8 Diskriminasi Gender Hanmin di Undercover Miss Hong

- Pegawai perempuan harus melalui seleksi yang menguras fisik
- Pegawai perempuan hanya direkrut dari lulusan SMA
- Aturan ketat berlaku di dalam dan di luar kantor
Di balik citra Hanmin sebagai perusahaan sekuritas raksasa yang berpengaruh di Yeouido, Undercover Miss Hong justru membuka sisi gelap yang selama ini tersembunyi rapat. Bukan hanya soal manipulasi saham dan aliran dana gelap, tetapi juga sistem internal yang secara sistematis menempatkan perempuan dalam posisi paling rentan, terkontrol, dan mudah dikorbankan.
Melalui sudut pandang Hong Keum Bo (Park Shin Hye) yang menyamar sebagai karyawan perempuan level bawah, penonton diajak melihat bagaimana diskriminasi gender bukan sekadar isu personal, melainkan bagian dari budaya perusahaan yang dilembagakan. Berikut 8 bentuk diskriminasi gender Hanmin di Undercover Miss Hong yang memperlihatkan betapa timpangnya sistem yang dihadapi para pegawai perempuan.
1. Pegawai perempuan harus melalui seleksi yang menguras fisik

Proses rekrutmen pegawai perempuan digambarkan jauh lebih melelahkan dibandingkan pria, dengan tahapan seleksi yang menuntut fisik dan mental secara ekstrem. Alih-alih menilai kompetensi, sistem ini seolah menguji daya tahan dan kepatuhan. Diskriminasi ini menempatkan perempuan sejak awal sebagai objek seleksi, bukan subjek profesional. Dalam Undercover Miss Hong, tahapan ini menjadi pintu masuk ketidakadilan yang terus berlanjut.
2. Pegawai perempuan hanya direkrut dari lulusan SMA

Hanmin secara sengaja membatasi latar pendidikan pegawai perempuan hanya sampai lulusan SMA atau sederajat. Aturan ini menutup peluang perempuan berpendidikan tinggi untuk masuk dan berkembang. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Hanmin tidak menginginkan perempuan berpikir kritis atau memiliki daya tawar intelektual. Dalam narasi drama, aturan ini menjadi alat kontrol struktural yang sangat efektif.
3. Aturan ketat berlaku di dalam dan di luar kantor

Diskriminasi tidak berhenti di jam kerja, karena pegawai perempuan di Hanmin tetap diawasi bahkan di luar kantor. Cara berpakaian, perilaku sosial, hingga aktivitas pribadi menjadi bagian dari kontrol perusahaan. Perempuan kehilangan batas antara kehidupan profesional dan personal. Undercover Miss Hong menggambarkan bagaimana tubuh dan waktu perempuan sepenuhnya dimiliki sistem.
4. Hanya pegawai perempuan yang wajib mengenakan seragam

Seragam menjadi simbol paling nyata ketimpangan gender di Hanmin. Hanya pegawai perempuan yang diwajibkan mengenakan seragam, sementara pria bebas berpakaian profesional. Aturan ini menciptakan hierarki visual yang menegaskan siapa yang berada di posisi bawah. Dalam cerita, seragam tersebut bukan sekadar pakaian, melainkan penanda kelas dan kekuasaan.
5. Aturan penampilan yang sangat ketat bagi perempuan

Pegawai perempuan harus mematuhi aturan detail soal rambut, riasan, stocking, hingga kebersihan tubuh. Setiap penyimpangan kecil bisa berujung teguran atau hukuman. Tubuh perempuan menjadi objek pengawasan konstan. Undercover Miss Hong menunjukkan bahwa aturan ini bukan soal profesionalisme, melainkan upaya menundukkan dan menyeragamkan perempuan.
6. Perempuan hanya mengisi posisi rendah

Di Hanmin, perempuan hampir selalu ditempatkan di posisi administratif dan level bawah. Mereka jarang, bahkan nyaris tidak pernah, menduduki jabatan strategis. Struktur ini membuat suara perempuan tidak pernah sampai ke pengambil keputusan. Diskriminasi ini menegaskan bahwa Hanmin tidak pernah melihat perempuan sebagai pemimpin potensial.
7. Tidak ada jenjang karier dan mudah dikorbankan

Pegawai perempuan tidak memiliki jalur karier yang jelas, berbeda dengan rekan pria mereka. Ketika terjadi masalah, perempuan menjadi pihak pertama yang dimutasi, disalahkan, atau diberhentikan. Sistem ini menciptakan rasa takut permanen. Dalam Undercover Miss Hong, kondisi ini menjelaskan mengapa banyak pegawai perempuan memilih diam meski mengetahui ketidakberesan.
8. Perempuan dianggap usang setelah usia 30 tahun

Diskriminasi paling brutal terlihat pada batas usia tidak tertulis bagi pegawai perempuan. Setelah usia 30 tahun, banyak dari mereka dimutasi ke posisi tidak strategis atau dipecat secara halus. Perempuan diperlakukan sebagai aset sementara, bukan sumber daya jangka panjang. Undercover Miss Hong dengan tajam mengkritik praktik ini sebagai bentuk kekerasan struktural yang dilegalkan.
Melalui delapan bentuk diskriminasi ini, Undercover Miss Hong tidak hanya menghadirkan thriller investigasi, tetapi juga potret sosial yang getir tentang dunia kerja yang bias gender. Hanmin digambarkan sebagai simbol sistem patriarkal modern yang rapi di permukaan tapi kejam di dalam.


















