostalgic, yang orang ngerasa itu membawa mereka ke suatu masa yang mereka pernah tinggal di situ,” lanjut Bernadya dengan nada antusias.

4. Hadirkan kolaborasi baru

potret Bernadya (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Gak sampai di situ saja, album kedua Bernadya juga menghadirkan berbagai kolaborasi baru yang semakin memperkaya proses kreatifnya. Untuk pertama kalinya, Bernadya bekerja sama dengan seorang vocal director. Selain itu, album ini juga melibatkan produser-produser baru.

Menariknya, tidak hanya satu atau dua nama, kali ini ada beberapa produser yang turut berkontribusi. Meski begitu, Bernadya baru bisa mengungkap dua nama yang terlibat, yaitu Petra Sihombing dan Rendy Pandugo. Sementara itu, kolaborator lainnya masih dirahasiakan.

“Aku gak pernah pakai vocal director, dan di sini pertama kalinya. Terus akan ada produser baru, jadi di album yang baru ini, produsernya ada lebih dari dua, ada beberapa, tapi yang akan di-spill cuma mas Petra dan mas Rendy.”

Itu dia sederet fakta menarik seputar album kedua Bernadya. Mulai dari konsep cherophobia hingga nuansa nostalgia yang hangat, album ini tampaknya siap menghadirkan warna yang berbeda dari karya-karya Bernadya sebelumnya.

Editorial Team