5 Dampak Sasaeng terhadap Kesehatan Mental Do Ra Ik di Idol I

Drama Korea Idol I tidak hanya berbicara tentang hukum dan pembunuhan, tetapi juga menguliti sisi tergelap fandom yang kerap dinormalisasi. Lewat karakter Do Ra Ik (Kim Jae Young), drama ini memperlihatkan bagaimana kehadiran sasaeng, fans obsesif yang melampaui batas, tidak sekadar mengganggu privasi idola, melainkan meninggalkan luka psikologis yang dalam dan berjangka panjang.
Do Ra Ik digambarkan sebagai idol papan atas yang tampak sempurna di layar, tetapi rapuh di balik sorotan. Popularitas yang ia miliki justru menjadikannya sasaran empuk obsesi berlebihan. Idol I dengan berani menunjukkan bahwa teror mental dari sasaeng bisa sama berbahayanya dengan kekerasan fisik. Berikut lima dampak sasaeng terhadap kesehatan mental Do Ra Ik yang menjadi fondasi tragedi dalam drama ini.
1. Serangan panik yang terus berulang

Salah satu dampak paling nyata yang dialami Do Ra Ik adalah serangan panik. Ia kerap mengalami sesak napas, jantung berdebar, dan ketakutan irasional, terutama ketika merasa ruang pribadinya tidak aman.
Kehadiran sasaeng yang mampu masuk ke rumahnya membuat batas antara “aman” dan “ancaman” sepenuhnya runtuh. Idol I menampilkan serangan panik ini bukan sebagai kelemahan karakter, melainkan sebagai respons wajar terhadap trauma berkepanjangan.
2. Hilangnya rasa aman di ruang pribadi

Rumah seharusnya menjadi tempat berlindung terakhir. Namun bagi Do Ra Ik, rumah justru menjadi sumber ketakutan. Fakta bahwa sasaeng pernah masuk tanpa izin membuatnya terus hidup dalam kewaspadaan ekstrem.
Ia tidak lagi merasa aman saat sendirian, sulit tidur nyenyak, dan selalu merasa diawasi. Kehilangan rasa aman ini memperlihatkan bagaimana obsesi fans bisa mengubah ruang privat idola menjadi medan teror psikologis.
3. Isolasi emosional yang semakin parah

Tekanan dari sasaeng membuat Do Ra Ik semakin menarik diri dari lingkungan sekitar. Ia menjadi sulit percaya pada orang lain, bahkan pada rekan satu grupnya sendiri. Dalam Idol I, isolasi ini digambarkan sebagai mekanisme bertahan hidup.
Do Ra Ik memilih menyendiri bukan karena arogan, melainkan karena lelah dan takut. Sayangnya, isolasi ini justru memperburuk kondisi mentalnya dan membuatnya semakin rapuh saat tragedi terjadi.
4. Rasa bersalah yang tidak rasional

Menariknya, Idol I menunjukkan bahwa Do Ra Ik justru menyalahkan dirinya sendiri atas obsesi sasaeng. Ia merasa popularitasnya adalah penyebab semua teror yang ia alami.
Rasa bersalah ini membuatnya menerima perlakuan tidak manusiawi dari publik dan industri seolah-olah itu adalah konsekuensi wajar menjadi idol. Pola pikir ini berbahaya karena menormalisasi kekerasan psikologis dan menghapus hak idola atas rasa aman.
5. Trauma yang memperlemah daya tahan mental

Akumulasi tekanan dari sasaeng membuat daya tahan mental Do Ra Ik runtuh secara perlahan. Ia tidak hanya lelah secara emosional, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk melawan tuduhan yang diarahkan padanya.
Saat dituduh membunuh Kang Woo Seong (An Woo Yeon), kondisi mentalnya sudah berada di titik terendah. Trauma yang belum sembuh membuatnya tampak pasrah, bingung, dan mudah disalahpahami oleh publik maupun aparat hukum.
Pada akhirnya, Idol I menjadikan pengalaman Do Ra Ik sebagai kritik keras terhadap budaya fandom obsesif. Drama ini menolak narasi bahwa sasaeng hanyalah “fans yang terlalu sayang”. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa perilaku tersebut adalah bentuk kekerasan psikologis yang dapat menghancurkan individu secara perlahan.
Melalui Do Ra Ik, Idol I mengingatkan bahwa idola tetaplah manusia dengan batas, rasa takut, dan kebutuhan akan ruang aman. Popularitas tidak pernah menjadi persetujuan untuk kehilangan privasi. Kesehatan mental tidak seharusnya menjadi harga yang harus dibayar demi hiburan publik.



















