Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Sejak kemunculannya di drakor Bloody Flower, Lee Woo Gyeom (Ryeo Un) langsung mencuri perhatian bukan hanya karena posisinya dalam kasus pembunuhan berantai, tetapi juga karena pernyataan-pernyataannya yang terdengar dingin, absurd, dan sulit dicerna akal sehat. Cara bicaranya yang tenang justru membuat setiap kalimat terasa semakin mengerikan.

Alih-alih menyangkal atau membela diri, Lee Woo Gyeom justru melontarkan pengakuan-pengakuan yang membuat publik, media, bahkan aparat penegak hukum meragukan kondisi mentalnya. Ada tujuh pernyataan yang paling sering dianggap “gila”, tetapi perlahan terbukti memiliki makna yang jauh lebih dalam. Berikut ketujuh pernyataan tersebut.

1. Mengaku membunuh korban tanpa tekanan

still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Lee Woo Gyeom secara terbuka mengakui bahwa dialah pelaku pembunuhan. Ia mengakui hal tersebut tanpa paksaan, tanpa negosiasi, dan tanpa emosi. Pengakuan ini terasa janggal karena tidak disertai penyesalan maupun upaya membela diri, seolah membunuh adalah tindakan yang netral baginya.

2. Mengaku ada 17 korban

still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Saat penyelidikan baru mengarah pada beberapa kasus, Lee Woo Gyeom dengan santai menyebut angka 17 sebagai jumlah korban sebenarnya. Pernyataan ini langsung dianggap delusi, karena data kepolisian belum mendukung klaim tersebut. Namun, seiring berjalannya cerita, angka itu menjadi petunjuk penting yang tidak bisa diabaikan.

3. Mengaku tahu siapa korban terakhir

still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Di tengah ketidakpastian kasus, Lee Woo Gyeom menyatakan bahwa ia tahu siapa korban terakhir. Ia menyatakan hal tersebut, bahkan sebelum pihak berwenang mengonfirmasi potensi korban berikutnya. Pernyataan ini membuat publik mengira ia sedang bermain-main dengan penyidik, padahal justru menunjukkan betapa terstrukturnya rencana yang ia susun.

4. Mengaku memang akan menyerahkan diri

still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Alih-alih tertangkap, Lee Woo Gyeom menegaskan bahwa ia sejak awal memang berniat menyerahkan diri. Pengakuan ini dianggap tidak masuk akal, karena bertentangan dengan naluri pelaku kejahatan pada umumnya. Namun, pernyataan ini mengisyaratkan bahwa penangkapan adalah bagian dari skenario yang sudah ia perhitungkan.

5. Mengaku sedang melakukan eksperimen

still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Salah satu pernyataan paling kontroversial adalah ketika Lee Woo Gyeom menyebut semua tindakannya sebagai eksperimen. Ia tidak menyebut dendam, amarah, atau motif pribadi, melainkan proses pengujian. Kata “eksperimen” inilah yang membuatnya dicap tidak waras oleh publik.

6. Mengakui semua lokasi jenazah

still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Tanpa ditanya secara detail, Lee Woo Gyeom mengaku mengetahui seluruh lokasi jenazah korban. Ia bahkan menyebutkannya dengan akurat, seolah sedang membaca peta yang sudah ia hafal di luar kepala. Ketepatan informasinya membuat aparat mulai mempertanyakan apakah ia benar-benar gila, atau justru terlalu sadar.

7. Mengaku eksperimennya berhasil

still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Pernyataan paling mengganggu muncul saat Lee Woo Gyeom menyatakan bahwa eksperimennya berhasil. Kalimat ini menimbulkan ketakutan baru, karena mengindikasikan bahwa tujuan utamanya bukan pembunuhan itu sendiri, melainkan hasil psikologis dan sosial yang ditimbulkannya.

Tujuh pernyataan ini membuat Lee Woo Gyeom dicap sebagai sosok gila dan tidak berperasaan. Namun, Bloody Flower dengan cerdas menunjukkan bahwa kegilaan tersebut mungkin hanyalah topeng dari kecerdasan ekstrem dan kritik tajam terhadap sistem. Di titik inilah penonton dipaksa bertanya: siapa sebenarnya yang gila, Lee Woo Gyeom, atau dunia yang ia uji lewat eksperimennya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team