5 Alasan Hong Gil Dong Jadi Sosok Kontroversial di To My Beloved Thief

- Hong Gil Dong hidup di dua dunia yang bertolak belakang, dipuja rakyat jelata sebagai simbol harapan dan diburu penguasa sebagai kriminal berbahaya.
- Setiap aksi Hong Gil Dong membongkar kebobrokan elite tanpa ampun, mengancam citra dan legitimasi kekuasaan yang mereka bangun.
- Ia melanggar hukum demi keadilan versinya sendiri, menjadi simbol perlawanan kelas sosial, dan mengguncang persepsi dengan keterkaitannya dengan Hong Eun Jo.
Kemunculan Hong Gil Dong (Nam Ji Hyun) dalam drakor To My Beloved Thief sejak awal langsung memancing perdebatan, baik di dalam cerita maupun di benak penonton. Ia bukan sekadar tokoh misterius dengan aksi berani, tetapi figur yang kehadirannya mengguncang tatanan sosial, hukum, dan moral yang selama ini dianggap mapan. Setiap langkahnya selalu menimbulkan pertanyaan, apakah ia pahlawan yang dibutuhkan, atau justru ancaman yang harus disingkirkan?
Kontroversi Hong Gil Dong semakin kuat karena ia tidak bisa dinilai dengan ukuran hitam-putih yang sederhana. Aksinya kerap melanggar hukum, tetapi di saat yang sama menyentuh luka sosial yang selama ini diabaikan. Ada lima alasan utama yang menjelaskan mengapa Hong Gil Dong menjadi sosok paling kontroversial di To My Beloved Thief dan terus memicu perdebatan tentang keadilan dan kemanusiaan.
1. Dipuja rakyat jelata, diburu penguasa

Hong Gil Dong hidup di dua dunia yang saling bertolak belakang. Bagi rakyat kecil, ia adalah simbol harapan yang berani menantang ketidakadilan dan membela mereka yang tertindas. Aksinya mencuri dari kaum berkuasa dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang hanya menguntungkan segelintir orang.
Namun, di mata penguasa dan istana, Hong Gil Dong adalah kriminal berbahaya yang mengancam stabilitas negara. Dualitas inilah yang membuat posisinya selalu kontroversial, karena satu sosok bisa menjadi pahlawan sekaligus penjahat tergantung siapa yang menilai.
2. Membuka kebusukan elite tanpa ampun

Setiap aksi Hong Gil Dong bukan hanya soal pencurian, tetapi juga pembongkaran kebobrokan elite. Ia sering kali menargetkan mereka yang memiliki kekuasaan namun menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi. Tanpa pidato atau pengadilan, aksinya menjadi semacam vonis moral yang telanjang.
Hal tersebut membuat para pejabat merasa terancam, karena Hong Gil Dong tidak hanya mengambil harta, tetapi juga merusak citra dan legitimasi kekuasaan yang mereka bangun. Kontroversi pun lahir karena ia menyentuh luka yang paling ingin ditutupi oleh sistem.
3. Melanggar hukum demi keadilan versinya sendiri

Hong Gil Dong menempatkan dirinya di wilayah abu-abu antara hukum dan keadilan. Ia sadar bahwa tindakannya melanggar aturan, tetapi percaya bahwa hukum yang ada tidak pernah benar-benar melindungi rakyat kecil.
Pilihannya untuk bertindak di luar sistem membuat banyak orang mempertanyakan, apakah keadilan harus selalu berjalan seiring dengan hukum? Kontroversi ini semakin tajam karena To My Beloved Thief tidak memberi jawaban mutlak, melainkan membiarkan penonton menilai sendiri apakah tindakan Hong Gil Dong bisa dibenarkan.
4. Menjadi simbol perlawanan kelas sosial

Lebih dari individu, Hong Gil Dong telah menjelma menjadi simbol. Ia mewakili kemarahan, keputusasaan, dan harapan kelas bawah yang selama ini terpinggirkan. Bagi penguasa, simbol ini berbahaya karena ide tidak bisa ditangkap atau dipenjarakan.
Setiap keberhasilannya menginspirasi lebih banyak orang untuk mempertanyakan sistem yang ada. Kontroversi pun muncul karena Hong Gil Dong bukan hanya sosok yang bisa dilenyapkan, melainkan gagasan yang terus hidup dan menyebar.
5. Keterkaitannya dengan Hong Eun Jo mengguncang persepsi

Kontroversi Hong Gil Dong mencapai puncaknya ketika identitasnya berkaitan langsung dengan Hong Eun Jo. Sosok yang dikenal lembut, penuh empati, dan manusiawi ternyata memiliki sisi radikal yang berani melawan sistem secara frontal.
Kontradiksi ini mengguncang persepsi banyak pihak, karena menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu datang dari mereka yang terlihat keras atau brutal. Fakta ini juga menantang pandangan Yi Yeol (Moon Sang Min) dan penonton tentang siapa yang pantas menjadi pahlawan, serta bagaimana perlawanan seharusnya dilakukan.
Kelima alasan tersebut menjadikan Hong Gil Dong sosok yang mustahil dinilai secara sederhana. Ia hadir sebagai cermin dari ketimpangan, kegagalan sistem, dan dilema moral yang dihadapi para karakter lain. Kontroversinya justru memperkaya konflik emosional dan ideologis yang diusung cerita. Melalui Hong Gil Dong, To My Beloved Thief tidak hanya menyajikan drama romansa dan intrik, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan makna keadilan, hukum, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan di dunia yang tidak pernah benar-benar adil.


















