Trump Sebut Robert De Niro Gila Setelah Dikritik, Ancam Deportasi

Perseteruan panjang antara Donald Trump dan Robert De Niro kembali memanas. Kali ini, Trump melontarkan serangan keras melalui platform media sosialnya, Truth Social, menyusul kritik De Niro terhadap pemerintahannya.
Sebelumnya, aktor peraih Oscar itu tampil di kanal berita MSNOW dan menyerukan publik untuk "melawan" kebijakan Trump yang ia sebut kacau. Sontak, ucapan itu memicu respons tajam dari sang presiden.
1. Trump sebut De Niro orang gila dan punya IQ rendah

Dalam unggahannya, Trump menyebut De Niro sebagai "orang sakit jiwa dan gila" serta menuduhnya memiliki IQ yang sangat rendah.
"Robert De Niro yang gila karena Trump (adalah) orang sakit jiwa dan gila. Saya percaya IQ yang sangat rendah, yang sama sekali tidak tahu apa yang dia lakukan atau katakan, beberapa di antaranya sangat KRIMINAL!" ungkap Trump seperti diberitakan Variety, Rabu (25/2/2026).
Trump bahkan membandingkan De Niro dengan Rosie O'Donnell, komedian yang juga memiliki sejarah panjang konflik dengan dirinya. Dalam narasinya, Trump menyindir bahwa De Niro terlihat menangis seperti anak kecil dalam wawancara podcast The Best People With Nicole Wallace.
"Saat saya melihatnya menangis tersedu-sedu tadi malam, persis seperti yang dilakukan seorang anak kecil, saya menyadari bahwa dia mungkin lebih sakit daripada si gila Rosie O'Donnell, yang saat ini di Irlandia mencoba mencari cara untuk kembali ke Amerika Serikat kita yang indah," lanjutnya.
2. Amarah Trump memaksa De Niro meninggalkan Amerika Serikat

Dalam unggahan yang sama, Trump juga menyerang anggota Kongres dari Partai Demokrat, yakni Ilhan Omar dan Rashida Tlaib. Ia menyatakan bahwa mereka seharusnya "dikirim kembali ke tempat asal mereka".
"Ketika Anda melihat Ilhan Omar dan Rashida Tlaib yang ber-IQ rendah, saat mereka berteriak tak terkendali tadi malam di pidato kenegaraan yang sangat elegan, acara yang begitu penting dan indah, mereka memiliki mata melotot dan merah seperti orang gila, yang secara mental terganggu dan sakit, yang, terus terang, terlihat seperti mereka harus dirawat di rumah sakit jiwa," tegas Trump.
Narasi itu kemudian melebar dengan menyebut De Niro dalam konteks serupa, seolah-olah ia juga sebaiknya meninggalkan Amerika Serikat. Namun hingga saat ini, tidak ada langkah hukum resmi atau kebijakan konkret yang menunjukkan adanya proses deportasi terhadap aktor The Godfather tersebut.
Secara hukum, ancaman deportasi terhadap warga negara AS tanpa dasar legal yang jelas tidak memiliki pijakan kuat. Banyak pihak memandang pernyataan Trump sebagai retorika politik ketimbang ancaman kebijakan nyata.
3. Perseteruan Trump dan De Niro bukanlah hal baru

Konflik antara Trump dan De Niro telah berlangsung sejak lama, terutama sejak kampanye presiden 2016. De Niro secara terbuka mengkritik Trump dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam ajang penghargaan film dan wawancara media.
Dalam pernyataan terbarunya, De Niro menyebut situasi politik saat ini sebagai sesuatu yang "menjijikkan" dan "kacau", serta mendesak warga Amerika untuk bersatu melawan kebijakan yang dianggapnya merusak negara. Sikap vokal De Niro konsisten dengan posisinya sebagai salah satu figur Hollywood yang aktif secara politik.
"Ini menjijikkan, ini kacau. Kita harus menyelamatkan negara ini. Orang-orang harus melawan, melawan, melawan, melawan, melawan. Itulah satu-satunya cara," kata De Niro.
Ketegangan ini kembali menyoroti hubungan rumit antara dunia hiburan dan politik di Amerika Serikat. Di era media sosial, perdebatan personal antara tokoh publik dapat dengan cepat berubah menjadi headline nasional dan memperdalam polarisasi.
















![[QUIZ] Member BTS yang Serasi Jadi Pasanganmu Berdasarkan Tipe Cowokmu](https://image.idntimes.com/post/20260226/1768358577_018e29584dc4673e7d43_89857d65-c02a-4f27-af66-487e2a086bfa.jpeg)

