Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
still cut drama Korea Pro Bono
still cut drama Korea Pro Bono (instagram.com/tvn_drama)

Sidang Kang Da Wit (Jung Kyoung Ho) dalam drakor Pro Bono bukan sekadar proses pembuktian hukum, melainkan momen pembongkaran kebenaran yang selama ini tertutup oleh manipulasi, ketimpangan kuasa, dan narasi yang sengaja dibelokkan. Di ruang sidang inilah publik, termasuk tim pro bono, akhirnya melihat potongan fakta yang selama bertahun-tahun terdistorsi.

Lima fakta baru yang terungkap di persidangan ini bukan hanya meringankan sebagian tuduhan terhadap Kang Da Wit, tetapi juga menegaskan bahwa kasus kebakaran pabrik sepuluh tahun silam jauh lebih kelam dari yang selama ini dipercaya. Berikut lima fakta penting yang mengubah sudut pandang terhadap Kang Da Wit dan perkara besar dalam Pro Bono.

1. Kang Da Wit tidak memanipulasi fakta dan bukti kebakaran pabrik

still cut drama Korea Pro Bono (instagram.com/tvn_drama)

Fakta paling krusial yang terungkap adalah bahwa Kang Da Wit tidak pernah memanipulasi fakta maupun bukti dalam kasus kebakaran pabrik. Tuduhan bahwa ia “merekayasa persidangan” perlahan kehilangan pijakan ketika ditunjukkan bahwa seluruh bukti yang ia gunakan kala itu sesuai dengan dokumen dan kesaksian resmi yang tersedia.

Sebagai hakim, Kang Da Wit memang mengambil putusan yang kini dipertanyakan secara moral, tetapi secara prosedural, ia tidak menciptakan atau mengubah bukti. Hal ini menegaskan bahwa dosa terbesarnya bukan manipulasi hukum, melainkan kepatuhan buta pada sistem yang cacat.

2. Manajer pabrik terbukti tidak jujur saat memberi kesaksian

still cut drama Korea Pro Bono (instagram.com/tvn_drama)

Sidang terbaru mengungkap bahwa manajer pabrik tidak memberikan kesaksian secara jujur dalam persidangan kebakaran pabrik di masa lalu. Ada informasi yang sengaja disembunyikan dan ada fakta yang dipelintir demi melindungi kepentingan pemilik bisnis.

Kebohongan ini menjadi akar dari putusan ringan yang dijatuhkan kala itu. Fakta bahwa kesaksian palsu ini baru terbongkar bertahun-tahun kemudian memperlihatkan betapa rapuhnya keadilan ketika bergantung pada satu pihak yang punya kuasa dan akses.

3. Pintu darurat dikunci oleh manajer pabrik

still cut drama Korea Pro Bono (instagram.com/tvn_drama)

Salah satu fakta paling mengguncang adalah terungkapnya kebenaran bahwa manajer pabrik mengunci satu-satunya pintu keluar darurat yang masih bisa diakses korban. Selama ini, poin ini tidak pernah terbukti secara hukum, sehingga hanya menjadi dugaan tanpa kekuatan pembuktian.

Pengungkapan ini mengubah total narasi kasus. Kebakaran tersebut bukan sekadar kecelakaan akibat kelalaian, melainkan tragedi yang diperparah oleh tindakan aktif yang menghilangkan peluang korban untuk selamat.

4. Kang Da Wit satu-satunya yang percaya pada ibu korban

still cut drama Korea Pro Bono (instagram.com/tvn_drama)

Dalam sidang juga terungkap bahwa Kang Da Wit adalah satu-satunya figur otoritas hukum yang mempercayai kesaksian ibu korban sejak awal. Saat semua pihak menganggapnya emosional, tidak rasional, dan tidak kredibel, Kang Da Wit justru mendengarkan dan mencoba mencari celah hukum untuk menguatkan ceritanya.

Fakta ini memperlihatkan sisi kemanusiaan Kang Da Wit yang selama ini tertutup citra dinginnya sebagai hakim. Meski gagal memperjuangkannya secara hukum, ia tidak pernah meremehkan suara korban.

5. Dendam personal tak menghilangkan objektivitas Kang Da Wit

still cut drama Korea Pro Bono (instagram.com/tvn_drama)

Sidang juga mengonfirmasi bahwa Kang Da Wit memang menyimpan keinginan membalas dendam pada Yoo Baek Man (Kim Yong Joon). Namun, yang mengejutkan, perasaan personal itu tidak memengaruhi profesionalismenya saat memimpin sidang dan menjatuhkan putusan terhadap Yoo.

Ia tetap berpegang pada fakta, argumen hukum, dan prosedur yang berlaku. Fakta ini menegaskan paradoks terbesar Kang Da Wit di Pro Bono: manusia yang penuh luka, tetapi masih berusaha menjaga integritas profesinya di tengah konflik batin yang brutal.

Kelima fakta baru ini membuat Pro Bono semakin kompleks dan emosional, karena tidak lagi menawarkan jawaban hitam-putih tentang benar dan salah. Sidang Kang Da Wit justru menunjukkan bahwa tragedi hukum sering lahir dari kebohongan kecil, sistem yang permisif, dan kebenaran yang datang terlambat. Di titik inilah Pro Bono menegaskan bahwa keadilan bukan hanya soal siapa yang bersalah, tetapi siapa yang berani mengungkap kebenaran sampai akhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team